POJOKSULSEL, MAKASSAR - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri berhasil mengidentifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT). Korban diketahui bernama Florencia Lolita Wibisono (33).
Identitas Florencia dipastikan setelah proses identifikasi ilmiah yang dilakukan Tim DVI Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Selatan, didukung berbagai unsur forensik nasional.
Kepala Biddokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr. Muhammad Haris, menjelaskan hasil pemeriksaan menunjukkan jenazah dengan nomor PM 62 B.01 dinyatakan cocok dengan data antemortem nomor AM 004 dan telah teridentifikasi atas nama Florencia Lolita Wibisono.
Menurut Haris, proses identifikasi dilakukan dengan mengacu pada sejumlah parameter ilmiah yang menjadi standar internasional.
“Identifikasi dilakukan melalui sidik jari, data odontologi atau gigi, properti, serta ciri medis dan fisik korban,” ungkapnya dikutip laman Polrestabes Makassar.
Baca Juga: Tim Voli Maros Sapu Bersih Tiga Kemenangan di Hari Pertama Pra Porprov Sulsel 2026
Sementara itu, Kepala Pusat Identifikasi Pusdokkes Polri Brigjen Pol Mashudi menambahkan, kondisi jenazah korban kedua masih relatif baik sehingga memungkinkan pemeriksaan sidik jari dilakukan secara optimal.
“Papiler pada sidik jari masih dapat terbaca, sehingga kami bisa langsung mengambil sidik jarinya,” kata Mashudi.
Ia menjelaskan, tim DVI melakukan pencocokan data postmortem dengan data antemortem secara detail dan berlapis.
“Kami mengambil sidik jari jempol tangan kiri korban, kemudian membandingkannya dengan data pembanding. Proses ini dilakukan secara manual hingga diperoleh kepastian identitas,” jelasnya.
Mashudi menegaskan, hasil identifikasi tersebut telah memenuhi kaidah keilmuan forensik.
“Secara ilmu pengetahuan, kami menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah Florencia Lolita Wibisono. Kami sangat yakin berdasarkan keilmuan,” tegasnya.
Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menyampaikan bahwa Polri mendukung penuh operasi pencarian dan evakuasi yang dipimpin Basarnas, termasuk proses pembuktian ilmiah identitas korban.
“Hingga saat ini tim gabungan Basarnas, TNI, dan Polri telah berhasil mengevakuasi dua korban. Dari jumlah tersebut, satu korban telah berhasil diidentifikasi melalui proses ilmiah oleh tim DVI,” ujar Kapolda Sulsel.
Ia menambahkan, satu korban lainnya masih dalam proses identifikasi. Tim DVI terus mengumpulkan serta mencocokkan data antemortem dan postmortem guna memastikan identitas korban secara akurat.
“Identifikasi secara saintifik ini sangat penting, tidak hanya untuk memastikan identitas korban, tetapi juga sebagai dasar pemenuhan hak-hak korban dan keluarga,” pungkasnya.




