POJOKSULSEL, POLMAN - Tiga besar nama calon Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Polewali Mandar (POlman) kini sudah berada di meja Bupati Samsul Mahmud. Proses seleksi calon Sekda Polman yang panjang itu kini memasuki tahap akhir, yang tinggal menunggu keputusan orang nomor satu di Polman.
Tiga nama yang lolos seleksi akhir dan masuk bursa calon Sekda, yakni Agusnia Hasan Sulur, I Nengah Tri Sumadana, dan Nursaid Mustafa.
Masuknya tiga nama itu mendapat tanggapan dari mantan Ketua Kesatuan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar (KPM-PM), Herman Kadir.
Baca Juga: Mapaba PMII: 100 Mahasiswa Baru Unhas dan UNM Dibekali Ilmu Kepemimpinan
Tokoh muda yang akrab disapa Hervhol ini mengingatkan pentingnya menjaga posisi Sekda tetap steril dari kepentingan politik praktis.
“Sekda adalah jabatan strategis. Sebagai pucuk pimpinan ASN di daerah, dia tidak boleh dipolitisasi atau dijadikan alat kekuasaan kelompok tertentu,” tegas Hervhol, Rabu (7/8/2025).
Hervhol yang juga Wakil Ketua Dewan Pendidikan Polman dan Tenaga Ahli Gubernur Sulbar menegaskan, jabatan Sekda harus diisi oleh sosok yang punya netralitas tinggi, integritas, dan profesionalisme dalam menjalankan roda pemerintahan.
Baca Juga: Wali Kota Parepare Sidak Pasar Sumpang Minangae, Cek Harga dan Fasilitas Pedagang
“Mereka yang punya rekam jejak keberpihakan politik, atau pernah ikut kontestasi, sebaiknya tidak berada di posisi ini. Kita butuh birokrasi yang objektif dan melayani semua golongan,” ucapnya.
Menurut Hervhol, Sekda memiliki peran sentral dalam pembangunan daerah. Ia adalah aktor utama dalam perencanaan, koordinasi lintas sektor, hingga pelaksanaan kebijakan publik. Karena itu, posisinya tidak boleh disusupi agenda politik sempit.
Lebih jauh, Hervhol juga menyoroti dinamika yang muncul di tengah masyarakat, terkait penilaian terhadap salah satu calon.
Baca Juga: Literasi Digital Jadi Tameng, Warga Diminta Waspada Informasi Sesat
“Riak-riak yang menyudutkan salah satu kandidat, menurut saya tidak relevan. Semua sudah melalui seleksi ketat dan transparan," katanya.
Bahkan, salah satu kandidat yang disorot merupakan pejabat eselon II di Kementerian Desa. Itu aset besar bagi Polman di tengah tantangan defisit anggaran dan efisiensi
Ia menilai, dengan jaringan luas dan pengalaman nasional yang dimiliki oleh kandidat tersebut, maka akan sangat bermanfaat dalam menghadapi tantangan daerah, terutama di tengah defisit anggaran dan tuntutan efisiensi pembangunan.
Karena itu, Hervhol menegaskan, publik dan pengambil kebijakan perlu melihat proses ini secara objektif dan rasional.
Jangan sampai tekanan politik atau manuver kepentingan mengalahkan prinsip meritokrasi.
“Kalau Sekda dipilih berdasarkan kualitas, bukan kedekatan, maka Polewali Mandar akan punya birokrasi yang kuat dan berdaya saing,” pungkasnya.
***




