POJOKSULSEL, JAKARTA – Tim peneliti dari Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN melaksanakan kegiatan riset strategis bertajuk "Cerita dalam Hidangan: Tradisi Lisan Kuliner sebagai Potensi Wisata Gastronomi Berkelanjutan".

Penelitian ini dipimpin oleh Rismawidiawati dengan periset BRIN, Syamsurijal Adhan, Muh. Subair, Baso Marannu, Irfan Syuhudi, Hamsiati, dan Prof. Saleh Tajuddin dari Fakultas Ushuluddin UIN Alauddin Makassar.

Penelitian BRIN ini berlangsung sejak 16 Juni hingga 15 Juli 2025 di empat wilayah di Sulawesi Selatan: Gowa, Takalar, Pangkep, dan Parepare.

Dalam pelaksanaan riset, tim berhasil mendokumentasikan berbagai bentuk tradisi kuliner yang sarat makna simbolik dan religius.

Baca Juga: Penyuluh Agama Islam Sulsel Catat Sejarah Baru di PAI Award 2025

Di Kabupaten Pangkep, misalnya, ditemukan bahwa tradisi peca' sure tidak hanya dilaksanakan pada hari Asyura seperti yang umum diketahui, melainkan sepanjang bulan Muharram.

Hal ini menunjukkan bahwa praktik kuliner tersebut mencerminkan pemaknaan religius yang hidup dan bertransformasi secara lokal.

Di Parepare, tim mendapati bahwa pembuatan beppa pitunrupa atau kue tujuh rupa masih menjadi bagian penting dari berbagai ritual seperti kelahiran, kehamilan, perkawinan, hingga acara adat lainnya.

Setiap jenis kue dalam tradisi ini memuat makna simbolik tertentu, sebagai bentuk doa dan harapan keluarga, sehingga menjadikan kuliner sebagai media penyampai nilai budaya dan spiritual.

Baca Juga: Pemkot Parepare Gandeng STIKS Makassar, Genjot SDM dan Sosial

Sementara itu, di Gowa, tim menemukan keberadaan kampung pembuat sero yang menjadi pusat sejarah dan produksi kuliner sero-sero, sejenis kue tradisional berbahan dasar beras, telur, dan gula merah/putih.

Menariknya, meskipun dikenal dengan satu nama, kue ini memiliki setidaknya delapan bentuk berbeda.

Masing-masing bentuk tersebut melambangkan harapan-harapan khusus dalam pelaksanaan tradisi, seperti keselamatan, kelancaran acara, dan keberkahan hidup.

Hal ini memperlihatkan bahwa bentuk makanan menjadi bahasa simbolik yang penting dalam kehidupan adat masyarakat setempat.

Di Takalar, tepatnya di Desa Lantang, hidup dan lestari tradisi a’lammang, yaitu prosesi membakar lemang dalam bambu sebagai bentuk ungkapan rasa syukur setelah panen.

Tradisi ini bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan sarat dengan nilai pengharapan yang diwakili oleh berbagai simbol bentuk, jumlah, dan cara penyajiannya.

Masyarakat memahami lammang sebagai simbol keselamatan, keberkahan, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa kuliner tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga sarana komunikasi budaya yang menyimpan nilai-nilai historis, sosial, dan religius.

Baca Juga: Pertemuan Tahunan UPP WPPNRI 713, 714, 715 di Unhas, Dorong Penangkapan Ikan Terukur

Potensi cerita-cerita kuliner ini sangat besar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata gastronomi yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga pengalaman dan pemaknaan.

Namun demikian, tim menegaskan bahwa temuan ini masih bersifat awal dan merupakan bagian dari hasil riset sementara.

Banyak narasi dan praktik kuliner tradisional lainnya yang belum sempat diungkap secara mendalam, mengingat keterbatasan waktu penelitian yang hanya berlangsung selama satu bulan.

Tim menyadari bahwa waktu tersebut belum cukup untuk mengulik secara menyeluruh kekayaan kuliner Bugis-Makassar yang sangat melimpah. Oleh karena itu, riset ini secara khusus membatasi fokus pada kuliner yang memiliki keterkaitan erat dengan suatu tradisi atau praktik budaya tertentu.

***