POJOKSULSEL, MAKASSAR – Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Jamaluddin Jompa, menegaskan pentingnya kerja serius dan penuh keikhlasan dalam menjalankan amanah.

Penegasan Prof Jamaluddin Jompa disampaikan saat sambutan pada acara pelantikan pejabat, penyerahan SK jabatan profesor, dan penerimaan dosen lulusan S3 lingkup Unhas, Kamis (15/5/2025) disiarkan dalam kanal Youtube Universitas Hasanuddin.

"Bapak ibu sudah meresapi, mencermati, mulai dari sumpah jabatan sampai pakta integritas. Semua itu bermakna bahwa kita harus bekerja serius, bekerja dengan penuh keikhlasan,” tegas Prof JJ, sapaan akrab Rektor Unhas.

Baca Juga: Operasi Pekat Lipu 2025, Polda Sulsel Ungkap 665 Kasus, 118 Pelaku Premanisme Diamankan

Rektor Prof JJ juga menyinggung banyaknya indikator kinerja yang kini dibebankan kepada pimpinan Unhas. Totalnya mencapai 52. Hal itu menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pejabat baru yang baru saja dilantik.

"Mungkin bapak ibu para guru besar, yang saat ini belum mendapatkan tugas tambahan, bersyukurlah, karena para pejabat saat ini banyak yang mengeluh dengan indikator yang ada," katanya.

Meski begitu, Prof JJ menegaskan bahwa Unhas tidak punya pilihan selain terus melaju sebagai kampus besar di level nasional dan dunia.

Baca Juga: Wakil Wali Kota Parepare Hermanto Lepas 127 Jamaah Haji, Begini Pesannya

Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa target besar Unhas untuk masuk 500 perguruan tinggi terbaik dunia bukanlah ambisi pribadi rektor, melainkan kesepakatan semua lembaga di Unhas, termasuk Majelis Wali Amanat (MWA) dan Senat Akademik (SA).

"Kalau kita ingin masuk 500 besar dunia, maka yang kita pakai standar 500 dunia. Jangan kita mau masuk 500 dunia, tapi yang kita pakai standar 3.000 besar," tegasnya.

Prof JJ menganalogikan Unhas sebagai kapal besar yang terus melaju. Nakhoda, dalam hal ini pimpinan universitas, memang punya peran besar, tapi harus terus diingatkan.

Baca Juga: Kepala Madrasah Angkat Bicara Usai Penetapan MIN 2 Makassar Percontohan Kurikulum Berbasis Cinta

Ia menegaskan bahwa nakhoda bukan malaikat. Tetap manusia biasa. Karena itu kekeluargaan jadi kunci.

"Saya sangat senang MWA, SA begitu intens selalu berkomunikasi dengan pimpinan universitas," katanya. ***