POJOKSATU.id, POLEWALI MANDAR - Forum Bahtsul Masail Pimpinan Pondok Pesantren dan Kiai se-Sulawesi Barat itu diikuti 48 peserta dari 16 pondok pesantren dan perguruan tinggi. Mereka membahas persoalan BBM bersubsidi hingga pelestarian budaya Mandar melalui forum Bahtsul Masail.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026 tersebut digelar di Pondok Pesantren Darul Mahfudz, Lekopa’dis, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar.
Dua isu utama yang dibahas adalah dilema distribusi dan transaksi BBM bersubsidi di Sulawesi Barat serta keselarasan nilai-nilai syariah dengan tradisi budaya Mandar, Messawe to Tammaq.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dikaji kalangan pesantren tidak terbatas pada masalah ibadah, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi, keadilan sosial, dan pelestarian kearifan lokal.
Dalam persoalan BBM bersubsidi, para peserta mengkaji isu distribusi dan transaksi dari sudut pandang hukum Islam. Persoalan ini berkaitan dengan keadilan dalam pemanfaatan subsidi serta tanggung jawab dalam menjalankan aktivitas ekonomi yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Sementara itu, pembahasan tradisi Messawe to Tammaq diarahkan pada upaya memahami hubungan antara nilai-nilai syariah dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat Mandar.
Melalui kajian tersebut, forum ini menjadi wadah untuk mendiskusikan bagaimana prinsip keagamaan dapat digunakan dalam membaca persoalan kontemporer tanpa mengabaikan kondisi sosial dan tradisi masyarakat setempat.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat turut hadir dalam pembukaan kegiatan bersama Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam (PAPKIS), Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Polewali Mandar, Ketua Tim Kerja Pondok Pesantren dan Ma’had Aly, serta Ketua Tim Bina Syariah.
Dalam arahannya, Kakanwil Kemenag Sulbar menekankan pentingnya Bahtsul Masail sebagai ruang pembelajaran intelektual bagi para santri. Forum ini tidak sekadar mempertemukan pandangan para ulama, tetapi juga memperkenalkan proses perumusan keputusan keagamaan yang berlandaskan kajian ilmiah dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia mengingatkan bahwa persoalan krusial harus dikaji secara cermat melalui penelaahan dalil, pendalaman referensi keislaman, serta pertukaran pandangan dengan melibatkan ulama dan pakar sesuai bidang keilmuan.
Dengan proses tersebut, keputusan keagamaan diharapkan tidak diambil secara tergesa-gesa, tetapi mempertimbangkan landasan syar’i dan kemaslahatan umat.
Pesan ini juga relevan bagi generasi santri di tengah derasnya arus informasi digital. Tradisi Bahtsul Masail mengajarkan pentingnya memeriksa sumber, menguji argumentasi, serta menghargai perbedaan pandangan sebelum menarik kesimpulan.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang dapat berkontribusi dalam menjawab persoalan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Pertemuan pimpinan pesantren dan perguruan tinggi tersebut juga membuka ruang pertukaran pengetahuan serta penguatan kolaborasi antarlembaga pendidikan keagamaan.
Sejalan dengan program Asta Protas Kementerian Agama, khususnya pemberdayaan pesantren dan layanan keagamaan berdampak, forum ini diharapkan mendorong tradisi keilmuan pesantren agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui momentum Hari Santri 2026, Bahtsul Masail di Sulawesi Barat diharapkan menjadi ruang pengembangan pemikiran keislaman yang kontekstual, sekaligus memperkuat kontribusi pesantren dalam membangun kehidupan masyarakat yang berkeadilan dan tetap menghargai kearifan lokal.






