POJOKSULSEL, JAKARTA - Deru roda ojek online (Ojol) tak pernah berhenti di jalanan ibu kota. Namun di balik kesibukan itu, risiko besar selalu mengintai. Peristiwa pada 28–29 Agustus 2025 jadi pengingat pahit: tiga mitra Grab menjadi korban, dua luka serius dan satu meninggal dunia.
Aji Pratama, pengemudi GrabFood, terkena peluru karet di wajah hingga harus menjalani operasi hidung. Sejak hari pertama, Grab mendampingi penuh, menanggung biaya medis, hingga membantu administrasi rumah sakit agar keluarga tak terbebani.
Nasib serupa dialami Moh Umar Amarudin. Ia cedera parah akibat terinjak massa saat ricuh di Jakarta Barat. Grab hadir hingga dini hari, mengurus biaya operasi, menyediakan perangkat kerja baru, sampai memberi dukungan finansial bagi keluarganya.
Baca Juga: Zulfajri Basri Hasanuddin Jadi Bacalon Keenam Rektor Unhas, Punya Rekam Jejak 8 Tahun di Unsulbar
Kisah paling memilukan datang dari Affan Kurniawan. Ia tewas tertabrak kendaraan taktis saat demo.
Grab bersama Gojek hadir di rumah duka, memberikan santunan, pendampingan hukum, hingga mengikuti prosesi pemakaman.
Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy, menegaskan kehadiran Grab bukan sebatas santunan.
Baca Juga: Penerima Beasiswa Pemprov Sulsel Diumumkan 31 Agustus, Kuota Terbanyak untuk Jenjang S1
“Kami berdiri bersama mitra, memastikan hak mereka terlindungi, bahkan hingga pendampingan hukum bila dibutuhkan,” ujarnya.
Dalam musibah ini, Grab bergerak di tiga lapisan: memastikan perawatan medis, memberi bantuan finansial dan material, serta menghadirkan pendampingan hukum dan moral. Kehadiran itu menjadi simbol empati yang tak bisa diukur angka.
Peristiwa ini menegaskan bahwa profesi ojol sarat risiko. Namun di balik duka, solidaritas hadir nyata. Musibah ini menjadi pengingat bahwa di balik roda yang terus berputar, ada manusia yang harus dijaga.
***




