POJOKSULSEL, MAKASSAR - Tiga varietas jagung hasil riset Universitas Hasanuddin (Unhas), yakni Jagung Jago Unhas (JJUH) 1, 2, dan 3, resmi mengantongi sertifikat Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian.
Sertifikat PVT memberi hak eksklusif pemulia atau pemegang hak untuk menggunakan, memperbanyak, menjual, dan memperdagangkan varietas Jagung Jago Unhas.
Dekan Fakultas Pertanian Unhas, Prof Dr Ir Rismaneswati SP MP, menegaskan bahwa pengakuan ini bukan sekadar administratif, tapi menjadi dasar untuk produksi besar dan distribusi komersial Jagung Jago Unhas.
Baca Juga: Profil Perjalanan Prof Thahir Maloko, Dari Buruh Pelabuhan hingga Guru Besar UIN Alauddin
"Khusus JJUH 1, 2, dan 3, sertifikat PVT sudah kami terima. Varietas lainnya masih berproses. Perlindungan ini memastikan inovasi kami memenuhi standar bibit unggul," kata Prof Rismaneswati, Rabu (17/9/2025).
Dalam regulasi Indonesia, PVT diatur melalui UU Nomor 29 Tahun 2000. Tanaman semusim seperti jagung mendapatkan perlindungan selama 20 tahun sejak tanggal pemberian hak.
Artinya, jagung JJUH 1–3 akan terlindungi dari penyalahgunaan pihak lain dalam jangka panjang.
Baca Juga: Dua Prodi di Fakultas Syariah UIN Alauddin Kembali Raih Akreditasi Unggul
Prof Risma menambahkan, keberadaan PVT akan memacu penelitian dan pemuliaan jagung berkelanjutan. Varietas baru diharapkan lebih tahan hama, berproduksi tinggi, dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Sementara itu, Rektor Unhas, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc, menyampaikan kebanggaannya.
“Inovasi jagung JJUH adalah implementasi nyata dukungan terhadap ketahanan pangan, sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo melalui Kementerian Pertanian. Ini juga wujud visi Kampus Berdampak, hasil riset yang memberi solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Ashabul Kahfi Ajak Semua Pihak Dukung MBG Lawan Stunting dan Ketimpangan
Capaian ini menegaskan peran Unhas sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga menghadirkan inovasi nyata yang mendukung kemandirian benih nasional.
Dari Parepare dilaporkan, jagung JJUH yang ditanam beberapa waktu lalu telah panen perdana sebanyak 5 ton. Panen kedua pada Senin (15/9) menghasilkan 8,8 ton per hektare. ***




