Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un. “Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kita kembali.” Kabar wafatnya sahabat kami, Sahwan Susetyo, S.Sos., kemarin, (Sabtu di bulan April 2026) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, beredar di berbagai group WA.
Kabar yang datang begitu tiba-tiba, tak diduga sebelumnya. Kepergian almarhum Sahwan Susetyo membawa duka yang mendalam, khususnya bagi kami keluarga besar alumni Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin angkatan 1994. Kami kehilangan bukan hanya seorang teman, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup kami.
Saya mengenal almarhum Sahwan Susetyo sejak awal masa kuliah, tahun 1994. Kami berada dalam satu kelas, mengikuti berbagai mata kuliah bersama, dan menjalani masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) bersama teman-teman lain dari Prodi Jurnalistik dan Humas. Kemudiaan saat bina akrab di Bislab Maros ke sananya sedikit Bantimurung. Dari situlah kebersamaan kami dimulai.
Pada semester awal, hubungan kami cukup dekat. Kami sering makan bersama di kantin sekitar tempat tinggal, berbincang santai tentang kuliah dan kehidupan, bahkan sesekali memasak bersama di perumahan dosen Unhas Tamalanrea setelah latihan karate Go Cukai. Bersama dengan Irma, Lela, Poernama, Hamzah, Agung, Alif, dan lain-lain. Kenangan-kenangan sederhana itu kini terasa sangat berharga.
Kami juga pernah bersama-sama mengikuti kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat FISIP Unhas sekitar Juli 1995 di Masjid Ta’mirul Masajid Muhammadiyah Makassar. Saat itu, saya dipercaya menjadi ketua panitia. Melalui kegiatan tersebut, almarhum menjadi bagian dari kader Muhammadiyah, bahkan memiliki Nomor Baku Muhammadiyah yang ditandatangani oleh Pak Amien Rais dan Buya Ahmad Syafii Ma'arif.
Baca Juga: Target Biodiesel B50 2026, Mentan Andi Amran Sulaiman Sebut Indonesia Bisa Stop Impor Solar
Dalam perjalanan berikutnya, almarhum memang tidak terlalu aktif di IMM dan lebih fokus di Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOSMIK), sementara saya tetap aktif di IMM. Namun, hubungan kami tetap terjaga. Kami masih sering bersama dalam kegiatan keagamaan di Mushalla Ibnu Khaldun FISIP, bahkan pernah terlibat bersama dalam pelatihan jurnalistik sebagai bagian dari Steering Committee, yang diprakarsai oleh Rahmawati Latief.
Waktu terus berjalan. Kami menjalani kehidupan masing-masing, hingga akhirnya saya kembali bertemu dengan beliau di Mamuju sekitar tahun 2018, saat saya menjadi anggota tim seleksi calon anggota KPU Provinsi Sulawesi Barat. Saat itu, almarhum sudah mengabdi di lingkungan KPU. Dan sempat ada kabar bahwa almarhum mau ikut seleksi, tapi tak jadi, karena tiba-tiba ada perubahan persyaratan yang tidak bisa beliau penuhi.
Ada satu cerita menarik yang semakin menguatkan kesan saya tentang perjalanan hidup beliau. Sekitar dua tahun lalu, sepulang saya dari Australia, saya menghadiri pernikahan ponakan istri di BTN Coppe Pekkabata, Kabupaten Polewali Mandar. Di sela-sela menunggu akad nikah, saya berbincang secara tidak sengaja dengan seseorang bapak.
Dalam percakapan itu, saya menyebut bahwa di sekitar kompleks tersebut saya memiliki seorang sahabat yang menikah dengan orang setempat. “Namanya Sahwan,” kataku. Lantas, bapak itu kemudian menjawab, “Itu menantuku.” Ternyata saya pernah juga bertemu dengannya sebelumnya saat bersilaturahmi ke rumahnya sekitar medio 2008-2010.
Dari bapak tersebut, saya mendengar cerita tentang kehidupan almarhum setelah menikah. Dikisahkan bahwa pada masa awal, beliau sempat menjalankan usaha fotokopi. Dari usaha sederhana itulah kemudian terbuka jalan hidup yang tidak terduga. Suatu ketika, ada seseorang yang datang menggandakan berkas pendaftaran CPNS di lingkungan KPU Sulawesi Barat. Almarhum kemudian mengetahui bahwa ada formasi untuk lulusan Ilmu Komunikasi. Ia pun mencoba mendaftar, dan dengan izin Allah, ia berhasil lulus.
Baca Juga: Spirit Jogja Harus Lahir Kembali, IKAJO Sulsel Formulasikan Kekuatan Alumni Tak Sekadar Temu Kangen
Perjalanan itu akhirnya membawanya menjadi bagian dari KPU Provinsi Sulawesi Barat, hingga dipercaya menjabat sebagai Kepala Bagian Hukum dan Teknis Penyelenggaraan. Sebuah perjalanan hidup yang sederhana namun penuh makna—berawal dari usaha kecil, hingga berkontribusi dalam lembaga negara.
Bagi saya, almarhum adalah pribadi yang baik. Ia menjalani hidupnya dengan penuh tanggung jawab. Sebagai suami, ayah, dan anggota keluarga. Dalam pekerjaannya, ia juga menunjukkan dedikasi dalam mengabdi kepada bangsa dan negara, khususnya dalam menjaga proses demokrasi.
Kepergiannya mengingatkan kita bahwa hidup ini hanya sementara. Setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah. Tak bisa dipungkisi. Maka benar adanya ungkapan, bahwa kematian adalah nasihat yang paling jujur. Ia datang tanpa diundang, dan tidak pernah terlambat.
Hari ini, Sahwan Susetyo telah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia. Ia meninggalkan kenangan, persahabatan, dan jejak kebaikan yang akan selalu kami ingat. Kami semua merasa kehilangan. Namun kami percaya, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semoga almarhum diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kesabaran, kekuatan, dan keikhlasan. Selamat jalan, sahabat. Terima kasih atas kebersamaan yang pernah kita lalui. Semoga kita dipertemukan kembali dalam keadaan terbaik di hadapan Allah SWT.
Samata Gowa, 5 April 2026
Penulis: Haidir Fitra Siagian (Alumni Komunikasi Fisip Unhas 1994 / Dosen Komunikasi Politik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar)


