POJOKSULSEL, BONE - Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar menghadiri milad ke-56 Pondok Pesantren Modern Al Junaidiyah Bone yang dirangkaikan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Acara ini digelar di Kampus II Pesantren Al Junaidiyah, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Rabu (7/1/2026).
Di hadapan ribuan santri Pesantren Modern Al Junaidiyah Bonedan tamu undangan, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan hikmah mendalam tentang makna Isra Mikraj sebagai puncak pengalaman spiritual seorang hamba ketika berada dalam kedekatan tertinggi dengan Allah SWT.
Mengupas Surah Al-Isra ayat 1, Nasaruddin Nasaruddin menjelaskan bahwa penggunaan frasa Subhanalladzi asra menunjukkan Isra Mikraj sebagai peristiwa luar biasa yang berada di luar jangkauan logika manusia.
Baca Juga: Gubernur Andi Sudirman Sulaiman Terima Satyalancana Wira Karya dari Presiden Prabowo
Menurutnya, setiap peristiwa yang diawali dengan kata subhana dalam Alquran menandakan kejadian yang tak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh ilmu pengetahuan.
“Isra Mikraj adalah perjalanan yang melampaui penalaran manusia. Ia bukan sekadar peristiwa fisik, tapi pengalaman spiritual yang sangat tinggi,” ujar Nasaruddin dalam tausiyahnya.
Menariknya, Menag juga menyoroti penggunaan kata bi’abdihi dalam ayat tersebut, bukan asra Muhammadan.
Baca Juga: 70 ASN Pemkab Maros Tak Masuk Kerja Usai Libur Tahun Baru, Ada Apa?
Hal itu, kata dia, menegaskan bahwa yang diangkat dalam Isra Mikraj adalah kualitas kehambaan Nabi Muhammad SAW.
“Yang bisa dinaikkan ke Sidratul Muntaha bukan sembarang manusia, tetapi seorang hamba sejati. Ini gambaran abdun yang selalu dekat dengan Tuhannya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nasaruddin menguraikan alasan Isra Mikraj terjadi pada malam hari. Dalam tradisi bahasa Arab, kata al-layl tidak hanya bermakna gelap, tetapi juga menggambarkan suasana hening dan bening, kondisi terbaik untuk perjalanan rohani.
Baca Juga: Pemkab Maros Lengkapi Eselon II, Ini Nama-Nama 10 Pejabat yang Dilantik Chaidir Syam
“Di siang hari banyak gangguan. Malam adalah waktu keheningan, ketika ruh manusia lebih mudah naik kepada Allah. Karena itu salat disebut sebagai mi’raj bagi orang beriman,” katanya.
Dalam ceramahnya, Menag juga menekankan bahwa makna masjid tidak terbatas pada bangunan fisik semata. Menurutnya, sujud sejati mencakup seluruh aspek diri manusia, baik lahir maupun batin.
“Sujud bukan hanya dahi yang menempel di lantai. Akal, hati, jiwa, dan seluruh organ batin juga harus tunduk. Karena itu tubuh manusia sejatinya adalah masjid,” tutur Nasaruddin.
Ia menambahkan, membersihkan tubuh sebagai “masjid” tidak cukup hanya dengan pakaian bersih, tetapi juga melalui wudu dan menjauhi perbuatan dosa.
Ia menatan, wusu memiliki dimensi pendidikan spiritual karena membersihkan anggota tubuh yang kerap digunakan untuk berbuat salah.
“Mata, mulut, telinga, tangan, dan kaki, semuanya dibersihkan lewat wudu. Inilah pelajaran spiritual yang sangat dalam dari Isra Mikraj,” ungkapnya.
Di hadapan para santri, Menag juga memberikan motivasi agar mereka bangga menempuh pendidikan di pesantren. Menurutnya, mondok bukan sekadar menuntut ilmu, tetapi juga investasi besar untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Baca Juga: Musibah
“Di pesantren, kalian bukan hanya belajar ilmu, tetapi juga membangun karakter rohani yang kuat. Ini bekal yang sangat berharga,” ucapnya.
Pada kesempatan tersebut, Kementerian Agama RI turut menyerahkan bantuan senilai Rp200 juta kepada pihak Pondok Pesantren Modern Al Junaidiyah Bone.
Bantuan itu diberikan langsung kepada pengurus yayasan dan pimpinan pesantren sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan pendidikan pesantren.




