POJOKSULSEL.com, MAKASSAR - Mesin cetak uang palsu yang ditemukan di Kampus UIN Alauddin Makassar kini telah disita aparat kepolisian untuk dijadikan barang bukti.

Dari mesin cetak uang palsu yang disita Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, para tersangka telah melipatgandakan uang palsu hingga ratusan juta rupiah.

Mesin cetak ini didatangkan langsung dari China oleh para tersangka dengan harga Rp600 juta. Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar Andi Ibrahim alias IB juga ikut terseret dalam kasus uang palsu ini.

Baca Juga: Mesin Cetak Uang Palsu yang Disita di UIN Alauddin Harganya Rp600 Juta, Dibeli dari China, Termasuk Kertas dan Tinta

Selain AI, sejumlah tersangka yang kini telah ditahan di Mapolres Gowa masing-masing berinisial MN, KA, IR, MS, JBP, AA, SAR, SU, AK, IL, SM, MS, SR, SW, MM, dan RM.

Kapolres Gowa AKBP Reonald Simanjuntak menjelaskan, mesin cetak ini dibeli oleh tersangka sejak Bulan Oktober 2022 lalu.

Selain mesin cetak, juga didatangkan bahan baku pembuatan uang palsu dari China, seperti kertas dan tinta agar menyerupai aslinya.

Baca Juga: Cangkir Kopi Itu Tiba-tiba Jatuh dan Muh Tonang Pun Tumbang. Braak!

Awalnya, mesin cetak tersebut beroperasi di rumah milik tersangka berinisial ASS di Jalan Sunu 3 Blok N5 Makassar.

Namun karena ingin memproduksi lebih besar, ASS dan rekannya kemudian berkomunikasi dengan AI yang merupakan Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, agar mesin cetak itu dipindahkan ke dalam kampus.

Dan akhirnya pada Bulan September 2024, mesin cetak uang palsu yang berukuran besar ini dimasukkan ke Perpustakaan UIN Alauddin.

Baca Juga: Kasus Uang Palsu, Rektor UIN Alauddin Prof Hamdan Juhannis: Saya Marah, Malu, dan Tertampar

Kapolres Gowa AKBP Reonald Simanjuntak mengaku, pihak penyidik telah melakukan pra rekonstruksi bagaimana cara mesin cetak tersebut dimasukkan ke dalam kampus.

Pasalnya, mesin cetak ini berukuran besar dan berat. "Ada 25 orang anggota polisi yang mencoba mengangkat, namun tidak sanggup karena sangat berat," sebut Reonald Simanjuntak, Kamis 19 Desember 2024.

Ternyata, dari hasil pemeriksaan dari para tersangka, mesin tersebut diangkut masuk ke kampus UIN Alauddin menggunakan truk forklift.

Baca Juga: Kabid Humas Pemprov Sulsel Kenang Almarhum Muh Tonang Sosok Dekat dengan Ulama: Beliau Sahabat Saya!

"Jadi mereka menggunakan forklift untuk mengangkat mesin cetaknya. Dilakukan pada malam hari, tanpa sepengatahuan pihak kampus," bebernya lagi.

Awalnya, mesin tersebut mempunyai enam buah roda, namun tersisa empat roda. Pasalnya, dua lainnya copot dan lepas pada saat didorong masuk ke perpustakaan kampus karena saking beratnya.

"Alat itu dimasukkan oleh AI ke dalam kampus di Gowa, menggunakan gedung perpustakaan, tanpa sepengetahuan pihak kampus, dilakukan pada malam hari," tambah Kapolres Gowa AKBP Reonald Simanjuntak.

Baca Juga: BREAKING NEWS: Kepala Kanwil Kemenag Sulsel H Muh Tonang Wafat di Jakarta. Innalillahi!

Reonald Simanjuntak juga menerangkan, awal mulainya percetakan uang palsu di UIN Alauddin Makassar ini dilakukan sejak Bulan Septemmber 2024.

Namun pada akhir November 2024 lalu, para tersangka sempat menghentikan operasinya dikarenakan aksinya mulai terendus aparat kepolisian.

Dalam konferensi pers yang berlangsung di Mapolres Gowa, Kapolda Sulsel Irjen Pol Yudhiawan didampingi Kapolres Gowa AKBP Reonald Simanjuntak, dan Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis.

Baca Juga: Reaksi Rita Sugiarto Saat Lagunya Dinyanyikan Ifa Bulukumba di Ajang KDI 2024

Polisi juga memperlihatkan seluruh barang bukti, termasuk uang palsu yang bernilai ratusan juta rupiah dan mesin cetak yang digunakan tersangka mencetak upal.

***