MAKASSAR, SULSEL.POJOKSATU.id - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sulawesi Selatan, H Ali Yafid, melantik dan mengambil sumpah jabatan 164 pejabat fungsional di Aula Kanwil Kemenag Sulsel, Rabu (28/10/2026).

Dalam pelantikan tersebut, Ali Yafid mengingatkan para aparatur sipil negara (ASN) agar tidak hanya berorientasi pada kenaikan jenjang karier, tetapi juga memperkuat kompetensi, menjaga integritas, terus berinovasi dan menjalankan amanah melalui kinerja yang berdampak bagi masyarakat.

Dari total pejabat yang dilantik, sebanyak 76 orang merupakan Penyuluh Agama Ahli Madya dan 73 orang Penyuluh Agama Ahli Muda. Sementara itu, 15 pejabat lainnya berasal dari unsur guru, penghulu, pengawas sekolah, analis sumber daya manusia aparatur, dan pranata komputer.

Pelantikan ini menjadi momentum bagi para pejabat fungsional untuk meningkatkan profesionalisme sekaligus memperkuat kualitas pelayanan di lingkungan Kementerian Agama Sulawesi Selatan.

Ali Yafid Tekankan Kompetensi dan Pengembangan Karier ASN

Ali Yafid menegaskan, peningkatan jenjang jabatan harus diiringi dengan pengembangan kompetensi. Menurutnya, karier yang terus berkembang perlu dibarengi kemampuan untuk menghasilkan kinerja yang semakin baik.

Ia pun mendorong para pejabat fungsional untuk memanfaatkan peluang pengembangan diri dan berani menghadirkan inovasi dalam menjalankan tugas.

“Silakan teman-teman berinovasi untuk memajukan dirinya,” pesannya.

Menurut Ali Yafid, jabatan yang lebih tinggi semestinya menjadi dorongan untuk terus belajar, bukan alasan untuk berpuas diri. Perubahan posisi dalam organisasi perlu diikuti perubahan pola pikir, peningkatan semangat kerja, serta kontribusi yang lebih nyata.

Karena itu, setiap ASN diharapkan mampu membaca peluang pengembangan karier sesuai ketentuan yang berlaku. Peningkatan kompetensi juga perlu diwujudkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada pencapaian individu.

Integritas ASN Harus Terlihat dari Tanggung Jawab

Selain kompetensi, Ali Yafid menyoroti pentingnya integritas dan amanah sebagai fondasi kerja aparatur Kementerian Agama.

Nilai tersebut dinilai semakin penting bagi pejabat yang berhubungan langsung dengan masyarakat, terutama penyuluh agama, guru, dan penghulu. Mereka tidak hanya dituntut menjalankan tugas secara profesional, tetapi juga menunjukkan keteladanan melalui perilaku sehari-hari.

Ali Yafid menekankan bahwa tanggung jawab tidak semestinya bergantung pada pengawasan pimpinan. Kesadaran untuk menuntaskan pekerjaan dan mempertanggungjawabkan hasilnya harus tumbuh dari diri setiap ASN.

“Kalau orang sadar dengan sendirinya, mau ada pimpinan atau tidak ada, pekerjaannya tetap selesai dan bisa dipertanggungjawabkan. Itu yang harus kita lakukan,” tegasnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa integritas bukan sekadar nilai yang disampaikan dalam kegiatan seremonial. Integritas perlu tercermin dalam kedisiplinan, konsistensi bekerja, dan kesediaan menjalankan tanggung jawab tanpa harus terus-menerus diawasi.

Bagi pejabat fungsional, sikap tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan Kementerian Agama.

Dorong Digitalisasi dan Inovasi Pelayanan

Ali Yafid juga mendorong transformasi pola kerja di lingkungan Kemenag Sulsel melalui digitalisasi, pemanfaatan teknologi, dan penguatan kolaborasi.

Ia mengingatkan agar aparatur tidak terjebak dalam pola kerja monoton. Sebaliknya, ASN perlu mengembangkan cara kerja yang lebih efektif, inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Pemanfaatan teknologi diharapkan menjadi salah satu upaya untuk mendukung pelaksanaan tugas yang lebih baik. Namun, transformasi tersebut juga membutuhkan perubahan pola pikir dan kemauan untuk terus meningkatkan kemampuan.

Dalam konteks pengembangan karier, kenaikan jabatan seharusnya tidak hanya membawa perubahan bagi individu yang bersangkutan. Peningkatan kapasitas aparatur juga perlu memberikan dampak terhadap kinerja organisasi dan kualitas pelayanan publik.

Dengan demikian, kompetensi, integritas, dan inovasi menjadi unsur yang saling berkaitan dalam mendukung pelaksanaan tugas ASN di lingkungan Kementerian Agama Sulawesi Selatan.

Ali Yafid: Syukur Harus Dirasakan Orang Lain

Lebih jauh, Ali Yafid mengingatkan bahwa pencapaian karier perlu diiringi rasa syukur yang diwujudkan melalui tindakan nyata.

Menurutnya, rasa syukur tidak cukup diungkapkan secara lisan atau disimpan sebagai perasaan pribadi. Syukur seharusnya terlihat dari manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain melalui pekerjaan dan pengabdian.

“Syukur itu adalah sudah mengucapkan Alhamdulillah, sudah tembus dengan hatinya, tapi sudah dirasakan oleh orang lain,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang ASN tidak semata-mata diukur dari jabatan atau jenjang karier yang berhasil diraih. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari kontribusi, tanggung jawab, dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Jabatan yang diemban merupakan amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Karena itu, setiap pencapaian perlu menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus memperluas manfaat pengabdian.