POJOKSULSEL, MAKASSAR - Para penggiling beras di Sulawesi Selatan (Sulsel) akhirnya mendapat kepastian untuk bisa kembali beroperasi seperti biasa.
Hal itu setelah Dinas Ketahanan Pangan Sulsel mengumpulkan seluruh pihak terkait, mulai dari penggiling beras, Satgas Pangan, Bank Indonesia, hingga instansi terkait lainnya, Jumat (15/8/2025).
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, Kemal Redindo, mengatakan rapat ini menghasilkan komitmen bersama untuk menjaga harga eceran tertinggi (HET) beras sekaligus memastikan tak ada praktik oplosan di daerah.
Baca Juga: GrabBike 10 Tahun, Pecahkan Rekor MURI Lewat 5.000 Tumpeng
Kemal Redindo menilai, stok beras di Sulsel sebenarnya tidak bermasalah. Hanya saja, beberapa penggiling beras mengakui masih ada rasa takut akibat sejumlah kasus yang pernah terjadi, seperti dugaan pengoplosan.
Namun, komitmen yang dibangun dalam rapat memastikan bahwa tidak ada praktik oplosan di Sulsel.
Kemal Redindo meminta para penggiling tidak perlu khawatir sepanjang ikut regulasi pemerintah. Yakni broken beras medium 25 persen. Beras premium 15 persen.
Baca Juga: Rayakan HUT Kemerdekaan, Kanwil Kemenham Sulsel Dorong Warga Melek HAM dan Kesehatan
Kesepakatan itu membuat penggiling kembali percaya diri menjalankan usahanya tanpa khawatir diperiksa atau dicurigai melakukan oplosan oleh Satgas Pangan.
"Satgas Pangan juga sudah memberi permit bahwa kalau kalian juga teman-teman penggiling maksudnya mengatakan bahwa sesuai regulasi yang dikeluarkan berasnya, itu tidak akan terjadi apa-apa," ujar Kemal Redindo.
Dalam rapat itu ditegaskan, HET beras premium Rp12.500 per kilogram. Beras medium Rp14.900. dan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah Rp6.500.
Baca Juga: Polman Tertinggi, Ini Sebaran 95 Persen Mahasiswa Baru Unsulbar Putra Daerah
Menurut Kemal, angka tersebut masih memberi keuntungan bagi penggiling.
"Bahwa dengan harga gabah Rp6.500 apakah kalian sudah untung? Tadi kesepakatannya bahwa ini sudah untung. Oleh karena itu kalau mereka sudah untung, artinya HET itu jangan dilebihkan," ungkap Kemal Redindo.
Kemal Redindo mengatakan, komitmen itu perlu dibangun sejak awal. Apalagi akan memasuki panen musi kedua di bulan September mendatang.
"Sehingga dari panen inilah yang kami berhasil menyepakati bahwa setelah panen gabah itu juga harus Rp6.500. Tidak lebih," katanya.
Menurutnya, kesepakatan itu penting agar tidak terjadi persaingan tidak sehat antar penggiling, misalnya siapa yang membeli lebih banyak dengan harga lebih tinggi.
Dengan harga yang seragam Rp6.500, maka stabilitas harga bisa terjaga dengan baik. ***




