ANREGURUTTA Kiyai Haji (KH) Djunaid Sulaiman merupakan ulama besar dari Kabupaten Bone. Perannya di berbagai bidang syiar Islam hampir di semua aspek masih dirasakan hingga hari ini. Salah satunya peran KH Djunaid Sulaiman di bidang pendidikan.
KH Djunaid Sulaiman merupakan pendiri pondok pesantren di Bone. Judul tulisan ini mungkin agak "nyeleneh" bahwa Anregurutta KH Djunaid Sulaiman mendirikan pondok pesantren di Bumi Arung Palakka tanpa nama.
Pondok pesantren "tak bernama" yang didirikan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman justru mampu bertahan hingga hari ini dan memasuki usia ke-54 tahun. Pesantren tak bernama yang didirikan KH Djunaid Sulaiman mampu bertahan hingga hari ini dan bahkan semakin berkembang.
Baca Juga: Daftar 26 Pemian Timnas Indonesia di Piala Asia 2023
Ini menjadi pertanda keberkahan doa Anreguttta KH Djunaid Sulaiman. Apa pesantren tak bernama yang didirikan KH Djunaid Sulaiman yang masih bertahan dan berkembang hingga hari ini di Bone?
Tulisan ini diambil dari rancangan buku autobiografi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman yang sementara disusun para murid KH Djunaid Sulaiman yang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan bahkan di beberapa negara di dunia.
Pada tahun 1970, Anregurutta KH Djunaid Sulaiman melalui Yayasan Syiar Islam memelopori lahirnya Pesantren Modern atau Ma'had Hadits di Kabupaten Bone. Karena pesantren ini berada di Kelurahan Biru, Kabupaten Bone, pesantren ini kemudian lebih dikenal dengan nama Pesantren Modern Biru.
Baca Juga: Jadwal Lengkap, Live Tv dan Streaming Timnas Indonesia di Fase Grup Piala Asia 2023
Salah satu penulis dalam rencangan buku autobiografi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman, Dr Alimin, tidak mengetahui secara persis apa alasan dan pertimbangan KH Djunaid Sulaiman menamakan pesntren yang dirikannya dengan nama itu.
Alimin, yang termasuk alumni pertama di pesantren yang didirikan KH Djunaid Sulaiman tersebut, mengatakan, jika nama Ma'had Hadits bukanlah nama pondok pesantren. Alasannya, dalam bahasa Arab, itu hanya berarti sebagai pesantren modern. Tidak ada nama. Pertanyaannya kemudian adalah, nama pesantren modern itu apa?
Dalam rancangan buku autobiografi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman, Bahri Mappeasse, yang saat itu menjabat sebagai kepala Kanwil Departemen Agama Sulawesi Selatan (Sulsel) dan merangkap sebagai Ketua Yayasan Pesantren Modern Biru, memahami sebuah pesan bahwa Anregurutta KH Djunaid Sulaiman tidak memberikan nama pesantren yang didirikan sesuai dengan namanya karena masih hidup.
Setelah beliau wafat dan sebagai apresiasi kepadanya, nama Anregurutta KH Djunaid Sulaiman disematkan pada nama pesantren sehingga menjadi Pesantren Modern Al-Junaidiyah Bone.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman juga memiliki andil dalam pendirian Masjid Agung Assalam. Masjid raya ketiga yang dibangun di Bone. Lima orang pelopor pendiri masjid tersebut adalah Anregurutta KH Djunaid Sulaiman sebagai representasi Majelis Ulama Indonesia Bone, Anregurutta Rafi Sulaiman, Andi Samsul Alam (Bupati Bone), Andi Palloge Pettanapa (Ketua DPRD Bone), dan Wedi Ambas (Kepala Kantor Kementerian Agama Bone).
Dari sekian banyak peninggalan KH Djunaid Sulaiman, Pesantren Modern atau Ma'had Hadits Al-Junaidiyah Bone adalah yang paling monumental karena sampai sekarang masih bertahan dengan jumlah santri sekitar 800-an orang. Sejak berdirinya, pesantren ini tidak berhenti melahirkan hafiz-hafizah hingga kancah internasional dan mencatatkan prestasi.
Pesantren Al-Junaidiyah didirikan pada tahun 1970 dengan memanfaatkan dana zakat. Lokasinya terletak pada tanah wakaf yang didukung oleh Andi Suaib yang menjabat sebagai bupati Bone saat itu.
Namun untuk beberapa lama pada perjalanan awalnya, pesantren yang didirikan KH Djunaid Sulaiman, Ma'had Hadits Al Junaidiyah terlihat stagnan karena hanya menerima santri tahfiz. Barulah pada tahun 1986, berdasarkan persetujuan KH Djunaid Sulaiman, didirikanlah pendidikan formal yaitu madrasah tsanawiyah.
Baca Juga: Cavendish Tumpang Sari Kacang Tanah, Cara Petani Desa Buae Raup Untung Tunggu Panen Pisang
Selanjutnya disusul pendirian madrasah aliyah pada tahun 1987. Jadi praktis, Madrasah Tsanawiyah Pesantren Modern Al Junaidiyah Bone itu pertama kali melahirkan alumni 1989 sementara tingkatan aliyah pada tahun 1990.
Berdasarkan catatan sejarah dari akta pendirian Yayasan Pesantren Modern ditetapkanlah pesantren yang didirikan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman pada tanggal 15 Januari 1970.
Dr Muslihin Sultan, pengurus yayasan Pesantren Ma'had Hadits Aljunaidiyah Bone, mengatakan, akta pendirian yayasan dibuat oleh notaris Siske Limoa SH di Makassar. Saat itu, pada tahun 1970, yang menghadap untuk membuat akta yayasan ada tiga orang, masing-masing KH Bueti Abbas (saat itu menjabat sebagai kepala kKantor Departemen Agama Bone, Andi Mappa Petta solong (anggota DPRD Bone), dan H Andi Muhammad Nur Petta Pati (anggota DPRD Bone).
Baca Juga: Bappeda Lakukan Konsultasi Publik Bahas RPJPD Kota Parepare Tahun 2025-2045
Dalam akta pendirian yayasan itu, ditunjuklah KH Djunaid Sulaiman sebagai ketua yayasan dan sekaligus sebagai pimpinan pondok.
Pondok Pesantren Modern Aljunaidiyah Bone kini telah berdiri megah di tengah Kota Watampona. Bahkan kini sudah memiliki kampus 2 di Passippo. Fasilitas dan santri yang menjadi karya monumental Anregurutta KH Djunaid Sulaiman terus berkembang.
Rangkaian Milad Pesantren Aljunaidiyah Bone, pengurusn pondok dan alumni bersama sama membuat rangkaian acara yang sudah dimulai sejak awal pekan ini. Seperti acara festival, perkemahan, dan jalan santai.
Selamat Milad ke-54 Pesantren Aljunaidiyah Bone. Alfatiha untuk semua orang yang sudah berjasa dalam pendirian Ma'had Hadits Aljunaidiyah Bone. (***)
