POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis, mengajak luaran UIN Makassar menjadi untuk sarjana organik.
"Pesan saya adalah jadilah sarjana organik," kata Prof Hamdan Juhannis saat sambutan acara wisuda angkatan 113 UIN Alauddin di Auditorium Kampus II, Kabupaten Gowa, Selasa (16/9/2025).
Prof Hamdan Juhannis mendefinisikan sarjana organik sebagai sarjana yang tidak pernah lekang oleh waktu. Sarjana yang bisa tumbuh meskipun tidak dipupuk.
Ia menilai, sarjana organik adalah sarjana yang mampu bertransformasi, bukan hanya secara ilmiah, tetapi secara alamiah.
Baca Juga: Pemprov Sulbar Bakal Perbaiki Dua Ruas Jalan Ini di Polman, Kucur Dana Rp49 Miliar
Ia berpendapat, sarjana akademik tidak hanya mampu sukses dalam bidang akademik, tetapi memiliki kemampuan untuk mengenali lingkungan sekitar.
Guru Besar Sosiologi itu menganggap sebuah kewajaran luaran UIN Alauddin menjadi sarjana organik, karena berada dalam lingkungan kampus yang asri.
"Dipenuhi pepohonan yang tidak dipupuk tetapi tumbuh dengan subur, hijau, seperti hijaunya jaket almamater kalian. Itu Artinya, identitas dan ciri khas kalian adalah organik," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa sarjana organik adalah mereka yang mampu memberi kontribusi di mana pun berada.
Baca Juga: Green SM Taksi Resmi Mengaspal di Makassar, Gubernur Sulsel Dorong Inovasi Hijau
"Sarjana yang tidak mudah ditenggelamkan oleh tantangan kehidupan," katanya.
Dalam sambutannya, penulis buku Melawan Takdir itu membeberkan tiga syarat sarjana organik, yaitu keterampilan, cofidence (kepercayaan diri), dan empati.
Terkait keterampilan, Prof Hamdan menyampaikan ilustrasi lebah yang tidak pernah putus asa memproduksi madu.
Ia kemudian menjadikan payung sebagai contoh ilustrasi kepercayaan diri.
Dirinya mengatakan, payung memang tidak bisa menghentikan hujan. Tapi ia adalah alat pelindung berjalan di tengah hujan.
"Kepercayaan diri tidak lantas membuat kalian berhasil tetapi kepercayaan diri membuat kalian bertahan, berani menghadapi setiap tantangan supaya bisa sampai pada cita-cita besar," ungkapnya.
Sementara itu, Prof Hamdan Juhannis mengatakan bahwa empati adalah kesediaan untuk melihat sesuati berdasarkan pikiran atau kacamata orang lain.
"Empati adalah kesediaan untuk berjalan seakan menggunakan sepatu orang lain," katanya.
***




