PERJUANGAN Anregurutta KH Djunaid Sulaiman mewujudkan mimpi berdirinya Pesantren Aljunaidiyah di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), sungguh luar biasa. Penjualan kalender dengan harga 5 rupiah tidak hanya ke Sulawesi Tenggara (Sultra), tapi juga di Sulawesi Selatan (Sulsel), Pulau Kalimantan, hingga Sumatera.
Semua potensi dikerahkan. Di edisi sebelumnya dikisahkan bagaimana Anregurutta KH Djunaid Sulaimen mencetak kalender kemudian dibawa menyeberang Sultra untuk dijual.
Dicerita, sebanyak 2.500 kalender dibawa ke Sultra oleh sahabat Anregurutta KH Djunaid Sulaiman, Andi Bugaib Petta Tinring dan murid KH Djunaid Sulaiman bernama Mursyidin. KH Mursyidin yang kini menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sultra.
Pendirian Pesantren Modern atau Ma'had Hadits Biru yang selanjutnya berubah menjadi Ma'had Hadits Aljunaidiyah atau Pesantren Aljunaidiyah tuntas dituliskan dalam rancangan tulisan dalam buku autoboigrafi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman oleh tim dari alumni Pesantren Aljunaidiyah.
Sekadar diketahui, rancangan buku autoboigrafi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ditulis oleh Dr. Alimin, M.Ag, Dr. Muh. Subair, M.A, Dr. Muslihin Sultan, M.Pd, Dr. Fahmi Gunawan, M.Hum. Naskah buku ini selanjutnya dalam proses akhir penyelesaian untuk masuk dapur cetak.
Ternyata, gerakan penjualan kalender tidak hanya di Sultra, tapi tim yang dibentuk Anregurutta KH Djunaid Sulaiman juga bergerak di Kabupaten Bone, Sulsel, Pulau Kalimantan dan bahkan Pulau Sumatera.
Baca Juga: Ciri-ciri Perkutut Bangkok yang Bersuara Merdu, Dijamin Makin Betah di Rumah Dengar Anggungannya
Diceritakan Prof Dr Andi Salman Maggalatung, murid dan orang kepercayaan yang sekaligus keluarga Anregurutta KH Djunaid Sulaiman, dirinya masuk dalam tim penjual kalender Pesantren Aljunaidiyah di Bone.
"Saya naik sepeda dari Jalan Biru ke daerah Kajuara (kecamatan) jual kalender. Jualnya sekitar lima rupiah per kalender," kata Andi Salman Maggalatung yang merupakan guru besar di Uiniversitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Andi Salman Maggalatung ditemui penulis di kediamannya di Kota Makassar, Senin (15/1/2023.
Baca Juga: 10 Kelebihan Burung Perkutut Bangkok yang Kian Banyak Diburu Para Kung Mania
Andi Salman Maggalatung ditugaskan menyisir daerah Bone wilayah Selatan menjual kalender Pesantren Aljunaidiyah. Saat itu masih bernama Pesantren Modern Biru.
Sepeda onthel dikayuh Andi Salman Maggalatung sambil satu persatu singgah di rumah warga yang kira kira bisa membeli kalender tersebut.
Ditulisan sebelumnya dikisahkan bahwa strategi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman mencetak dan menjual kalender karena hasil penjualan kalender nantinya akan menjadi salah satu sumber pendanaan pembangunan Pesantren Aljunaidiyah.
Tim penjual kalender Pesantren Aljunaidiyah yang dibentuk Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ternyata ada beberapa. Selain tim Andi Bugaib Petta Tinring dan KH Mursyidin di Sultra, Andi Salman Maggalatug di Bone, juga ada yang menyisir Pulau Sumatera dan Kalimantan.
Pengurus Yayasan Pesantren Aljunaidiyah, KH Maharajuddin, menceritakan, dirinya juga masuk dalam tim penjualan kalender yang dibentuk Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Dirinya bersama KH Jamaluddin Abdullah (almarhum) ditugaskan menjual kalender di Pulau Kalimantan.
Sementara KH Syarifuddin Husain(almarhum) dan M Ishak ditugaskan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman menjual kalender dengan menyisir Pulau Sumatera.
Beberapa tim penjualan kalender Pesantren Aljunaidiyah bentukan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman bekerja dengan semangat dan ikhlas sesuai perintah demi satu cita cita mulia.
Kini, Pesantren Aljunaidiyah sudah menapak usia ke 54 tahun sejak berdirinya pada 15 Januari 1970. Keberhasilan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman mewujudkan mimpi bisa terlihat dari kemeriahan momentum Milad ke-54 Pesantren Aljunaidiyah yang digelar beberapa hari lalu.
Baca Juga: Samsung Luncurkan Galaxy A15 Series, Dibanderol Mulai Rp2 Jutaan
Rangkaian Milad Pesantren Aljunaidiyah digelar selama sepekan dengan berbagai rangkaian acara. Dimulai dengan Festival Pesantren, Perkemahan Alumni, jalan santai, zikir, dan terakhir ziarah ke kuburan para pendiri dan pendahulu Pesantren Aljunaidiyah.
Termasuk menziarahi makam Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Penjualan kalender tentunya hanya satu bagian dari strategi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman mewujudkan sebuah lembaga pendidikan formal di Bone yang kini bernama Pesantren Aljunaidiyah.
Apakah penjualan kalender Pesantren Aljunaidiyah di berbagai daerah di Indonesia hanya berefek bisnis? Pengumpulan dana pembangunan? Jauh dari itu pastinya sudah menjadi skenario dari rencana besar Anregurutta KH Djunaid Sulaiman.
Dirasakan dari tahun tahun awal berdirinya Pesantren Aljunaidiyah dan memulai pendidikan formalnya, banyak santri yang berdatangan dari berbagai pulau di Indonesia.
Orang dari luar Sulsel, seperti Sumatera, kalimantan, Ambon, Sultra, Papua, dan banyak lainnya berbondong bondong mengirim anaknya menjadi santri dan mondok di Pesantren Aljunaidiyah.
Pesantren Aljunaidiyah seolah menjadi "Indonesia mini" dengan pluralisme asal daerah santri yang mondok. Santri terbiasa dengan logat Ambon, bahasa dari Sumatera, istrilah dari Papua, pun dari Sultra karena terjadi pencampuran bahasa yang sangat beragam di Pesantren Aljunaidiyah.
Inilah strategi marketing yang melampaui jamannya yang sudah dijalankan oleh Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Penjualan kalender tidak hanya berefek lansung dengan pundi pundi penjualan Rp5 per ekslamplar, tapi juga menjadi alat promosi yang membekas di orangtua.
Penanaman brand jangka panjang yang dirasakan gerasi lanjutan. Pemikiran Anregurutta KH Djunaid Sulaiman jauh melampaui zamannya.
Setahun kalender itu berada di rumah rumah orang tua yang kemudian membuat perencanaan jangka panjang. "Kalo anak saya lulus SD saya akan sekolahkan di pesantrennya Puang Aji Djunaide," begitu kira kira efek jangka panjangnya.
Baca Juga: Khofifah Akan Berpamitan di Acara Harlah, Dorong Kader Bersiap Urus Muslimat NU
Ketua Rabitatul Hirrij Ma'had Hadits (RHMH) Bone Henri Susanto pun menyadari efek yang dia rasakan saat menjadi santri di Pesantren Aljunaidiyah.
RHMH merupakan organisasi almuni Pesantren Aljunaidiyah. Henri Susanto yang mondok pada rentan tahun awal '90-an, merasakan banyak santri yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Banyak teman angkatannya yang datang dari dari Kalimantan Timur, seperti Bontang dan Balikpapan, dari Sumatera, Maluku, dan Papua. Jika di Sulsel, tidak perlu lagi di sangsikan, asal santri datang dari berbagai daerah.
Baca Juga: Pidato Sekda Takalar Viral Diduga Kampanyekan Capres, Bawaslu Takalar: Kami Pasti Proses
Seperti dari Luwu Raya, Makassar, Gowa, Soppeng, dan hampir semua daerah di Sulsel berkumpul di Pesantren Aljunaidiyah.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman seolah sudah membuat "Indonesia Mini" di Pesantren Aljunaidiyah.
Itulah yang dinikmati hari ini. Begitu mudahnya alumni Pesantren Aljunaidiyah ditemukan tersebar di semua kota di Indonesia dalam berbagai profesi. "Barakka'na Gurutta," selalu menjadi kalimat akhir dari semua keberhasilan alumni di berbagai bidang yang tersebar di seluruh daerah dan kota di Indonesia.
Baca Juga: Heboh... Sekda Takalar Diduga Kampanyekan Capres, Jokowi Angkat Jutaan CPNS Kalau Gibran Menang
"Capek kita serahkan hadiah," kata Pembina Yayasan Pesantren Aljunaidiyah Bahri Mappiasse. Mantan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Sulsel ini mengatakan, banyak sekali hadiah dari alumni yang disumbangkan kepada panitia jalan santai. Sumbangan alumni datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia.
Bahri Mappiasse hadir di Bone dalam rangka Milad ke-54 Pesantren Aljunaidiyah dalam acara jalan santai. Acara jalan jalan santai akhirnya baru selesai pada sore harinya karena ada ratusan hadiah dari sumbangan para alumni dan donatur sebagai doorprize untuk peserta jalan santai.
Apa yang sudah berjalan hari ini di Pesantren Aljunaidiyah adalah tapak tapak emas dari jejak langkah "Sang Pencerah dari Tanah Bugis" (rencana jadi tema buku autobigrafi) Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Anregurutta KH Djunaid Sulaiman sudah meletakkan pondasi besarnya, di usia setengah abad menjadi momentum Pesantren Aljunaidiyah menjadi lebih maju dan besar.
Alfatihah untuk Anregurutta KH Djunaid Sulaiman dan semua pihak yang sudah berjasa menjadi pelopor hadirnya Pesantren Aljunaidiyah.(***)
