POJOKSULSEL.com - Ashrullah Djalil, anggota aktif Korpala Unhas K133 20 549, beruntung bisa terlibat dalam Ekspedisi Bajau Sulawesi yang berlangsung pada Bulan November - Desember 2024 lalu.

Ekspedisi Bajau Sulawesi menempuh sejauh 2.000 kilometer perjalanan laut.

Berikut tulisan perjalanan Ashrullah Djalil, anggota aktif Korpala Unhas K133 20 549, di Ekspedisi Bajau Sulawesi.

SETELAH sehari beristirahat di Bajoe tujuan kami selanjutnya yaitu Pulau Salemo yang pada masa Kerajaan Gowa berkuasa orang Bajau di sini dipergunakan untuk mencari hasil laut seperti penyu, teripang dan sebagainya.

Baca Juga: Catatan Perjalanan Korpala Unhas di Ekspedisi Bajau Sulawesi (Bagian 1): Penelusuran Masyarakat Maritim Terakhir

Sekitar pukul 05.34 kami berangkat dari Bajoe.

Kondisi laut sangat tenang, setelah melewati gusung toraja tepatnya 2 mil ke arah tenggara dari Bajoe ombak mulai tinggi disertai angin cukup kencang.

Beberapa kali ombak yang datang naik ke atas perahu. Mungkin saja laut tenang saat keberangkatan disebabkan gugusan pulau-pulau kecil menjadi pemecah ombak alami saat berada di sekitar Bajoe.

Ciri khas pemilihan tempat tinggal orang Bajau memang seperti itu mereka memilih pulau-pulau kecil dekat daratan utama.

Setidaknya kami tahu alasan pemilihan tempat tinggal tersebut.

Belum jauh berlayar kami harus menepi karena salah satu perahu mengalami kerusakan mesin.
Sempat terjadi perdebatan diatas perahu dimana kami harus menepi. Saking lamanya perdebatan tempat yang ditawarkan oleh pua pia untuk menepi terlewat dan secara otomatis pilihan untuk menepi di Pantai Silopo tersepakati.

Baca Juga: MK Perintahkan Pilkada Palopo PSU, Calon Wali Kota Trisal Tahir Didiskulifikasi

Begitulah kiranya pengambilan Keputusan tertentu di atas perahu.

Keputusan punggawa atau kapten itu tidak mutlak bisa di diskusikan. Ini berlaku untuk hal-hal tertentu karena ada Keputusan punggawa yang memang mutlak.

Setiba di Silopo mesin yang rusak diperbaiki. Ini cukup memakan waktu, pasalnya Pulau Salemo yang dituju masih berjarak sekitar 35 mil.

itu sangat jauh mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Baru pada sekitar pukul 01.00 siang kami melanjutkan perjalanan perencanaan pun berubah.

Lokasi berlabuh yang sebelumnya seharusnya di pulau salemo dipindahkan ke ujung lero. Sebuah tanjung yang berada di depan Kota Parepare.

Perjalanan dari Pantai Silopo ke Ujung Lero menghabiskan waktu sekitar 12 jam. Pada Sore hari kami melintasi dearah laut pinrang tepatnya di pesisir desa Salipolo.

Lautnya unik dengan perubahan warna dari biru laut ke coklat. Warna coklat tersebut dipengaruhi oleh aktifitas tambang pasir di hilir Sungai sa’dang. Sekitar 7 jam dari laut coklat yang kami lewati barulah kami tiba di Ujung Lero. Pukul 11 lewat tepatnya kami langsung makan malam dan beristirahat.

Baca Juga: CitraCosmetic dan Wardah Sukses Gelar Color Expert Class Flawless Complexion All Day

Tidur Pulas dengan Hujan dan Angin

Ketika beristirahat dengan pulas setelah berlayar malam pertama yang kami lalui, kami tidak ingat lagi tepatnya pukul berapa hujan dan angin mulai turun. Hujan rasa-rasanya datang secara horizontal dan masuk membasahi baju yang telah diganti dan dipersapkan hanya untuk tidur.

Hujan yang membasahi kami terbawa serta oleh angin yang bertiup dari arah barat laut sehingga arah turun hujan tidak vertikal.

Dengan kondisi tersebut kayang (atap rumbia yang kami jadikan pelindung) hanya berfungsi 30%.

Tidak ada jalan lain kami harus beristirahat karena perjalanan akan kami lanjutkan pagi buta. Jas Hujan yang disediakan menjadi satu-satunya alternatif untuk tidur ditengah hujan.

Formasi ketika tidur akan mempengaruhi banyak tidaknya hujan yang diterima setiap orang ketika beristirahat.

Formasi tidur diatas perahu terbagi atas tiga orang di bagian depan baratang belakang (penghubung cadik kiri dan kanan) dua orang di belakang Baratang belakang dan satu orang di belakang (dekat tempat kemudi).

Baca Juga: Wakil Bupati Maros Pilih Diskusi Santai di Kantin Pada Hari Pertama Bertugas

Begitulah sekiranya pembagian posisi tidur untuk perahu Palippis Indah perahu yang kami gunakan. Ketika hujan datang perahu akan menghadap arah datangnya ombak, angin dan hujan yang datangnya dari arah yang sama.

Dengan kondisi tersebut menyebabkan tiga orang yang berada di Baratang depan akan lebih banyak, menerima air hujan yang datang dibandingkan dengan bagian lain. Meskipun begitu semua bagian akan basah ketika hujan dan angin sangat kencang.

Bagaimanapun juga kami harus berdamai dengan kondisi ini karena tentu saja hujan angin dan kencang akan menyertai perjalanan ini mengingat kami melakukan ekspedisi di Bulan November-Desember yang merupakan waktu awal datangnya musim barat,

(Bersambung)

***