POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kemenag Sulsel terus memperkuat upaya pencegahan konflik keagamaan. Melalui Bidang Urusan Agama Islam (Urais), Kemenag Sulsel menggelar Temu Konsultasi Pencegahan Konflik Paham Keagamaan Islam selama dua hari, 14–15 Mei 2025, di Aerotel Smile Hotel Makassar.
Kegiatan ini menjadi ajang koordinasi strategis lintas sektor, menghadirkan jajaran internal Kemenag Sulsel seperti Kepala Seksi Bimas Islam dan Kepala KUA, serta melibatkan instansi eksternal terkait. Fokus utama, membangun deteksi dini terhadap potensi konflik berbasis perbedaan paham keagamaan.
Kepala Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi semua pihak. "Kita tidak bisa bergerak sendiri. Kolaborasi adalah kunci. Kementerian Agama sebagai leading sector harus membangun sinergi dengan tokoh agama dan seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.
Baca Juga: Kinerja Antikorupsi Diakui, Kota Parepare Masuk Kategori Terjaga Versi KPK
Ia menyebut, KUA dan penyuluh agama memiliki peran vital karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Mereka dianggap paling mampu merespons gejala awal intoleransi maupun penyimpangan paham.
Menurutnya, pemahaman keagamaan yang luas akan membentuk pribadi yang bijak dalam menyikapi perbedaan. Sebaliknya, sempitnya pemahaman berisiko melahirkan sikap ekstrem dan intoleran.
Baca Juga: 52 Indikator Kinerja, Prof JJ Ingatkan Pejabat Baru Unhas Tak Boleh Lengah
Dalam konteks Sulsel, ia menambahkan pentingnya merawat nilai lokalitas yang humanis. "Nilai Lokalitas masyarakat kita sarat dengan filosofi yang humanis , sehingga penting untuk menyelaraskan keduanya," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Urais, Abdul Gaffar, menilai kegiatan ini sebagai bagian dari program strategis yang selaras dengan Asta Aksi Kemenag Sulsel. Ia berharap kegiatan tak berhenti di forum diskusi semata, melainkan ditindaklanjuti hingga level teknis.
"Kegiatan ini sangat strategis karena menyentuh langsung isu kerukunan. Kami berharap hasil dari pertemuan ini dapat diterapkan di lapangan dan tidak," katanya.
Baca Juga: 56 Dosen Unhas Terima SK Guru Besar, Ini Daftar Lengkapnya!
Karena itu, kegiatan lanjutan berupa bimbingan teknis akan segera digelar. Fokusnya meningkatkan kapasitas penyuluh dan penghulu dalam mendeteksi dini potensi konflik.
Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari Kejati Sulsel, Kesbangpol, akademisi, hingga psikolog. Mereka menyampaikan pandangan dari sisi hukum, sosial, psikologis, dan keilmuan guna memperkaya perspektif peserta.
Ia berharap, penyuluh, penghulu, dan pegawai Kemenag Sulsel semakin memahami pentingnya peran mereka, dalam mendeteksi serta mencegah penyebaran paham keagamaan yang menyimpang di tengah umat.
***




