POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kota Makassar dinilai masih membutuhkan ribuan ustaz dan ustazah untuk memperkuat pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan (MUI Sulsel) Prof. KH. Muammar Bakry, memperkirakan sedikitnya dibutuhkan sekitar 4.000 ustaz dan ustazah yang tersebar di berbagai wilayah kota.

Menurut Muammar Bakry, keberadaan ribuan ustaz dan ustazah bukan sekadar untuk mengisi kegiatan dakwah, tetapi menjadi pendamping masyarakat dalam berbagai persoalan keagamaan yang dihadapi sehari-hari.

Baca Juga: Nama-nama 11 Perwira Menengah Polda Sultra yang Resmi Sertijab, Termasuk 6 Kapolres

"Di Kota Makassar setidaknya dibutuhkan sekitar 4.000 ustaz dan ustazah yang dipastikan menjadi pendamping masyarakat dalam bidang keagamaan," ujarnya saat memberikan arahan pada Rapat Kerja Tahunan MUI Kota Makassar di Hotel Horison, Jalan Jenderal Sudirman, Selasa (28/7/2026).

Untuk mewujudkan hal tersebut, Muammar Bakry menilai langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendata seluruh ustaz dan ustazah yang ada di Makassar.

Pendataan itu juga perlu memuat latar belakang organisasi masing-masing, mulai dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah, Al-Irsyad, Persis, hingga organisasi Islam lainnya.

Baca Juga: Enam Dokter Baru Resmi Disumpah FKIK UIN Alauddin Makassar, Ini Nama-namanya

Namun, ia menegaskan pendataan tersebut bukan untuk mengelompokkan ataupun membedakan para dai. Sebaliknya, data itu dibutuhkan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan keagamaan yang sesuai dengan karakter lingkungan dan kebutuhannya.

Menurutnya, pendekatan seperti itu akan membuat masyarakat lebih nyaman menerima pembinaan keagamaan sekaligus meminimalkan potensi gesekan akibat perbedaan latar belakang organisasi.

Muammar Bakry mengingatkan bahwa MUI merupakan rumah besar yang menaungi berbagai organisasi Islam. Karena itu, perbedaan warna organisasi tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling mempertentangkan satu sama lain.

Baca Juga: Perusahaan Kanada Bakal Investasi Rp1,3 Triliun Bangun Pengolahan Sampah Modern di Gowa

"Perbedaan organisasi adalah hal yang wajar. MUI adalah rumah besar umat Islam yang menghimpun seluruh elemen," katanya.

Ia kemudian mengibaratkan ulama sebagai bintang di langit yang menjadi penunjuk arah bagi manusia. Semakin banyak ulama yang hadir dan berperan di tengah masyarakat, semakin kuat pula bimbingan keagamaan yang dapat dirasakan umat.

Karena itu, ia menilai keberadaan ulama perlu terus diperkuat, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

Musyawarah Daerah (Musda) MUI, kata dia, menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antarorganisasi Islam sekaligus meningkatkan pelayanan keagamaan dan menjaga persatuan umat di Kota Makassar. ***