POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof. Hambali Thalib memberikan respons mendalam atas pidato pengukuhan tiga guru besar UMI yang berlangsung di Auditorium Al Jibra, Kampus UMI, Jalan Urip Sumoharjo, Rabu (24/12/2025).
Menurut Hambali Thalib, tiga pidato guru besar UMI yang disampaikan dari latar keilmuan berbeda justru membentuk satu rangkaian gagasan yang utuh tentang arah pembangunan manusia dan peradaban.
Tiga guru besar UMI yang dikukuhkan masing-masing berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. Prof. Muhammad Ikhtiar dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Determinan Sosial dan Kualitas Kesehatan Lingkungan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI.
Sementara dari Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan, UMI mengukuhkan Prof. Muliadi sebagai Guru Besar Ilmu Apresiasi Sastra dan Prof. Muhammad Yunus sebagai Guru Besar Ilmu Literasi (Reading and Writing).
Baca Juga: STAIN Majene Tampilkan Wajah Baru Kampus Sambut Mahasiswa 2026
Hambali Thalib menyoroti pidato Prof. Muhammad Ikhtiar yang menegaskan bahwa kesehatan tidak bisa dipersempit hanya pada urusan rumah sakit, obat-obatan, atau teknologi medis. Lebih dari itu, kesehatan merupakan hasil dari lingkungan sosial yang adil, bersih, dan manusiawi.
“Ketika lingkungan rusak dan kelompok masyarakat terpinggirkan, yang sakit bukan hanya tubuh manusia, tapi juga struktur sosial kita,” kata Hambali Thalib merespons gagasan tersebut.
Ia menilai, perspektif kesehatan lingkungan yang dibangun Prof. Ikhtiar menempatkan isu sanitasi, keadilan sosial, dan ruang publik sebagai indikator peradaban. Dari rumah hingga ruang publik, kondisi lingkungan mencerminkan sejauh mana sebuah masyarakat memuliakan kehidupan.
Baca Juga: Bupati Maros Kunjungi RSJP Paramarta Bandung, Perkuat Transformasi Digital Rumah Sakit
Sementara itu, pidato Prof. Muliadi tentang sastra dan puisi, menurut Rektor UMI, menjadi pengingat penting bahwa manusia tidak hidup semata dari data dan angka. Sastra hadir sebagai ruang nilai, rasa, dan kearifan yang menjaga ingatan kolektif sebuah bangsa.
"Bahasa dan sastra adalah cara peradaban menyimpan makna. Kadang satu bait puisi atau pantun bisa menegur kesadaran manusia lebih dalam dibanding seribu instruksi," katanya.
Pidato ketiga yang disampaikan Prof. Muhammad Yunus tentang literasi membaca dan menulis juga mendapat perhatian khusus.
Baca Juga: 13 Objek Diduga Cagar Budaya Diusulkan TACB Kabupaten Maros, Apa Saja?
Hambali Thalib menilai, literasi bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan fondasi berpikir di tengah dunia yang bergerak cepat, digital, dan dipengaruhi kecerdasan buatan.
“Kemampuan menulis yang jernih dan runut adalah tanda manusia yang berpikir. Dari paragraf yang baik, lahir gagasan yang sehat. Dari gagasan yang sehat, lahir kebijakan yang lebih baik,” katanya.
Jika dirangkai, lanjut Prof. Hambali, ketiga pidato guru besar tersebut sesungguhnya menawarkan satu visi besar tentang manusia seutuhnya. Tubuh dijaga melalui kesehatan lingkungan, jiwa dirawat melalui nilai dan sastra, serta pikiran diasah melalui literasi.
Ia menegaskan, UMI mendorong agar gagasan-gagasan akademik seperti ini tidak berhenti di ruang seremonial, tetapi terus hidup dalam praktik pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Di sinilah peran universitas. Bukan hanya mencetak sarjana, tetapi ikut merawat peradaban,” tutup Prof. Hambali.
***




