POJOKSULSEL, MAKASSAR - Santri Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Pondok Pesantren Aljunaidiyah Biru Bone mengikuti pelatihan penulisan atau jurnalistik di Enreco Makassar. Pelatihan jurnalistik ini merupakan rangkaian Rihlah Arkeologi Religi dan Historis Lokal Islam Sulawesi Selatan (Sulsel).
Pelatihan jurnalistik di Enreco dipandu Dr Muslihin Sultan, sebagai fasilitator Rihlah Arkeologi Religi dan Historis Lokal Islam Sulsel, dengan pemateri Direktur Utama (Dirut) Media Online Pojoksulsel Idchan Pasinringi. Pelatihan berlangsung interaktif, diawali Idchan Pasinringi dengan bertanya empat sifat Nabi Muhammad kepada peserta yang berjumlah sekitar 40 orang.
"Sebutkan sifat sifat Nabi Muhammad yang harus kita teladani," tanya Idchan Pasinringi kepada peserta. Sifat-sifat keteladanan Nabi Muhammad pastinya sudah dihafal semua santri Pesantren Aljunaidiyah Biru Bone.
Baca Juga: Gubernur Sulsel dan Kapolda Hadir Melayat Ibunda Wagub Fatmawati Rusdi
Sifat Nabi Muhammad adalah siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (menyampaikan kebenaran).
"Nah, itulah sifat keteladanan yang harus menjadi dasar sebagai penulis atau jurnalis," kata Idchan Pasinringi.
Kepada para santri Pondok Pesantren Aljunaidiyah Biru Bone, Idchan Pasinringi mengatakan, seorang jurnalis harus jujur dalam menyampaikan informasi. Jika seorang jurnalis tidak jujur, pasti berita yang disampaikan ke publik akan menjadi masalah.
Baca Juga: GREBEG KPU Makassar Edukasi Pemilih Pemula di SMKN 8, Singgung Pemilihan Ketua OSIS
Pewarta yang tidak jujur dalam menyampaikan informasi karena sarat akan kepentingan tertentu membuat publik dan situasi menjadi kacau belau. Silang sengkarut informasi terjadi dan polemik di publik. Itu akibat dari jurnalis dan media yang tidak jujur menyampaikan informasi yang dikemas dalam berita ke publik.
Seorang jurnalis, lanjut Idchan Pasinringi, juga harus amanah. Narasumber sudah mengamanahkan pesan kepada penulis untuk disampaikan ke publik. Jika tidak amanah, juga akan menjadi persoalan. Tidak hanya kepada publik yang membaca, mendengar, atau melihat pesan itu, tapi juga kepada narasumbernya.
Seorang jurnalis atau penulis, kata Idchan Pasinringi, juga dituntut harus cerdas dalam menganalisa persoalan. Tulisan baru akan bagus dan komprehensif jika diawali dengan analisa kecerdasan penulisnya.
Baca Juga: Pemprov Sulbar Matangkan Skema TPP 2026, Ali Chandra Tegaskan Hal Ini
Terakhir adalah jurnalis bertugas sebagai penyampai kebenaran. "Sampaikanlah hal hal yang baik dan benar. Banyak topik dan tema yang bisa menginspirasi untuk umat ditulis pun disampaikan melaui pesan audio visual. Yang tidak jelas dan merusak, tinggalkan," kata Idchan Pasinringi.
Sekadar diketahui, Idchan Pasinringi juga merupakan alumni Pondok Pesantren Aljunaidiyah Biru Bone, yang saat ini dipercayakan sebagai kepala Bidang Ekonomi Bisnis di Yayasan Pesantren Modern atau yayasan dari Pesantren Modern Aljunaidiyah Biru Bone. Sementara di organisasi alumni, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Alumni Pesantren Modern Aljunaidiyah Bone, Idchan Pasinringi dipercayakan sebagai bendahara umum.
Jika sebagian besar alumni pesantren menjadi dai dan tenaga pendidik, Idchan Pasinringi memilih karir berbeda sebagai jurnalis. Diawali dengan mengambil kuliah S1 di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas), sempat dilanjutkan S2 Manajemen Media Massa di Unhas, namun harus terhenti karena ditugaskan oleh Tribun Timur ke Tribun Batam. Pendidikan S2 baru kemudian di selesaikan di Universitas Indonesia Timur (UIT) di Jurusan Administrasi Negara.
Memulai karir jurnalis di Tribun Timur, grup media Kelompok Kompas Gramedia (KKG), pada 2003-2004, dilanjutkan ke Tribun Batam 2004-2007.
Selanjutnya, 2007, Idchan Pasinringi bergabung sebagai "pasukan" awal Koran Sindo Sulsel, grup MNC atau lebih dikenal dengan grup RCTI. Di Koran Sindo Sulsel dilakoni hingga 20015.
Keluar dari Koran Sindo Sulsel 2015, Idchan Pasinringi sempat bergabung di koran Inilah Sulsel sebelum kemudian merintis media online Pojoksulsel.
Baca Juga: Bupati Maros Dorong Hilirisasi Enam Komoditas Perkebunan, Siap Sukseskan Program Nasional
Karir jurnalisnya dimulai dari reporter di berbagai desk, koordinator liputan, redaktur, pemimpin redaksi, hingga saat ini dipercayakan sebagai direktur utama media online Pojoksulsel. Diketahui, Pojoksulsel tergabung dalam grup media Jawa Pos Group atau JPNN.
Pelatihan jurnalistik bagi santri PDF Ulya Pondok Pesantren Aljunaidiyah Biru Bone berlangsung sekitar dua jam, dimulai pukul 10.00 Wita, di Enreco, Jalan Bougenville, Panakkukang, Kota Makassar, Kamis (25/9/2025).
Muslihin Sultan mengatakan, pelatihan penulisan ini penting berikan sebagai bekal peserta dalam penyusunan laporan hasil penelitian dan temuan lapangan mereka selama kegiatan.
"Peserta kita bagi dalam sembilan kelompok dengan beberapa tema dan topik berbeda. Nantinya, setelah mereka kembali ke pondok, akan membuat laporan yang selanjutnya akan dipresentasekan," kata Muslihin Sultan.
Baca Juga: Satgas PPK Unhas Sosialisasi Pencegahan Kekerasan di Fakultas Vokasi
Muslihin Sultan mengatakan, kelompok akan dibagi jumlah anggotanya oleh pendamping sesuai dengan tempat kunjungan. Setiap kelompok akan bertugas membuat laporan reportase berita tempat yang dikunjungi dibimbing oleh guru/pembina pendamping.
Tulisan peserta yang merupakan santri PDF Ulya Pondok Pesantren Aljunaidiyah kelas 10, 11, dan 12 juga akan dipublikasikan di web. www.junaidiyah.com.
Sekadar diketahui, Rihlah Arkeologi Religi dan Historis Lokal Islam Sulsel diikuti 36 orang santri didampingi lima orang pembina dan guru, yakni Muslihin Sultan, Maman Budiman, Sumartina, Dhiyaa, Nisa.
Baca Juga: Empat Alumni FKep Unhas Tembus Beasiswa Perawat Internasional ke Austria
Rihlah Arkeologi Religi dan Historis Lokal Islam Sulsel dilaksanakan selama tiga hari, 23-25 september 2025.
Rihlah Arkeologi Religi dan Historis Lokal Islam Sulsel santri Pondok Pesantren Aljunaidiyah ini, dijelaskan Muslihin Sultan, bermaksud dan bertujuan untuk menambah wawasan pengetahuan santriyun dan santriyaat dalam hal situs-situs arkeologi religi dan sejarah Islam lokal Sulsel.
"Serta menanamkan nilai-nilai edukatif historis religius dalam suasana yang santai fun dan ilmiyah," jelas Muslihin Sultan.
Adapun lokasi lokasi yang dikunjungi peserta, yakni Ma'had Aliy As'adiyah, Wajo; Ma'had Aliy DDI Mangkoso, Barru; Patung Ainin Habibie di Parepare; Masjid Tua Katangka Gowa;
Makam Arung Palakka (Raja Bone ke-13); Makam Karaeng Pattingalloang di Gowa; Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Makassar; Masjid Almarkaz Islamiy, Museum Lagaligo; Benteng Rotterdam, Masjid 99 Kuba.
Pelatihan jurnalistik di Enreco berlangsung interaktif dan santai. Terkadang diselingi canda canda ala "santri" yang terkadang lucu, kadang satir. (***)




