POJOKSULSEL, MAKASSAR - Ketua TP PKK Kota Makassar, Indira Yusuf Ismail mewanti-wanti kader Dapur Sehat untuk mengatasi stunting.

Menurut Indira Yusuf Ismail, kader Dapur Sehat harus berkolaborasi dalam penanganan stunting di Kota Makassar.

Apalagi, kata Indira Yusuf Ismail, prevalensi stunting di Kota Makassar masih berada di angka 25,6 persen. Sehingga, kader Dapur Sehat memang butuh penanganan kolaborasi.

Baca Juga: Irjen Yudhiawan Wibisono Bukan Orang Baru di Makassar, Pernah Pegang 2 Jabatan di Polda Sulsel

Meski demikian, kata dia, kehadiran kader penyuluh yang telah berkomitmen untuk mengurangi angka stunting harus diapresiasi.

Ia mengatakan, penanganan stunting tidak hanya soal intervensi program. Melainkan harus dimulai dari langkah pencegahan.

"Meskipun ada 1.000 anak stunting yang akan kita intervensi lewat program ini, tugas kita tidak berhenti di sini. Kita juga perlu mencegah tidak ada lagi ibu hamil yang melahirkan anak dalam kondisi stunting," kata Indira Yusuf Ismail dalam keterangan tertulis.

Baca Juga: Yudhiawan Wibisono Ditunjuk sebagai Kapolda Sulsel, Andi Rian Djajadi Digeser ke Sumsel

Pada kesempatan itu, Indira menyoroti peran vital kader penyuluh dalam memastikan asupan gizi yang tepat bagi anak-anak dan ibu hamil.

"Kita harus mendidik masyarakat tentang pentingnya hidup bersih dan sehat sejak dini," tambahnya.

Ia juga menekankan perlunya perhatian terhadap program dapur gizi yang berkualitas, pemenuhan standar dapur gizi, penyajian dan makanan, yang akan berkontribusi signifikan dalam upaya ini.

Baca Juga: Pj Wali Kota Parepare Pantau Harga dan Stok Bahan Pokok di Pasar Lakessi

Kepala Dinas Pengendalian Kependudukan dan KB Pemkot Makassar, Syafruddin, dapur gizi ini merupakan salah satu program strategis Pemerintah Kota Makassar yang diselenggarakan dalam rangka percepatan penurunan stunting.

"Kita ketahui bahwa di tahun 2023 kita mendapat prevelensi stunting yang mengejutkan bahwa dari 18,4 persen ada peningkatan menjadi 25,6 persen terjadi peningkatan sekitar 7,2 persen," urainya.

Syafruddin merincikan intervensi program ini akan berdampak pada 49 lokus dari kampung KB yg berada di seluruh wilayah kecamatan. Jumlah total anak balita sekitar 1000 anak. Termasuk 22 orang anak keluarga beresiko stunting di setiap lokus.

Dalam kegiatan ini juga terdapat pemberian makanan tambahan (PMT) selama 30 hari. Serta susu dan vitamin kepada anak stunting.

Pada kesempatan ini, Syafruddin mengapresiasi keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat dan organisasi remaja, yang berkolaborasi bersama-sama untuk mencapai target pengurangan stunting.

Baca Juga: Sulsel Peringkat 16 di PON Aceh - Sumut, Pencapaian Terendah dalam 50 Tahun

Dengan semangat kolaborasi dan komitmen yang kuat, baik Indira maupun Syafruddin optimis bahwa langkah-langkah ini akan membawa perubahan positif bagi generasi mendatang.

"Semoga apa yang kita lakukan di intervensi ini mendapatkan hasil maksimal. Dan anak-anak kita tidak terdapat stunting lagi pada pengukuran SSGI nanti," harapnya

***