NAMA Dr Alimin M.Ag berada di nomor pertama dalam Surat Keputusan (SK) Guru Besar Kementerian Agama Republik Indonesia. Tentu tidak ada yang bisa membayangkan capaian seorang Alimin yang mencapai puncak perjalanan akademiknya sebagai seorang "maha terpelajar" alias guru besar.

Tidak banyak yang mengetahui siapa sebenarnya Prof Dr Alimin. Tiba pada perjalanannya hari ini, sebagai guru besar dan hafiz 30 juz Alquran banyak orang tidak menyangka jika seorang Alimin adalah buta.

Yah, Prof Dr Alimin memang buta total sejak 2016, atau 7 tahun terakhir. Penglihatan menurun sejak belasan tahun lalu akibat penyakit retinitispigmentosa yang dideritanya.

Baca Juga: Komite Medik RSUD Andi Makkasau Bahas Waspada Bahaya Penyakit Stroke di acara Talkshow

Prof Dr Alimin buta yang bukan bawaan lahir, tapi karena penyakit. Tetapi dengan kekurangan indra penglihatannya, tetap bersemangat mengejar apa yang ingin dicapainya.

Hari ini, Prof Dr Alimin telah tiba pada capaian maksimal gelar akademiknya dengan keluarnya SK Guru Besar Kementerian Agama Republik Indonesia. Prof Dr Alimin menjadi guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

"Saya mengucapkan terimakasih atas doa dan apresiasi semuanya. Saya berdoa semoga kedepan kita semua senantiasa mendapat anugerah dari Allah SWT.
Aamiin Ya Rabbal Alamin," kata Prof Dr Alimin.

Baca Juga: IKN Akan Berdampak Positif Terhadap Perekonomian Masyarakat Kota Parepare

Prof Dr Alimin juga menyampaikan maaf jika tidak bisa merespons semua ucapan selamat yang dikirimkan padanya melalui media sosial, baik Whatsapp maupun Facebook, karena kondisinya yang terbatas.

Siapa Prof Dr Alimin? Jika diibaratkan, Alimin menjadi sosok inspiring from zero to hero. Beberapa waktu lalu, Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Dr Hamdan Juhannis mengulik kisah seorang Alimin pada pidato ilmiahnya saat pelantikan guru besar di kampusnya.

Hamdan Juhannis merupakan sahabat Alimin yang sama sama alumni UIN Alauddin. Prof Hamdan Juhannis sempat berkomunikasi dengan Prof Dr Alimin mengucapkan selamat.

"Nanti akan terbit buku saya yang berjudul 'Bersahabat dengan Takdir' beda dengan buku ta cappo (sapaan Alimin ke Hamdan) yang berjudul 'Melawan Takdir'," kata Alimin kepada Hamdan Juhannis.

Baca Juga: Chaidir Syam Buka MTQ Kabupaten Maros, Bupati Harap Musabaqah Jadi Motivasi Cinta Alquran

Selorohan Prof Alimin pun disambut canda Prof Hamdan Juhannis dengan tertawa. Lanjut, siapa Prof Dr Alimin?

Prof Dr Alimin lahir di Dusun Cempalagi, Desa Mallari, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone. Berdasarkan dokumen, Prof Dr Alimin lahir 25 Agustus 1969. Namun versi cerita ibunya adalah 14 Juni 1971 yang diceritakan bahwa Alimin lahir 20 hari menjelang Pemilu 1971.

Alimin merupakan anak ke-6 dari 8 bersaudara dari pasangan Halike dan Mastura. Alimin anak pertama laki-laki karena semua kakaknya perempuan. Status anak laki laki pertama itulah yang membuat tekanan orangtua, utamanya ayahnya, agar Alimin giat menuntut ilmu.

Diceritakan Prof Dr Alimin, ayahnya bernama Halike hanya tamatan SR (sekolah rakyat). Dulu setara sekolah dasar (SD). "Tapi dia jago tajwid (mengaji)," kisah Prof Dr Alimin.

Baca Juga: Pj Wali Kota Parepare Harap Sosialisasi Manfaat dan Prosedur BPJS Ketenagakerjaan Dimaksimalkan

Pernah lah suatu ketika, ayahnya bertanya ke Alimin, apa cita citanya kalau besar. "Saya jawab, loka mancaji paddare (saya mau jadi petani). Langsung bapak saya marah. Uraneko (kamu laki-laki)," kata Alimin menirukan ucapan ayahnya yang marah.

Halike berkeinginan besar semua anaknya bersekolah. Bapaknyalah motivasi besar mereka, delapan bersaudara, untuk bersekolah.

"Saking bangganya bapak saya sama sekolah, dua kakak perempuan saya hanya tamat SD. Ijazahnya dia tempel di dinding rumah. Bahkan ada ijazah kakak saya dikasi karton sebagai bingkai dan ditempel di dinding rumah," kata Alimin.

Baca Juga: Pemkab Maros Fokus Persiapan Logistik dan Mitigasi Bencana Hadapi Musim Hujan

Kehidupan Alimin kecil di kampung sebagai anak petani dengan delapan saudara tentunya tidak pernah ada dalam bayangan akan lahir seorang anak petani dari pasangan Halike dan Mastura seorang guru besar yang bergelar profesor.

Alimin kecil hidup sebagai petani dan pengembala. Diceritakan Prof Dr Alimin, bersama saudaranya mereka memelihara ternak disamping bertani. Sapi, kambing, ayam, dan bebek mereka pelihara di samping kesibukan mereka bertani dan bersekolah.

Alimin menyelesaikan pendidikan SD di SDN 41 Mallari (1977-1983) yang dilanjutkan di SMPN Awangpone (1983-1986). Pilihan melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan (SMA) nyaris pupus saat kondisi bapaknya jatuh sakit.

Baca Juga: Rahmat Sjamsu Alam Dorong Pemkot Parepare Aktif Penuhi Kepemilikan BPJS Kesehatan Warga

Sahabat ayahnya bernama Nongkeng yang kenal dengan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman kemudian membawa Alimin untuk dititipkan ke Panti Asuhan Masjid Raya atau Panti Asuhan Subaedi milik Anregurutta KH Djunaid Sulaiman di Kota Watampone.

Alimin kecil dibawa ke panti asuhan untuk belajar di Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. "Saya dititip di panti asuhan sebagai orang miskin. Memang miskin. Apalagi bapak saya sakit," kata Alimin.

Aroma kota langsung menyeruak dalam benak Alimin kecil. Begitu banyak pemandangan indah di sekitar panti asuhan yang membuat Alimin tergoda.

Maklum, Panti Asuhan Masjid Raya berada di tengah Kota Watampone dengan lingkungan Kelurahan Bukaka yang saat itu dikenal anak muda yang cukup "nakal."

Bergaul lah Alimin di lingkungan itu hingga membuat dia kadang pulang larut ke panti asuhan. Alimin kecil seolah mengalami culture shock melihat pergaulan kota.

"Kadang pulang tengah malam. Saya manjat tiang listrik untuk naik ke kamar asrama di lantai dua. Biasa kita nonton anak anak breakdance di pinggir toko. Kalau ada polisi, kita lari," kata Alimin mengenang.

Baca Juga: Ini Harapan Pj Wali Kota Parepare Kepada Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia

Sekadar diketahui, rentan tahun akhir '80-an, breakdance menjadi style anak muda di Kota Watampone saat itu. Kelurahan Bukaka, dimana Masjid Raya dan Panti Asuhan Subaidi berada hanya berjarak sekitar beberapa ratus meter dari pusat kota, pertokoan, dan taman Kota Watampone.

"Saya tiga kali dibotak karena dianggap nakal. Saya disanksi," kata Alimin. Sanki botak kepala adalah diperuntukkan bagi santri yang nakal di panti asukan.

Alimin dianggap semakin menjadi sehingga harus mendapat sanksi lebih berat. Sanksi lanjutan kemudian ternyata membuka jalan Alimin.

Bertepatan ketika Ma'had Hadits atau Pesantren Modern Biru mulai membuka kelas Madrasah Aliyah. Alimin disanksi dengan dimasukkan ke pesantren.

Baca Juga: Keren! Pelatihan Barista Sistem 3-in-1 di Kabupaten Maros Dorong Generasi Muda Jadi Wirausaha

Pesantren Modern Biru yang selanjutnya berubah nama menjadi Pesantren Modern Aljunaidiyah atau lebih dikenal dengan nama Pesantren Aljunaidiyah Biru, Bone.

Alimin disekolahkan di Madrasah Aliyah Pesantren Aljunaidiyah pada 1987-1990. Saat di Pesantren Aljunaidiyah, untuk memenuhi pembayaran bulanan kala itu, Alimin mendapat subsidi dari Panti Asuhan Masjid Raya.

Itulah juga kenapa nama Alimin saat mondok di Pesantren Aljunaidiyah diberi tambahan "Mesra". Sehingga menjadi Alimin Mesra.

Baca Juga: SELAMAT! Pj Wali Kota Akbar Ali Parepare Dianugerahi Penghargaan SMSI Award 2023

Mesra yang merupakan akronim dari Masjid Raya agar menjadi diffrensiasi Alimin karena untuk membedakan dirinya dengan Alimin yang lain. Jadilah namanya dikenal dengan Alimin Mesra.

"Waktu itu pembayaran bulanan pondok sebelas ribu rupiah (Rp11.000) ditambah beras lima belas liter (15 liter). Pembayaran saya disubsidi dari panti asuhan. Beras saya ambil dari kampung," cerita Prof Dr Alimin.

Sementara untuk memenuhi uang jajan, Alimin sebagai santri Pesantren Aljunaidiyah bersandar pada pasidekka (amplop sumbangan) saat dia ikut panggilan mengaji ketika ada orang meninggal. Juga panggilan barzanji.

Passidekka itulah yang menjadi uang tambahan dari Alimin saat mondok di Pesantren Aljunaidiyah.

Dari Pesantren Aljunaidiyah, Prof Dr Alimin melanjutkan pendidikan ke UIN Alauddin Makassar. Prof Dr Alimin menyelesaikan pendidikan di UIN Alauddin pada 1994.

Beruntung saat kuliah, Alimin mendapat beasiswa Supersemar. Kala itu, mahasiswa mendapat Rp40 ribu per bulan yang dibayar tiap tiga bulan sekali.

Baca Juga: SMSI Awards 2023, Andi Sudirman Sulaiman Dinobatkan sebagai Tokoh Progresif dan Inspiratif

Saat kuliah, dia mengingat hanya sekali bapaknya mengirimkan uang. Ketika itu, bapaknya sudah sembuh dari sakit, ikut saudaranya meratau ke Malaysia. Dari pendapatnya di tanah rantau, sekitar tahun 1990, bapaknya mengirimi dia uang Rp300 ribu.

Saat kuliah di UIN Alauddin, Alimin banyak dibantu oleh saudara saudaranya yang memilih bekerja lebih cepat.

Selesai kuliah di UIN Alauddin, Alimin kembali mengabdi di Pesantren Aljunaidiyah. Saat itu, tahun 1996 dia diutus Pesantren Aljunaidiyah mengikuti Pendidikan Kader Ulama (PKU) yang dilaksanakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel.

"Tapi saya tidak lanjut sampai akhir karena tahun 1997 saya ada panggilan karena lulus S2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta," kata Alimin.

Baca Juga: Adnan Purichta Ichsan Beri Perhatian Khusus 9 Kecamatan Dataran Tinggi Kabupaten Gowa Siaga Cuaca Ekstrem

Beruntung, lagi lagi Alimin mendapatkan beasiswa. Alimin berhasil menyelesaikan program S2 dan meraih gelar master pada 1999. Setelah meraih gelar master, dia pun langsung lolos menjadi dosen atau tenaga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sambil menjadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Alimin melanjutkan program S3 atau Program Doktoral di kampus itu yang berhasil diselesaikan pada 2008.

Saat penyelesaian program doktoralnya itulah Alimin sudah mengalami penurunan fungsi penglihatan. Tepatnya tahun 2005 matanya semakin rabun. Penyakit glukoma menderanya yang semakin parah. Beruntung Prof Dr Alimin berhasil menyelesaikan dan meraih gelar doktor.

Baca Juga: Pemkab Gowa Berlakukan Sekolah Daring Akibat Cuaca Ekstrem, Kepsek dan Pengawas Tolong Perhatikan Hal Ini

Penglihatannya sejak 2005 terus menurun drastis hingga Prof Dr Alimin buta total pada 2016. Prof Dr Alimin buta total.

Penurunan fungsi mata yang menuju buta tidak membuat Alimin berhenti. Terbukti, Prof Dr Alimin yang merupakan pakar atau ahli Tafsir Hadits ini berhasil membuat atau menciptakan Metode Mumtaz.

Metode Muntaz ini, kata Prof Dr Alimin, mepakan ilmu Nahwu Saraf dalam kemasan milenial. Metode Muntaz ini memberikan kesempatan berupa cara mudah belajar kitab kuning.

"Ini fun learning untuk mengatasi dua hal.
Sulit dan membosankan menjadi mudah dan menyenangkan," kata Prof Dr Alimin.

Berkat metode yang diciptakannya tersebut, Prof Dr Alimin sudah berkeliling ke ratusan pondok di seluruh Indonesia untuk mengajar. Kondisi kebutaannya tidak menghalangi Alimin berkeliling mengajar ke pesantren pesantren dan kepada siapa saja yang memanggilnya.

Baca Juga: Ciri-ciri Perkutut Bangkok yang Bersuara Merdu, Dijamin Makin Betah di Rumah Dengar Anggungannya

"Ini sudah merambah ke 13 provinsi di Indonesia. Kalau versi online sudah ke seluruh Indonesia. Dari penontonya sih ada dari Mesir, Thailand, dan lain lain. Tapi mungkin orang Indonesia juga yang ada di sana yang nonton," kata Alimin.

Awal kebutaan total yang dialaminya sejak 2016, seolah menjadi pemicu jika dirinya tidak boleh berhenti. Tepatnya 13 Juli 2016, Prof Dr Alimin mulai menghafal Alquran.

Dengan tekad yaang kuat, Prof Dr Alimin berhasil menghatamkan hafalannya pada Desember 2019. Prof Dr Alimin hanya butuh sekitar 3,5 tahun menyelesaikan hafalan 30 juz nya.

Selanjutnya dia terus masuk proses muraja atau melancarkan hafalan. Tepat 12 Januari 2023 digelar secara seremonial penamatan Alquran hafalan Prof Dr Alimin atau simaan di Pesantren Aljunaidiyah Biru, Bone.

Baca Juga: 10 Kelebihan Burung Perkutut Bangkok yang Kian Banyak Diburu Para Kung Mania

Simaan hafalan Alquran 30 juz Prof Dr Alimin dipimpin oleh Pimpinan Pondok Pesantren Aljunaidiyah Biru Dr Abul Khair, M.Sy.

Setahun kemudian setelah resmi dinyatakan hafiz Alquran 30 juz, gelar sebagai guru besar datang menyapa. Meski dengan kondisi mata buta total, Prof Dr Alimin tidak berhenti berkarya.

Seorang anak kampung, bukan berasal dari latar belakang keluarga yang secara ekonomi maupun pendidikan mapan, mampu menentukan jalan hidupnya dengan capaian tertinggi.

Baca Juga: Profil Sekda Takalar Muhammad Hasbi, Diduga Kampanyekan Anak Jokowi di Pertemuan Para Guru, Bawaslu Turun Tangan

Jika pendidikan sebagai dasar, maka Alimin sudah berada pada level tertinggi dibidang akademik sebagai profesor alias guru besar. Pun dilihat dari pendekatan agama, hafiz 30 juz tentu bukan bantahan jika Prof Dr Alimin juga sangat mendalami ilmu agamanya.

Kisah perjalanan seorang Alimin inilah yang kemudian menginspirasi sahabatnya Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Dr Hamdan Juhannis yang dengan bangga mengisahkan perjalanan hidup Prof Dr Alimin di depan forum ilmiah di kampusnya. Tujuannya adalah agar kisah ini menjadi inspirasi besar menghadapi kedupan. (***)