POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kawasan Center Point of Indonesia atau CPI, Kota Makassar, menjadi lokasi prioritas pertama pendaratan Seaplane di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kepasatian kawasan CPI dipilih sebagai lokasi pendaratan Seaplane, disampaikan Kadis Perhubungan Sulsel, Erwin Terwo. Itu setelah

"Hasil kunjungan kemarin menunjukkan secara teknis bahwa CPI sangat layak (untuk pendaratan Seaplane)," kata Erwin Terwo dalam rilis Humas Pemprov Sulsel, Selasa (6/5/2025).

Baca Juga: Hardiknas di Maros, Sekolah Kolong Dapat Kado Rp300 Juta dan Motor Trail dari Bupati Chaidir Syam

Erwin Terwo mengungkapkan bahwa CPI menjadi pilihan utama karena dinilai sangat layak dari segi teknis.

Selain CPI Makassar, sejumlah wilayah lain seperti Kota Parepare, Kota Palopo, Kabupaten Bone, Takabonerate di Kabupaten Selayar, juga masuk dalam radar pengembangan rute seaplane.

Transportasi seaplane diharapkan menjadi solusi mobilitas masyarakat di daerah terpencil dan kepulauan, sekaligus mendorong peningkatan pariwisata dan akses layanan dasar.

“Dengan kehadiran seaplane, kita bisa menjangkau lebih banyak wilayah yang selama ini sulit diakses. Ini bukan hanya soal transportasi, tapi juga pemerataan pembangunan dan pelayanan,” tambah Erwin Terwo.

Baca Juga: Kombes Arya Perdana Jelaskan 3 Kasus Heboh Ini Berhasil Diungkap Polrestabes Makassar dalam Sepekan

Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuangi merupakan konsultan teknik dalam rencana pengoperasian seaplane di Sulawesi Selatan.

API Banyuangi bertanggung jawab secara penuh untuk mencari spot yang sesuai untuk pembangunan waterbase.

Direktur API Banyuwangi Capt. Daniel Dewantoro Rumani, menjelaskan bahwa pihaknya ditunjuk sebagai konsultan teknis dalam survei kelayakan dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait proyek tersebut.

"Kami telah melakukan koordinasi dan survei, karena ada beberapa stakeholder yang harus diajak berkoordinasi. Kami sudah mendapatkan kepastian bahwa lokasi tersebut cocok, dan kami akan segera memulai tahap pertama di CPI," kata Daniel Dewantoro.

Baca Juga: Asmiaty Sahur, Guru Besar Mikrobiologi Pertanian Dikukuhkan Jadi Anggota Dewan Profesor ke-569 Unhas

Menurut Daniel Dewantoro, kehadiran seaplane bukan sekadar solusi transportasi untuk masyarakat kepulauan, tetapi juga menjadi pemicu tumbuhnya potensi ekonomi baru di daerah.

Ia menambahkan, inisiatif ini bisa menjadi proyek percontohan nasional.

“Langkah Pemprov Sulsel ini sangat visioner. Jika dikembangkan dengan serius, kita bisa meniru negara seperti Maldives yang sukses membangun konektivitas antarpulau lewat sistem waterbase,” tegasnya.

Diketahui, Pemprov Sulsel terus mempercepat program transportasi terpadu dengan menghadirkan seaplane sebagai moda baru untuk menjangkau wilayah kepulauan.

Baca Juga: SWOT Saja Tidaklah Cukup: Catatan Hari Keenam, Senior Level Leadership Program

Program ini menjadi bagian dari prioritas Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi dalam mewujudkan inisiatif Sulsel Terkoneksi.

Dengan kondisi geografis Sulawesi yang didominasi pulau-pulau dan garis pantai yang luas, seaplane dinilai sebagai solusi efektif.

Pesawat ini mampu lepas landas dan mendarat di perairan, sehingga cocok digunakan untuk transportasi antarwilayah yang sulit dijangkau moda darat atau udara konvensional.

Teknologi seaplane sendiri telah lama digunakan secara global, baik untuk keperluan militer, darurat, maupun pariwisata. Kini, Sulsel bersiap menjadi pelopor penggunaannya di Indonesia untuk memperkuat konektivitas antarwilayah. ***