POJOKSULSEL, MAKASSAR — Dua sosok calon jemaah haji dari Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi sorotan dalam musim haji tahun 2025.

Keduanya adalah calon jemaah haji tertua dan termuda yang menunjukkan potret keberagaman usia dalam ibadah haji dari Sulsel tahun ini.

Adalah Sulaeman Rotte Bagulu, pria asal Kabupaten Pinrang yang tercatat sebagai calon jemaah haji tertua Sulsel 2025.

Baca Juga: Ribuan Honorer Kabupaten Maros Ikuti Seleksi PPPK, Pemkab Dorong Skema Paruh Waktu

Di usianya yang menginjak 102 tahun, kakek kelahiran 31 Desember 1922 itu tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 2 bersama rombongan dari Pinrang.

Sementara itu, jemaah haji termuda berasal dari Kabupaten Wajo. Hasnidar Anwar Lasila, gadis kelahiran 25 Februari 2007, berusia 18 tahun, siap berangkat menunaikan ibadah haji bersama Kloter 37.

Keberangkatan Sulaeman dan Hasnidar di tengah ribuan jemaah lainnya menjadi inspirasi sekaligus pengingat bahwa panggilan ke Tanah Suci adalah anugerah, tak memandang usia, asal daerah, atau latar belakang.

Baca Juga: Kepemimpinan adalah Pengaruh: Catatan Hari Kedua Senior Leadership Program

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafdi menyatakan kesiapan Embarkasi Makassar dalam melayani 15.856 calon jemaah haji dari delapan provinsi.

“Alhamdulillah, saat ini kesiapan asrama haji Embarkasi Makassar baik dari sisi sarana maupun teknis sudah 99 persen. Inspeksi juga telah dilakukan oleh pihak-pihak terkait. InsyaAllah, kami siap menerima para jemaah,” ujar Ali Yafid usai Apel Siaga Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Haji Embarkasi Makassar, di Asrama Haji Makassar, Rabu (30/4/2025).

Menurut Ali Yafid, tidak ada perubahan signifikan pada penyelenggaraan ibadah haji di sisi embarkasi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini karena sistem one stop service yang telah diterapkan sejak dua tahun terakhir, dinilai sangat efektif.

Baca Juga: Misi Besar Unhas Kawal Unsulbar Jadi PTN BLU, Mendiktisaintek Ingatkan Rektor Berpikir Layaknya CEO

“Seluruh layanan jemaah haji kini dilakukan dalam satu atap, bahkan dalam satu ruangan. Dampaknya sangat positif, waktu penerimaan jemaah bisa dipangkas dari empat jam menjadi dua jam,” jelasnya.

Namun demikian, terdapat sejumlah perubahan kebijakan di Arab Saudi yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah pelaksanaan tanazul, murur, dan safari wukuf di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang tertuang dalam surat edaran Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

 ***