KATA MUSIBAH selalu identik dengan sesuatu yang negatif, bahkan kalau perlu manusia akan menghindari yang namanya musibah apapun bentuknya, manjauh darinya dan selalu berdoa agar tak ditimpa musibah.

Sambil seruput kopi arabica drif di pagi hari di meja teras rumahku, saya tiba-tiba tertuju suatu ungkapan pesan seorang ulama sepuh yang menulis tentang musibah.

Dawuhnya; “Jika nikmat itu membawamu bersyukur dan taat kepadaNya itu benar-benar nikmat, tapi kalau nikmat itu membawa hidupmu semakin jauh dan kufur dariNya maka justru itu musibah besar.”

Sambil saya memandangi gelas kopi di sampingnya ada sanggara peppe baqa yang masih hangat, aku terus mengucap syukur alhamdulillah, ini betul-betul nikmat Allah yang wajib disyukuri, sambil aku foto lalu kirim ke grup WA saudara, dengan pesan singkat “lokkani mai manre saggara,” suatu ungkapan basa-basi dengan niat sederhana menyambung sompunglolo seraya membuka file-file tentang musibah.

Baca Juga: IAIN Parepare Masuk Top 10 PTKIN Terbaik Versi Indeks Sinta 2025

Saya semakin penasaran apa itu musibah, mungkin ya karena pesan kiai itu muncul di media sosial, karena baru-baru ini di akhir tahun 2025 kita saksikan di layar lebar, negara kita dilanda musibah bencana alam, banjir, gunung lonsor disertai kayu-kayu hutan bergolondongan yang sedikit misterius keberadaannya di Aceh dan Sumatera. Ini menjadi berita hangat disertai perdebatan publik yang luar biasa ramai oleh para nitizen.

Saya lalu searching makna musibah di google, maka saya temukan beberapa makna yang bisa mengantarku paham apa itu musibah; di antaranya pendapat yang mengatkan bahwa kata itu berasal dari bahasa Arab dengan akar kata ashaba (mengenai sasaran atau menimpa), yang berarti segala hal yang datang atau menimpa seseorang, baik itu nikmat (seperti harta, kesehatan) maupun bencana/malapetaka yang tidak disukai, seperti kematian, sakit, atau kehilangan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musibah didefinisikan sebagai peristiwa menyedihkan, bencana, atau malapetaka yang menimpa.

Di sini aku temukan bahwa ternyata musibah bukan hanya bencana yang menimpah tetapi juga bermakna nikmat yang dirasakan dalam hidup. Oleh karena itu, makna musibah di atas adalah bermakna cobaan hidup.

Baca Juga: Stadion Turatea Jeneponto dan Lapangan Gaspa Palopo Bersolek Usai Dapat Bantuan Pemprov Sulsel

Karena penasaranku terus bertambah akan makna musibah yang lebih luas, maka kulanjut searching di Comet Perplexity AI, suatu platform artificial intelegence yang lagi viral he..., maka kutemukan lagi makna yang lebih dalam dengan referensi yang lebih mumpuni.

Musibah adalah segala ujian, teguran, atau cobaan dari Allah SWT kepada hamba-Nya untuk membersihkan dosa, mengangkat derajat, atau menguji iman, mencakup hal buruk (sakit, kemiskinan, kematian) maupun baik (nikmat).

Al-Qurtubi dalam Tafsir Jami' li Ahkam al-Qur'an menyebutnya sebagai apa yang mengganggu mukmin dan jadi bencana baginya, penjelasan di atas memberi pengertian bahwa musibah itu pada hakikatnya bertujuan sebagai peringatan dan sekaligus pembersih diri dari dosa dan kesalahan untuk mengangkat derajat hamba-Nya.

Sementara Al-Baidawi dalam kitabnya Anwar at-Tanzil mendefinisikan musibah sebagai kemalangan yang dibenci manusia.

Begitu pula pendapat seorang mufassir Mustafa al-Maraghi yang menambahkan makna musibah sebagai peristiwa yang menyedihkan seperti kehilangan orang dicinta atau harta.

Demikian pula pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah memandang musibah sebagai nikmat pembersih dosa, obat hati, dan rahmat jika dihadapi sabar, yang sebut musibah sebagai bagian rencana Ilahi.

Muhammad Sayyid Thanthawi menyebutnya kata musibah itu berbentuk “isim fa'il” bermakna “kepedihan” akibat bencana.

Hakikatnya, musibah netral tapi sering negatif dalam persepsi manusia, karena bertujuan mendekatkan pada Allah. Dari pembacaan di atas rasa dahaga ini telah teratasi, dan beberapa makna musibah yang menurut saya semakin menarik dan mudah dipahami.

Baca Juga: UIN Alauddin Makassar Catat Prestasi 2025, Dari Guru Besar hingga Jurnal Tembus Indeks Global Scopus

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa menurut Al-Baidhawi, musibah adalah kemalangan yang dibenci manusia.

Sementara al-Maraghi menganggapnya sebagai peristiwa yang menyedihkan seperti kehilangan orang dicinta atau harta.

Begitu pula Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah menyebut musibah sebagai nikmat pembersih dosa, obat hati, dan rahmat jika dihadapi sabar.

Sedangkan Thanthawi menyebutnya sebagai kepedihan tetapi akibat bencana itu diharapkan bertujuan mendekatkan diri pada Allah SWT.

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Dijadwalkan Hadiri Pembukaan Milad ke-56 Pesantren Modern Al Junaidiyah Bone

Sambil sekali-kali seruput kopi yang hampir habis, tapi makna tafsir semakin bertambah, menjadikan suasana pencarian semakin terasa nikmat.

Tak berhenti di pengertian makna musibah di atas baik secara bahasa maupun istilah, saya terus searching makna musibah di Alquran androidku, yang telah lama akrab pemakaiannya dalam hari-hariku.

Jika mencari suatu ayat-ayat atau surah tentu sangat memudahkan, saya lalu ketik kata musibah dalam bahasa Arab, dalam waktu beberapa detik saja sudah muncul hasil pencariannya; yaitu 11 kali kata musibah (pakai ta’ marbuthah) dalam bentuk muannas.

Satu kali terulang kata musibun bentuk muzakkar (laki-laki), tiba-tiba aku berkhayal sepintas, “mengapa Allah menyebut kata musibah dalam bentuk gender “muannas - perempuan” lebih banyak berkali-kali dibanding dengan bentuk kata gender “muzakkar - laki-laki”.

Dn nyeletuk dalam hatiku “bukankah pemilahan makna gender berdampak besar pada analisis makna kata?.

Kata muannas selalu identik dengan makna lemah lembut, keindahan, ramahtama, dan kasih sayang.

Sementara, kata gender muzakkar identik dengan kata kekuatan, tegas dan keras.

Jangan-jangan ya dalam benakku mengatakan; makna musibah dalam Alquran itu pada hakikatnya adalah bentuk kasih sayang Allah, lebih banyak pada hambanya yang tampak lahiriyahnya adalah “derita dan bencana”, yang pada hakikatnya bermakna ingin mengantar hambaNya pada kebahagian, resume interpretatif yang begitu cepat. Wa Allahu a’lam bi sawab.

Rasanya semakin bersemangat untuk menulis dan mencari makna lanjutan tafsir musibah dalam Alqur’an, meskipun kopi di mejaku sudah habis, rasanya ingin tambah lagi, tapi pesan ummiku selalu mengingatkan “cukup secangkir saja ya abiy”.. Dalam sehari minum kopi, jangan berlebih-lebihan he... dalam hatiku (baik ummi... Secangkir kopi pagi di rumah, secangkir di kampus, dan secangkir di warkop he...), saya semakin penasaran bagaimana 11 kali kata musibah itu terulang dalam Alqu’an, dan ditafsirkan para ulama dan cendikiawan muslim. (tunggu kelanjutannya )

Penulis: Muslihin Sultan