POJOKSULSEL, MAKASSAR - Sebanyak 21 dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) resmi menerima amanah sebagai wakil dekan yang tersebar pada enam fakultas.

Pelantikan 21 wakil dekan lingkup Universitas Muslim Indonesia disaksikan oleh Rektor UMI Prof. Hambali Thalib dan Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI Prof. Masrurah Mokhtar.

Pelantikan puluhan pejabat UMI itu berlangsung khidmat di Auditorium Al Jibra Kampus 2 Universitas Muslim Indonesia, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Senin (27/4/2026).

Pelantikan wakil dekan lingkup UMI dilanjutkan dengan ikrar pakta integitas yang memuat 10 poin dipimpin oleh Wakil Dekan 3 Fakultas Agama Islam Dr Suradi.

Rektor UMI Prof Hambali Thalib mengatakan, menegaskan, jabatan sebagai wakil dekan merupakan tempat semua persoalan bermuara, baik itu dari mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan

"Di situlah diuji sebagai pejabat atau hadir sebagai pelayan amanah. Amanah bukan untuk dinikmati tapi untuk ditunaikan," ujar Hambaki Thalib.

Baca Juga: Perum BULOG Sulselbar Usulkan Pembangunan Gudang Baru di 11 Titik, Ini Lokasinya

Pada kesempatan yang sama, Prof. Hambali Thalib mengingatkan sejumlah poin penting kepada para wakil dekan yang baru dilantik.

Pertama adalah para wakil dekan diminta untuk memberikan pelayanan prima kepada mahasiswa. Tidak jarang dijumpai fenomena pejabat kampus yang terkadang abai memberikan pelayanan terhadap mahasiswa

"Ke depan ingin membangun budaya berbeda menyambut kedatangan mahasiswa dengan menyelesaikan masalahnya dengan cepat," ungkapnya.

Prof. Hambali Thalib meminta kepada para pejabat yang baru dilantik untuk mengedepankan keteladanan sebagai pejabat. UMI telah menerapkan kebijakan absensi berbasis ibadah. Ini bukan sekadar aturan administratif, ini adalah upaya menjadikan kampus ini sebagai kampus ilmu dan ibadah.

"Maka jangan kita suruh, tapi mari kita menjadi yang pertama mengerjakannya," katanya.

Baca Juga: Kisah Menginspirasi Daeng Lipung, Penjual Ikan Keliling yang Kini Jadi Tamu Allah

Hal lain yang menjadi point penekanan Rektor UMI adalah persoalam kinerja. Menurutnya, UMI tidak tidak kekurangan orang pintar dan tidak kekurangan ide. Tapi kita kurang bekerja tuntas.

Hanya saja, terkadang lupa untuk menuntaskan apa yang telah dimulai. Karena itu, saatnya mengubah cara kerja, yaitu tidak cukup hanya bekerja keras melainkan harus dibarengi dengan bekerja tuntas.

Contohnya adalah meningkatkan jumlah mahasiswa baru UMI yang harus menjadi pekerjaan bersama. Jangan hanya dibahas di ruang rapat. Melainkan harus bergerak ke lapangan dan membangun kepercayaan kepada masyarakat.

"Karena kampus besar bukan hanya karena gedungnya, tapi karena sumber daya manusianya yang dipercaya masyarakat," katanya.

Pada kesempatan itu, Prof Hambali Thalib juga menggarisbawahi terntang loyalitas. Loyalitas bukan berarti kita tidak boleh kritis, tetapi loyalitas adalah saat kita tetap bersama dengan satu tujuan, yaitu kemajuan institusi.

"Loyalitas itu tetap bekerja dengan baik meskipun tidak dilihat dan menjaga nama baik kampus di luar. Kemudian, integritas, fakta integritas jangan hanya jadi formalitas tapi janji kepada institusi, masyarakat dan kepada Allah," ungkapnya.

Baca Juga: Indo Rampa Hilang di Hutan Palopo

Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof Masrurah Mokhtar, mengingatkan para wakil dekan tentang pentingnya satunya kata dengan perbuatan.

Prof Masrurah Mukhtar juga menyoroti terkait 10 pakta integritas yang diikrarkan oleh para wakil dekan.

Ia meminta, supaya pakta integritas tersebut diamalkan dalam mengemban amanah sebagai pejabat UMI.

"Saya kira dipelajari baik-baik pakta integritas, 90 persen itu sudah luar bisa mencakup dunia akhirat ," katanya. ***