POJOKSULSEL, MAKASSAR - Mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr dr Warsinggih dikukuhkan sebagai guru besar, Kamis (5/12/2024).
Prof Warsinggih menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas periode 1985-1986.
Kini, Prof Warsinggih dikukuhkan sebagai guru besar bidang bedah digestif Fakultas Kedokteran Unhas dengan nomor keanggotaan 536.
Prof Warsinggih menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Dokter Bedah Digestif Indonesia (2020-2024).
Dirinya juga tercatat sebagai staf bedah digestif Departemen Ilmu Bedah FK Unhas (2010-sekarang)
KPS sub spesialis ilmu bedah departemen Ilmu Bedah FK Unhas (2022-sekarang)
Baca Juga: Cegah Anggotanya Terlibat Judi Online, Kodam XIV Hasanuddin Sidak HP Prajurit TNI, Hasilnya...
Prof Warsinggih telah menerbitkan 76 publikasi ilmiah, 9 buku, dan 3 HAKI.
Prof Warsinggih menyampaikan pidato pengukuhan berjudul, Deteksi Dini Terpesonalisasi Berbasis Inteljensia Artifisial dalam Meningkatkan Luaran Pasien Kanker Kolorektal dalam Menyongsong Era Revolusi Industri 5.0.
Pada kesempatan tersebut, Prof Warsinggih menjelaskan, kanker kolorektal merupakan salah satu keganasan saluran pencernaan yang paling banyak ditemui dan memiliki tingkat morbitas dan mortalitas yang tinggi.
Baca Juga: Program Studi dan Daya Tampung UIN Datokarama Palu Sulawesi Tengah di Jalur SPAN PTKIN 2025
Kanker kolorektal berada pada urutan ketiga kasus terbanyak yang diderita oleh pria dengan presentase 10.0 persen.
Revolusi industry 5.0 adalah era baru dalam perkembangan industry yang ditandai dengan penggunaan teknologi canggih untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas hidup.
Penerapan Intelejensia artifisial telah banyak digunakan dalam bidang kesehatan terutama untuk skrining, diagnosis, dan terapi banyak kanker.
Penerapan ini dalam skrining kanker kolorektal dapat meningkatkan kanker ini terdeteksi secara dini.
Sehingga, secara signifikan dapat meningkatkan kualitas hidup dan survival pasien dengan kanker kolorektal.
“Model intelejensia artifisial dengan penggunaan pembelajaran mesin memungkinkan pembuatan pola yang menilai individu secara spesifik dalam memberikan prediksi kejadian dan rekomendasi diagnosis atau terapi," kata Prof Warsinggih.
Ia mengatakan, dua aplikasi intelejensia artifisial yang paling menonjol untuk skrining ini adalah deteksi dengan bantuan computer (CADe) dan diferensia diagnosis dengan bantuan computer (CADx).
Secara umum, sistem ini dibangun menggunakan model kompleks yang melibatkan algoritma berlapis dan berurutan sehingga akurasi yang dicapai hampir seimbang dengan diagnosis histopatologhi akhir.
Kolonoskopi adalah standar baku diagnosis kanker kolorektal dan sangat direkomendasikan sebagai kriteria skrining awal keseluruhan pedoman.
Profil Prof Warsinggih
Prof Warsinggih lahir di Kebumen, Jawa Tengah 21 Februari 1962.
Jenjang pendidikan
SDN Kebumen 1971
SMP Bhakti Mulia Prembun 1977
SMA Negeri 2 Makassar 1981
Sarjana Profesi dokter Fakultas Kedokteran Unhas 1989
Spesilis bedah pada departemen ilmu bedah Fakultas Kedokteran Unhas 2002
Konsultan bedah digestif
Pendidikan doktor Pascasarjana Unhas 2012
Baca Juga: BBMKG Makassar: Curah Hujan Tinggi di Sulawesi Selatan Dipengaruhi Fenomena MGO
Pengalaman pekerjaan
Kepala Puskesmas Bira Kota Makassar (1990-1996)
Spesialis bedah di RS Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng (2002-2005)
Ketua IDI Cabang Bantaeng (2003-2006)
Spesialis bedah di RS Daya Makassar (2005-2010)
Baca Juga: BPBD Sulsel Respons Peringatan Dini Peningkatan Cuaca 4-6 Desember di Sulawesi Selatan
Ketua Departemen Ilmu Bedah FK Unhas (2014-2022) ***




