POJOKSUKSEL, MAKASSAR - Pemprov Sulsel akan memaksimalkan monitoring Puskesmas dan Posyandu untuk menurunkan stunting.
Hal itu menyusul target Pj Gubernur Sulsel Prof Zudan Arif Fakrulloh untuk menurunkan prevalensi stunting hingga 10 persen.
Prevalensi stunting di Sulsel saat ini masih berada pada angka 27 persen pada tahun 2023. Sementara, target prevalensi stunting nasional, yaitu 14 persen di tahun 2024.
Baca Juga: Rizna Kumalasari, Mahasiswi Kesmas UIN Alauddin Lolos Forum Pemuda Perubahan
"Kita coba. Banyak (langkah pastinya (menurunkan stunting)" kata Prof Zudan Arif Fakrulloh, Kamis (6/6/2024).
Ia mengatakan, monitoring Puskesmas dan Posyandu akan dilakukan setiap dua pekan.
Ia menjelaskan, memaksimalkan monitoring di Puskesmas dan Posyandu dilakukan karena dua layanan itu termasuk yang fokus pada penanganan stunting.
Baca Juga: Primaya Hospital Hertasning dan Kemensos Target Operasi Katarak 100 Pasien Peringati Hari Lansia
"Yang dimonitoring apa? Puskesmas dan Posyandu, karena pengukuran bayi ada di sana," kata mantan Penjabat Gubernur Sulawesi Barat itu.
Tidak hanya itu, langkah lain yang akan dilakukan Pemprov Sulsel adalah membangun pusat-pusat layanan tumbuh kembang anak.
Ia optimistis Pemprov Sulsel mampu turunkan stunting, jika semua stakeholder bekerja detail, koordinatif dan kompak.
Sementara itu, RSKD Makassar telah menghadirkan Pusat Layanan Tumbuh Kembang Anak.
Direktur RSKD Dadi Makassar, dr Andi Mappatoba mengatakan, Pusat Layanan Tumbuh Kembang Anak dibuat untuk menyelesaikan masalah pada anak-anak.
"Terutama balita itu ada yang kita kenal dengan 3D, disease (penyakit), disorder (gangguan), disabilitas," kata Andi Mappatoba.
Ia mengatakan, fungsi pusat layanan tersebut adalah untuk mendeteksi 3D. Misalnya, untuk pertumbuhan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, tinggi badan menurut umur, berat badan menurut umur.
"Pada umur yang sama kita tahu ini anak masuk dalam kategori stunting atau tidak, gizi kurang atau tidak, gizi buruk atau tidak," tambahnya. ***




