POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin (UIN Alauddin), Prof Hamdan Juhannis, merespons singkat pidato empat guru besar lintas disiplin ilmu UIN Alauddin Makassar, yang berlangsung di Auditorium Kampus II, Kabupaten Gowa.
Prof Hamdan Juhannis mengaku tertarik dengan pidato guru besar Prof. Dr. Muljono Damopolli, M.Ag, yang mengulik Mengulik Sebutan Gelar: Dari Pesantren hingga Ruang Publik.
"Pidato guru besar Prof Muljono ditulis dengan sangat serius, penuh penghayatan dan internalisasi dengan sangat mendalam. Saya tertarik," kata Prof Hamdan Juhannis.
Prof Hamdan Juhannis menambahkan bahwa istilah kiai muda (KM) yang dibahas dalam pidato Prof Mulda, adalah gelar akademik. "Kiai muda ditempuh selama 4 tahun," katanya.
Baca Juga: Dewas Perumda Parkir Makassar Muharram Madjid: Jabatan Hanya Daki, Utama Ini...
Pada kesempatan itu, Rektor UIN Alauddin juga merespons pidato Prof Nurhidayat Muhammad Said, yang mengulas pidato berjudul Artificial Intelligence: Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Digital.
Dirinya mengakui bahwa Prof Hidayat adalah seorang pendakwah ulung yang dimiliki UIN Alauddin Makassar.
"Prof Dayat ini dalah pendakwah ulung dan juga bukan hanya praktisi tetapi organisatoris dalam bidang dakwah," katanya.
Prof Hamdan Juhannis kemudian memiliki pertanyaan replektif pada pidato Prof Hidayat yaitu tentang bagaimana pemanfaatan AI untuk membuat dakwah semakin menarik. Prof Dayat dalam pidatonya banyak mengulas terkait tantangan dan peluang pemanfaatan AI.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Paparkan Capaian Sulawesi Selatan pada Pembukaan Gerakan Pangan Murah
"Orang sering mengatakan ketika belajar AI, plejaran yang diberikan, kaku, monoton, dan tidak punya rasa humor," katanya.
Selanjutnya, Prof Hamdan Juhannis menyebut bahwa pidato Prof Syamzan Syukur juga begitu menarik, karena berkaitan dengan jejak sejarah yang telah berlangsung ratusan tahun.
Prof Syamzan Sykurur menyampaikan pidato pengukuhan berjudul Transformasi Kultural: La Galigo dan Jejak Islamisasi dalam Historiografi Sulawesi Selatan.
"Ini tulisan yang sangat serius dan membutuhkan fokus untuk menelaah dengan sangat baik, apalagi yang ditulis adalah jejak sejarah yang telah berlangsung ratusan tahun," katanya.
Ia hanya menggarisbawahi, seperti apa irisan pesan-pesan luhur Laga Logi dan nilai-nilai keislaman.
Prof Hamdan Juhannis juga tertarik dengan pidato pengukuhan guru besar Prof La Ode Ismail Ahmad yang menjelaskan pentingnya tata krama.
"Menarik ini karena ini untuk kepentingan kita semua, khususnya di kampus ini,
Rektor UIN Alauddin menjelaskan, tata karama itu adalah etika. Etika itu adalah adab. Adab itu adalah akhlak. Orang bijak mengatakan akhlak itu berada di atas syariat.
"Itulah sebabnya orang yang bertika cenderung taat hukum dan orang yang taat hukum belum tentu beretika. Betapa pentingnya tatakrama sosial itu," katanya.
Prof La Ode Ismail menyampaikan pidato guru besar berjudul Pengarusutamaan Tata Krama Sosial dalam Membangun Kampus Peradaban Perfektif Hadis.
***




