WAJO, SULSEL.POJOKSATU.id - Peringatan Hari Santri 2026 menjadi momentum untuk menyoroti besarnya peran pesantren dalam pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Hingga Oktober 2026, Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel mencatat 4.691 lembaga pendidikan diniyah dan pondok pesantren dengan total 184.702 santri dan santriwati.

Data tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, saat upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Lapangan Merdeka Sengkang, Kabupaten Wajo, Kamis (22/10/2026).

Ribuan lembaga pendidikan tersebut didukung 9.465 tenaga pendidik. Rinciannya meliputi 424 pondok pesantren umum, 474 Madrasah Diniyah Takmiliyah, dan 3.727 Lembaga Pendidikan Al-Qur'an, serta lembaga pendidikan keagamaan Islam lainnya.

Besarnya jumlah santri dan lembaga pendidikan itu menunjukkan luasnya jangkauan pendidikan keagamaan Islam di Sulawesi Selatan. Pesantren tidak hanya berperan dalam pembelajaran agama, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter dan pengembangan sumber daya manusia.

Dalam laporannya, Ali Yafid turut memaparkan sejumlah program penguatan pesantren yang dijalankan Kemenag Sulsel, mulai dari kemandirian ekonomi hingga perlindungan santri.

Pada periode 2022-2025, Kemenag Sulsel telah menyalurkan bantuan inkubasi bisnis kepada 91 pondok pesantren. Program tersebut ditujukan untuk mendorong pengembangan usaha produktif dan memperkuat kemandirian ekonomi lembaga pendidikan Islam.

Di bidang perlindungan santri, sebanyak 145 pondok pesantren ditetapkan sebagai proyek percontohan Pesantren Ramah Anak pada 2026. Program ini diarahkan untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman serta mencegah kekerasan di lingkungan pesantren.

Kemenag Sulsel juga mendorong gerakan ekoteologi melalui penanaman pohon, Eco-Pesantren, dan pengembangan pesantren hijau. Upaya tersebut dilakukan untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan.

Sementara itu, prestasi santri Sulawesi Selatan turut terlihat dalam Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Malang, Jawa Timur.

Kontingen Sulsel yang terdiri atas 32 peserta dan empat pendamping berhasil meraih sejumlah penghargaan, termasuk tiga Juara II pada cabang lomba yel-yel putra serta kategori tenda K3 putra dan putri.

Ali Yafid menekankan pentingnya melanjutkan penguatan kelembagaan, meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas kemandirian ekonomi, dan memperkuat perlindungan santri.

Menurutnya, berbagai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama jajaran Kemenag Sulsel, Kemenag kabupaten/kota, pimpinan pesantren, tenaga pendidik, dan para santri.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian lingkungan, sekaligus mendorong lahirnya generasi santri yang berkarakter dan mampu menjawab tantangan zaman.