POJOKSULSEL, MAKASSAR - Dinamika dunia digital kembali menegaskan bahwa cara masyarakat membaca berita sudah berubah. Di ruang diskusi Communication Meet The Expert yang digelar di Enreco Coffee, Sabtu (15/11/2024), Direktur Utama Dayadigital.id, Muhammad Alwi, mengajak mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) untuk melihat ulang bagaimana media massa bekerja di era ketika informasi mengalir tanpa henti di media sosial.
Menurut Alwi, yang juga lulusan Ilmu Komunikasi UMI, kebiasaan generasi Z dan Alfa dalam mengonsumsi informasi memaksa media bertransformasi. Mereka cenderung menyukai konten pendek, cepat, dan mudah dicerna, jauh berbeda dari pola baca generasi sebelumnya.
Ia menilai media sosial memainkan peran besar dalam perubahan tersebut. Bukan sebagai pesaing untuk dijauhi, melainkan ruang yang harus dimanfaatkan oleh media untuk memperkuat distribusi dan daya jangkau berita. Diskusi ini disambut antusias oleh mahasiswa Ilmu Komunikas UMI.
Baca Juga: Ustaz Dasad Latif Bangga Pernah Kuliah di UIN Alauddin Makassar, Titip Pesan Ini kepada Mahasiswa
“Sekarang orang membuka ponsel bukan untuk mencari portal berita dulu, tapi platform media sosial. Kalau media tidak ikut pola ini, mereka akan tertinggal,” ujar Alwi dalam diskusi tersebut.
Ia menekankan bahwa reporter digital tidak cukup hanya bisa menulis. Literasi yang kuat, dari verifikasi informasi hingga memahami karakteristik platform—menjadi syarat dasar agar berita tetap relevan di tengah lautan konten cepat.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Komunikasi dan Multimedia UMI, Muhammad Idris, menyebut pertemuan langsung dengan praktisi membuat mahasiswa bisa membayangkan secara konkret kondisi industri media hari ini.
Baca Juga: Hadiri Milad 113 di Bandung, Jusuf Kalla Beber Tiga Pilar Muhammadiyah Jadi Kunci Majunya Bangsa
Bagi mahasiswa, sesi ini memberikan gambaran nyata tentang tantangan yang akan mereka hadapi. Nur Hikmah mengaku lebih memahami alasan mengapa jurnalisme digital menuntut kecepatan sekaligus ketelitian.
Sementara itu, peserta lain, Nur Intan, merasa materi ini membuka perspektif baru tentang peran jurnalis di tengah arus informasi yang semakin visual dan dinamis.
Acara tersebut menjadi ruang penting untuk menghubungkan pemahaman akademik dengan realitas lapangan, sekaligus mengingatkan bahwa media, untuk tetap hidup, harus peka pada perubahan cara publik menerima informasi. ***




