ANREGURUTTA KH Muhammad As'ad merupakan ulama senior dari KH Djunaid Sulaiman. Keduanya merupakan alumni dari Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah. Saat Djunaid Sulaiman kembali ke Indonesia, Anregurutta KH As'ad berkesempatan menguji ilmu dari KH Djunaid Sulaiman.
Diketahui, Anregurutta KH As'ad, biasa disapa Anregurutta Puang Aji Sade, merupakan pendiri Pondok Pesantren As'adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Perjumpaan Anregurutta Puang Aji Sade dengan KH Djunaid Sulaiman diceritakan dalam salah satu bagian dari rancangan buku autobiografi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman.
Rancangan buku autobiografi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ditulis oleh Prof Dr Alimin, M.Ag, Dr Muh Subair, M.Pi, Dr Muslihin Sultan, M.Pd, Dr Fahmi Gunawan, M.Hum. Naskah buku ini selanjutnya dalam proses akhir penyelesaian untuk masuk cetak.
Diceritakan, pada saat Anregurutta KH Djunaid Sulaiman baru pulang dari Mekah, promosi atau ujian kemampuan Anregurutta dalam penguasaan kitab kuning sebenarnya telah dilakukan oleh ayahnya, Anregurutta KH Sulaiman yang ketika itu menjabat sebagai qadhi Bone.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman bersama kakaknya Anregurutta KH Rafi Sulaiman diperkenalkan kepada masyarakat dan para ulama Bone.
Masa kedatangan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman di Tanah Air pada tahun 1949 adalah masa akhir dari pengabdian Anregurutta Puang Aji Sade (AGH Muhammad As’ad) di Wajo yang wafat pada tahun 1952.
Diceritakan AGH Abdul Latief Amin, mantan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bone, pengalaman perjumpaan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman dengan Anregurutta Puang Aji Sade.
Pada suatu ketika Anregurutta KH Djunaid Sulaiman berkunjung ke Sengkang, Kabupaten Wajo, untuk silaturrahmi dengan sekaligus mengikuti pengajian darinya.
Ketika pengajian dimulai setelah Magrib, Anregurutta Puang Aji Sade yang ketika itu membahas Kitab Matnu Zubad. Saat KH Djunaid Sulaiman datang, Anregurutta Puang Aji Sade sesaat menghentikan pengajiannya.
Pertemuan itu digambarkan sebagai pertemuan ulama junior (KH Djunaid Sulaiman) dan ulama senior (Anregurutta Puang Aji Sade) yang saling menghargai.
Baca Juga: Resmi Naik 8 Persen, Segini Rincian Gaji PNS dan PPPK 2024
Anregurutta Puang Aji Sade menyampaikan kepada muridnya bahwa Djunaid Sulaiman dan dirinya sama sama pernah menjadi santri di Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah.
Setelah dirasa cukup perkenalan, Anregurutta As’ad mengungkapkan bahwa materi pengajiannya dilanjutkan oleh Anregurutta KH Djunaid Sulaiman.
“Beliau lebih hebat dari saya. Saya hanya belajar di Madsarah Al-Shaulatiyah, sementara Beliau sempat mengajar di sana,” tutur Anregurutta KH As’ad.
Saat itu, KH Latief Amin mengungkapkan bahwa mereka sedang belajar Kitab Matnu Zubad. Lalu, ketika Anregurutta KH Djunaid Sulaiman mengambil alih proses pengajaran, Beliau langsung melanjutkan pembelajaran tanpa melihat kitab yang sedang dipelajari.
Baca Juga: 21 Guru Besar di Sulsel Dikukuhkan di Bulan Januari 2024 pada 6 Perguruan Tinggi
“Halaman berapa pembahasan kita pada malam ini?” kata Anregurutta KH Djunaid Sulaiman.
Ketika para santri menyebutkan halamannya, Anregurutta KH Djunaid Sulaiman pun menghafalkan matan kitab tersebut lengkap dengan syarahnya tanpa membuka kitab yang disediakan.
Diketahui, Anregurutta KH As'ad dan KH Djunaid Sulaiman menempuh pendidikan di pesantren yang sama, Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah. Namun dalam waktu yang berbeda.
Jauh setelah Anregurutta KH As'ad kembali ke Indonesia, barulah kedatangan KH Djunaid Sulaiman bersama dengan kakaknya Anregurutta KH Rafi Sulaiman.
Baca Juga: Jaga Tumbuh Kembang Bayi, Sekretariat DPRD Kota Makassar Sosialisasi Perda Pemberian ASI Eksklusif
Madrasah Al-Shaulatiyah tergolong salah satu sekolah favorit dan legendaris di Mekah yang didirikan oleh seorang ulama besar asal India, Syekh Rahmatullah Ibnu Khalil al-Hindi al-Dahlawi. Dia merupakan keturunan dari Khulafau al-Rasyidin, Ustman bin Affan, yang lahir di New Delhi, India.
Nama Shaulatiyah dinisbatkan kepada seorang perempuan dermawan asal India, Begum Shaulatun Nisa, yang telah menjadi donatur tunggal. Karenanya, madrasah ini banyak berafiliasi dengan madrasah Darul Ulum di Deoband, India di abad ke-20.
Madrasah ini adalah madrasah pertama yang didirikan pada tahun 1292 H di kerajaan Arab Saudi dan menghasilkan ulama-ulama besar dunia, termasuk di Nusantara.
Baca Juga: Profil Prof Andi Muhammad Ichsan, Guru Besar Baru Bidang Vitreoretina Fakultas Kedokteran Unhas
Meskipun tergolong madrasah tradisional di tengah deru pembaharuan pendidikan yang digencarkan Kesultanan Utsmaniyah di Hijaz, institusi pendidikan Islam ini cukup dikenal di kalangan masyarakat India, Pakistan, dan masyarakat Islam dunia Melayu saat itu di Mekah.
Di Madrasah tersebut, diajarkan multi mazhab dan tidak fanatik terhadap satu mazhab. Kitab-Kitab Al-Mu’tabarah dari berbagai mazhab yang ada seperti mazhab Hanafi, Malikiyah, Syafi’I, dan Hambali.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman, memiliki keunggulan dengan kekuatan daya hafal. Di sela-sela kesibukannya belajar ilmu yang diprogramkan di kelas dan pengajaran kitab di Madrasah Al-Shaulatiyah, Anregurutta KH Djunaid Sulaiman juga menggunakan kesempatannya untuk menghafal Alquran.
Cara menghafal Alquran Anregurutta KH Djunaid Sulaiman cukup unik. Misalnya ketika akan ke pasar, Anregurutta KH Djunaid Sulaiman menulis ayat-ayat Alquran pada lembaran-lembaran buku lalu di kantongi satu halaman. Dalam perjalanan ke pasar Beliau baca dan setelah dari pasar ia sudah menghafalnya.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman melakukan hal itu secara konsisten dan disiplin. Jadi, kita tidak mengatakan semua ayat Alquran dapat dihafal dengan cara itu, tetapi kita dapat memahami bahwa begitu disiplinnya Beliau dalam memanfaatkan waktu sehingga dalam perjalanan ke satu tempat pun ia manfaatkan waktunya untuk belajar terutama menghafal Alquran dan mengulangi hafalannya.
Baca Juga: 16 Daftar Hari-hari Libur yang Ditetapkan Presiden Jokowi, Lengkap dengan Cuti Bersama 2024
Satu lagi keunggulan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman adalah di bidang Arud Wa Al-Qawafi, materi atau ilmu membuat dan menganalisis syair-syair Arab. Karena cintanya pada ilmu itu, tidak mengherankan jika Beliau pada akhirnya menjadi sangat piawai membuat syair Arab. Ia sangat mengusai 16 bahar dalam materi Arud Wa Al-Qawafi. Ia dapat menulis syair secara spontan.
Saat Anregurutta KH Djunaid Sulaiman tamat di Al-Shaulatiyah, Beliau didaulat sebagai alumni terbaik. Prof Dr Andi Salman Maggalatung menceritakan bahwa sebenarnya dari segi nilai dari pelajaran-pelajaran yang ada Beliau dikalahkan santri asal India, tetapi saingannya itu tidak hapal Alquran.
Sementara Anregurutta KH Djunaid Sulaiman menghapal Alquran sangat lancar. Dengan itu, dia diberikan predikat terbaik di tahun ia tamat.
Baca Juga: Jadwal SIM Keliling Makassar Selama Februari 2024, Layani Warga Mulai Hari Senin Hingga Sabtu
Setamatnya dari Al-Shaulatiyah, Anregurutta KH Djunaid Sulaiman tidak langsung pulang ke Indonesia. Anregurutta diminta pimpinannya untuk mengajar di madrasahnya sendiri. Dan itu bukan sebagai relawan karena seperti yang diceritakan oleh adik bungsunya, Ruwayah, ia mendapatkan upah 6 sukun emas dari yayasan atau madrasah tempatnya mengajar.
Di samping itu, Anregurutta KH Djunaid Sulaiman juga mengikuti pengajian-pengajian tasawuf di Masjid Al-Haram, di samping membimbing tahfiz di Masjid Al Haram.(***)
