UNDANGAN dari sang sutradara berambut gonrong Film Rantemario, Indra J Mae masuk di whatsapp saya malam sebelumnya. Rencananya crew dan talent Film Rantemario akan briefing. Juga akan hadir Executive Produser Andi Rukman Nurdin Karumpa. Wah, kesempatan berkumpul dengan sineas Makassar yang idenya kadang "gila" jangan terlewatkan.
Pagi saya bergegas ke markas produksi Film Rantemario di Jalan Hertasning, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sineas Makassar yang berada di belakang layar Film Rantemario adalah sahabat-sahabat saya.
Sineas Makassar yang saya ingin temui hari itu adalah tim solid dari beberapa karya yang sudah ditelorkan sang sutradara "berotak" kritis Indra J Mae. Tim di Film Rantemario adalah sineas Makassar yang bertahan dan mampu survive dari beberapa karya monumental sebelumnya.
Baca Juga: Sebelum Vonis, Haris Yasin Limpo Bacakan Duplik Terkait Kasus PDAM
Sebelum Film Rantemario, sebut misalnya Film Benang Merah yang berlatar belakang sosial budaya di Kabupaten Jeneponto. Film Benang merah mengangkat realitas budaya Makassar di Jeneponto.
Alhasil, Film Benang Merah ini mendapat beberapa penghargaan di ajang festival film internasional. Beberapa lencana internasional pun didapatkan Film Benang Merah. Saya pun bangga mengatakan, "Itu film teman saya yang bikin... hahaha."
Indra J Mae bersama timnya kemudian meproduksi Film Tanah Batu Pare. Film Tanah Batu Pare ini lagi lagi mengangkat latar belakang budaya. Tepatnya di daerah Kalumpang, Sulawesi Barat (Sulbar).
Baca Juga: Simak Tugas Warek UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis Ingin Akreditasi Unggul
Film Tanah Batu Pare bergenre dokudrama bercerita persoalan sosial dan perlindungan hak-hak masyarakat adat di Kalumpang. Di beberapa kalangan sineas Makassar, sutradara yang sekaligus penulis naskah Indra J Mae, kadang idenya dianggap nyeleneh.
Produksi dilanjutklan dengan Film Selimut Kabut Rongkong. Lagi lagi, Film Selimut Kabut Rongkong ini berlatar belakang sosial dan budaya di daerah terpencil di Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulsel. Film Selimut Kabut Rongkong ini bercerita masalah sosial dengan perjuangan masyarakat adat akan hak-haknya.
Baca Juga: Luar Biasa! Inilah 9 Jalan Provinsi Sepanjang 689 Km Dibangun Era Andi Sudirman Sulaiman
Film Selimut Kabut Rongkong pun didapuk sejumlah penghargaan internasional dan selanjutnya menebus layar lebar alias bioskop di Indonesia. Dari semua film yang diproduksi dalam beberapa tahun belakangan ini, saya sangat mengetahui isi dapur sang nakhoda Indra J Mae.
Perjuangan sineas Makassar untuk terus menjadikan film sebagai wadah perjuangan idealisme mereka melewati banyak dinamika. Kadang kami bertemu menyeruput secangkir kopi dalam satu meja, tanpa bicara.
Baca Juga: Money Politics: Popularitas, Kredibilitas, dan Kualitas Nomor 10, Isi Tas Nomor 1
Kadang pula, belum motor diparkir bagus, rambut kriwil Indra J Mae sudah terhambur entah kemana. Seolah rambut itu cari selamat dari acak acak tangan tuannya yang sedang gusar. "Begini om Cang.... bla... bla," kata Indra J Mae memulai pembicaraan kegusaraannya.
"Senangku, Alhamdulillah...," kata Indra J Mae suatu waktu. Jika nadanya begitu, saya pun menyambutnya dengan sumringah. Segera kopi hitam pekat, plus gula merah Bontocani dari Kabupaten Bone, kesukaan Indra J Mae saya sajikan. Hari itu pasti saya akan dapat kabar gembira dengan cerita teman ngobrol yang bersemangat.
Baca Juga: Siap-siap!! Kejaksaan Akan Buka Pendaftaran, Terima 7.846 CPNS
Nah, kita kembali ke Film Rantemario. Vespa Excel buatan tahun 1995 kupacu dengan suara cemprengnya ke markas produksi Film Rantemario. Ops, dari jauh, saudara saya si kriwil Indra J Mae terlihat jongkok di atas penutup got samping sekolah di dekat motor matiknya.
"Anak-anak belum datang, mereka bawa kunci," kata Indra J Mae. Jadilah kami berdua ngobrol di depan markas produksi Film Rantemario sambil menunggu kunci rumah dikirim Astrada Film Rantemario Yamin Yunus melalui jasa pak ojol.
Setelah urusan kunci selesai, kami langsung menuju ruang di belakang, dekat dapur. Ruang kecil yang dilengkapi meja dan kursi peninggalan siswa TK. Maklum, markas produksi Film Rantemario dulunya adalah sekolah TK.
Baca Juga: SAH! Inilah Nama-Nama Wakil Rektor dan Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Makassar Periode 2023-2027
Di dinding toilet, masih tertempel tata cara petunjuk makan dan sesudah makan untuk anak TK. "Kita ngopi dulu Om Cang," kata Indra J Mae.
Bersyukur, saya dapat kopi hitam pagi ini. Beberapa saat saya menunggu, saya liat sang Sutradara Indra J Mae belum juga menjerang air panas. Malah dia sibuk menjadi clening service. Mengelap meja dan pantry, cuci gelas dan piring kotor, merapikan tata letak barang, rak telur kosong dibuang, menyapu, dan mengepel. Kopi kapan dibikin?
"Saya bersih bersih dulu Om Cang," kata Indra J Mae. Seolah mengerti keresahan saya yang menunggu kopi panas hitam, Indra J Mae pun menjeda kesibukannya. Tidak lama kemudian, kopi hitam tersaji.
Baca Juga: Inilah 12 Mantan Koruptor di Pemilu 2024, Ada dari Sulsel? Siapa Dia, ICW Bongkar Semua
Setelah bersih bersih, kopi tersaji, apakah obrolan sudah bisa dimulai? Belum ternyata. Ternyata Indra J Mae masih harus melakukan ritual lanjutannya. Buka laptop, nyalakan speaker kecil yang selalu dia bawa, dan putar musik.
Indra J Mae mulai bercerita soal dapur produksi Film Rantemario. Hampir semua teman teman di tim produksi Indra J Mae, menganggap saya orang di badan alias orang dalam. Sehingga isi jeroan setiap produksinya pun kadang saya tau.
Dari obrolan pagi itu, kembali saya mengatakan bahwa sineas Makassar masih harus terus berkarya, berproduksi dengan kualitas baik. Karya film independen untuk kepentingan festival maupun untuk film komersial.
Baca Juga: Erisoya dan Lencana PSM Makassar Sejati
Film Rantemario dipersiapkan sebagai film komersil yang ditarget masuk bioskop dengan nilai nilai sosial, budaya, dan lingkungan yang selalu menjadi warna dari semua film yang naskahnya dibuat Indra J Mae.
Menjelang siang, satu persatu crew dan talent Film Rantemario mulai berdatangan. Suasana semakin ceria dengan berbagai karakter talent Film Rantemario yang datang. Dadanan atau rias wajah dan fashion mereka berbeda, termasuk wangi parfumnya.
Suasana semakin ramai. Obrolan dengan crew dan talen Film Rantemario pun beragam. Dari usia belasan hingga mereka yang mengasosiasikan diri sebagai Penat aliat Pendaki Nafas Tua.
Baca Juga: Pekan Raya Sulsel 2023, Misi Dagang Komoditi Andalan Lewat Interaksi Dunia Usaha
Executive Produser Andi Rukman Nurdin Karumpa yang hadir menyempatkan diri memberikan nasihat layaknya orangtua kepada anak anaknya akan keiklasan dalam berkarya. Andi Rukman Nurdin Karumpa mengatakan, membuat karya terbaik kadang perjalannya tidak mudah. Tapi jika berhasil melawatinya dengan sabar, karya terbaik akan lahir.
Tidak lupa Andi Rukman Nurdin Karumpa juga menitipkan semangat dan falsafah Bugis, Empa Sulapa' sebagai bekal hidup dan bekerja sama dalam tim Film Rantemario.
Baca Juga: Resmob Polda Sulsel Tangkap Pengedar Sabu Asal Kutai Timur di Tempat Wisata
Suasana semakin seru ketika, adrenalin Andi Rukman Nurdin Karumpa mulai gregetan ingin mengenang masa mudanya sebagai pemain teater. Andi Rukman Nurdin Karumpa pun menantang pemain utama Film Rantemario Ghita Putri Catleya beradu akting.
Riuhlah susana di ruangan sederhana itu. Selain Andi Rukman Nurdin Karumpa hadir pula Andi Amar Ma'ruf Putra Amran Sulaiman. Astrada Andi Agung Iskandar mengatakan, di Film Rantemario banyak memakai talent talent baru yang jam terbang bermain layar lebar masih minim.
Baca Juga: Silakan Daftar! Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI Gelar Lomba Musik Moderasi Beragama
"Butuh kerja ekstra untuk membentuknya. Paling utama dan penting adalah teman teman mau diatur dan mengikuti intruksi serta mengasah karakternya," kata Andi Agung Iskandar.
Usai pertemuan dengan Andi Rukman Nurdin Karumpa, beberapa talent terlihat masih betah duduk berdiskusi dengan Indra J Mae dan Andi Agung Iskandar. Di teras rumah markas produksi Film Rantemario, terpaksa kompor ala pendaki pun dikeluarkan untuk meracik langsung kopi di atas meja.
Baca Juga: Resmob Polda Sulsel Tangkap Pengedar Sabu Asal Kutai Timur di Tempat Wisata
Yah, sebagian besar kru memang masuk kategori pendaki uzur yang nafasnya sudah satu satu, bukan lagi nafas tua. Tapi masih suka minum bergelas gelas kopi pahit dan mengepulkan asap tembakau.(***)
Penulis: cang pasinringi
