POJOKSULSEL, MAKASSAR - Universitas Muslim Indonesia (UMI) bergerak cepat merespons musibah banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, terutama Aceh, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Seperti di lokasi bencana Lombok hingga Palu lalu, UMI juga hadir langsung memberikan manfaat bagi kemanusiaan di Sumatera. UMI memberikan berbagai layanan untuk penyintas, membantu pemerintah setempat hingga menyalurkan berbagai kebutuhan pokok.
Rektor UMI Prof. H. Hambali Thalib menegaskan bahwa kampusnya tidak akan tinggal diam melihat situasi darurat tersebut.
Hambali Thalib mengatakan, UMI telah mengirim bantuan dalam berbagai bentuk seperti dukungan dana, tim medis, hingga teknologi pendukung pencarian korban.
Baca Juga: Dosen Unsulbar Dorong Siswa Kuasai Kosa Kata Bahasa Inggris lewat Wordwall dan Generative AI
UMI menyerahkan donasi awal sebesar Rp60 juta melalui Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), disalurkan langsung saat Silatnas dan Milad 35 ICMI di Bali.
Sementara itu, Fakultas Kedokteran UMI menghimpun donasi tambahan senilai kurang lebih Rp150 juta dari para dosen, mahasiswa, dan orang tua mahasiswa. Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat UMI juga masih membuka penggalangan dana dari berbagai pihak.
Tidak hanya bantuan finansial, UMI telah mengirim tim dokter sejak 4 Desember 2025. Titik pertama yang disasar adalah Tanjung Pura, Medan, sebelum tim bergeser ke lokasi terdampak lain.
Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran UMI, dr. Irna Diyana Kartika K, menuturkan bahwa pekan depan UMI akan kembali mengirim tenaga medis tambahan, termasuk dokter bedah dan anestesi, karena kebutuhan di lapangan meningkat.
Baca Juga: FKIK UIN Alauddin Aktif di Jeddah: Pengabdian, Riset, dan Kolaborasi Global
Menurut dr. Irna, banyak penyintas mengalami luka terbuka akibat benturan atau teriris benda tajam saat banjir menerjang. Tim UMI bekerja sama dengan tenaga medis setempat mendirikan rumah sakit darurat menggunakan tenda dan peralatan lapangan.
Di Kota Sibolga, Wali Kota Akhmad Syukri menyampaikan kondisi terkini melalui sambungan video call dengan pimpinan UMI. Hingga hari ke-11 pascabencana, tercatat 54 warga meninggal dunia dan empat lainnya masih hilang tertimbun material longsor.
Sekitar 4.500 orang mengungsi akibat rumah yang terendam dan rusak. Ia mengaku, fasilitas kesehatan milik pemkot sudah tidak mampu lagi menampung lonjakan pasien dan meminta tambahan tenaga medis dari UMI.
Baca Juga: Pemkot Parepare Perkuat Kolaborasi APIP dan APH Cegah Korupsi Diapresiasi KPK
“Hari ini masih hujan dan kembali banjir. Banyak warga sakit dan membutuhkan layanan kesehatan segera,” ujarnya.
Di sisi lain, UMI juga menerjunkan dukungan teknologi melalui penggunaan drone DJI Matrice 30T yang memiliki kamera termal.
Wakil Rektor II, Prof. Zakir Sabara, menjelaskan bahwa drone tersebut digunakan tim lapangan untuk membantu mendeteksi posisi jenazah yang terjebak di balik lumpur tebal.
Drone kelas enterprise itu mampu bertahan di cuaca ekstrem dan dilengkapi sensor multispektral, membuat proses pencarian lebih cepat dan akurat.
“Bahkan sudah ada beberapa titik yang terdeteksi sebagai lokasi jenazah, hanya saja materialnya sangat padat sehingga proses evakuasi membutuhkan waktu lebih lama,” ujarnya.
***




