POJOKSULSEL, PANGKEP - Ada yang berbeda dalam pelaksanaan Pekan Pesantren Mahasiswa Baru Universitas Muslim Indonesia (UMI) tahun ini.

Pekan Pesantren Mahasiswa Baru Universitas Muslim Indonesia dipusatkan di Pesantren Mahasiswa Darul Mukhlisin Padang Lampe, Kabupaten Pangkep.

Mahasiswa baru Universitas Muslim Indonesia secara bergelombang akan mengikuti Pekan Pesantren sebagai pengganti Ospek. Meraka akan mendapatkan pengetahuan seputar UMI selama tiga hari sebelum masuk kuliah.

Pekan Pesantren Mahasiswa Baru UMI tahun ini dikemas berbeda. UMI mulai menerapkan konsep paperless dengan memanfaatkan teknologi digital. Sistem kehadiran mahasiswa baru menggunakan barcode, sementara materi dan panduan kegiatan disediakan dalam format digital.

Tak hanya itu, untuk pertama kalinya program outbound mulai diterapkan sejak hari kedua pelaksanaan Pekan Pesantren UMI.

Baca Juga: Kebakaran Lahan 4 Hektare di Maros, Warga Bikin Jalan Darurat untuk Mobil Damkar

Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya UMI menyesuaikan pola pembinaan mahasiswa baru dengan karakter generasi Z, tanpa meninggalkan tujuan utama kegiatan, yakni pengenalan kampus sekaligus pembentukan karakter dan integritas.

Wakil Rektor IV UMI, Dr. KH. M. Ishaq Shamad, mengatakan Pekan Pesantren tidak sekadar menjadi pengganti kegiatan orientasi mahasiswa baru atau ospek.

Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang untuk memperkenalkan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus sebelum mereka memasuki dunia akademik.

“Tujuan Pekan Pesantren ini selain sebagai pengganti Ospek juga bagaimana agar adik-adik ini diperkenalkan terhadap universitas, baik itu yayasan, rektorat, prodi, sebelum mereka memasuki dunia akademik,” kata Ishaq Shamad.

Berbeda dengan orientasi mahasiswa baru pada umumnya, Pekan Pesantren UMI juga menitikberatkan pembentukan karakter melalui aktivitas keagamaan.

Baca Juga: Respons Kelangkaan LPG 3 Kg, Gubernur Sulsel Siapkan Langkah Ini

Selama berada di pesantren, mahasiswa baru dibiasakan menjalankan ibadah secara disiplin, mulai dari salat lima waktu, salat tahajud, zikir hingga doa.

Mereka juga mendapatkan berbagai materi dari pimpinan universitas sebagai bekal sebelum menjalani aktivitas akademik.

Ishaq Shamad mengatakan pembiasaan tersebut diharapkan membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas.

“Di pesantren ini diarahkan untuk membentuk kedisiplinan, jiwa-jiwa integritas supaya mereka nanti bisa menjadi sarjana yang berintegritas,” ujarnya.

Menurut dia, tiga hari pelaksanaan Pekan Pesantren merupakan tahap awal dari proses pembinaan karakter mahasiswa selama berada di UMI.

Ia mengibaratkan mahasiswa baru sebagai bibit unggul yang membutuhkan pembinaan secara berkelanjutan agar dapat tumbuh dengan baik.

“Kita berharap agar adik-adik yang mengikuti ini, walaupun hanya tiga hari, kita mengatakan bibit unggul. Seperti pohon, itu kalau disiram terus akan tumbuh unggul,” tuturnya.

Pembinaan tersebut, kata Ishaq Shamad, tidak berhenti setelah Pekan Pesantren selesai.

Baca Juga: Bukan karena Kuota Habis, Ini Penyebab Antrean BBM di Sulsel Menurut Gubernur Andi Sudirman Sulaiman

Mahasiswa akan mendapatkan pembinaan lanjutan melalui program pendidikan karakter di UMI, termasuk melalui UPT Pembinaan Karakter (PKD) dan Wakil Dekan IV di masing-masing fakultas.

“Sehingga insyaallah siraman-siraman itu bisa membentuk mereka untuk menjadi manusia yang berkarakter dan unggul,” katanya.

Selain pembinaan selama di pesantren, UMI juga akan memberikan program pencerahan qalbu selama satu bulan sebagai bagian dari proses penguatan karakter mahasiswa.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga mulai mengubah wajah Pekan Pesantren mahasiswa baru UMI.

Ishaq Shamad mengatakan, mulai tahun ini seluruh kegiatan kepanitiaan diarahkan menggunakan sistem paperless.

Baca Juga: Tim Damkarmat Maros Sisir dan Padamkan Titik Api di Pos 5 Bulu Saukang

Tidak ada lagi absensi manual menggunakan lembaran kertas. Kehadiran mahasiswa dicatat melalui sistem barcode.

“Mulai tahun ini tidak ada lagi kertas-kertas. Jadi semua kegiatan kepanitiaan itu paperless, mereka di-barcode kehadirannya. Tidak ada lagi absen manual,” jelasnya.

Materi kegiatan dan panduan bagi peserta juga disiapkan dalam bentuk digital.

Langkah tersebut menjadi bagian dari implementasi semangat digitalisasi yang dikembangkan UMI melalui konsep UMI Connection.

Selain lebih praktis, penerapan sistem digital dinilai sesuai dengan karakter mahasiswa baru yang mayoritas berasal dari generasi Z.

Penyesuaian juga dilakukan pada pola penyampaian materi.

UMI tidak ingin mahasiswa baru hanya duduk berjam-jam mendengarkan materi secara monoton. Karena itu, kegiatan dikombinasikan dengan sesi interaktif, ice breaking hingga aktivitas di luar ruangan.

Tahun ini, program outbound menjadi salah satu inovasi yang pertama kali diterapkan sejak hari kedua pelaksanaan Pekan Pesantren.

Baca Juga: Tasming Hamid: One Day Trail Adventure Selaras dengan Program Parepare sebagai Kota Event

Mahasiswa tetap mendapatkan pembinaan di dalam masjid, tetapi juga diberikan ruang untuk bergerak dan berinteraksi melalui aktivitas outbound di luar masjid.

“Jiwanya anak Gen Z tidak terlalu lama duduk, tapi dibarengi dengan aktivitas yang menyebabkan mereka bisa mobile. Selain itu materi itu bisa mereka pahami dengan baik,” kata Ishaq Shamad.