POJOKSULSEL, MAKASSAR - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menegaskan keberhasilan Sekolah Rakyat tidak cukup diukur dari banyaknya fasilitas atau rekening yang berhasil dibuka bagi para siswa.
Menurut Gus Ipul, ukuran paling penting justru terletak pada perubahan perilaku anak-anak Sekolah Rakyat agar tumbuh menjadi generasi yang mandiri.
Hal itu disampaikan Gus Ipul saat menyambangi Sekolah Rakyat Terpadu Sulawesi Selatan di Jalan Pajjaiang, Kota Makassar, Jumat (25/9/2026). Kedatangan Mensos kali ini dalam rangka kegiatan BNI Sahabat Sekolah Rakyat.
Gus Ipil memberikan perhatian khusus terhadap program literasi keuangan yang menjadi salah satu bagian dari BNI Sahabat Sekolah Rakyat.
Dia mengatakan, anak-anak perlu dikenalkan dengan bank bukan hanya sebagai tempat menerima bantuan, tetapi juga sebagai sarana untuk belajar menabung dan mengelola keuangan.
Baca Juga: Harga Cabai di Makassar Tembus Rp85 Ribu, TPID Sulsel Siapkan Langka Stabilisasi
"Banyak orang mengenal bank sebagai tempat mengambil bantuan. Kita ubah maknanya dari penerima menjadi penabung," kata Gus Ipul.
Menurut dia, kebiasaan menabung yang ditanamkan sejak dini dapat menjadi pintu perubahan bagi keluarga siswa di masa mendatang.
"Anak yang belajar menabung adalah pintu gradasi bagi keluarganya esok hari," ujarnya.
Namun, Gus Ipul menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut tidak bisa hanya dilihat dari jumlah rekening yang dibuka.
"Ukuran keberhasilan bukan dari berapa rekening yang dibuka, tapi berapa perilaku yang berubah," tegasnya.
Baca Juga: BBMKG Wilayah IV Makassar Keluakan Peringatan Panas di Sulsel, Ini 7 Daerah Masuk Kategori Siaga
Dia mengatakan, perubahan perilaku menjadi bagian penting dari tujuan Sekolah Rakyat. Para siswa diharapkan terbiasa belajar sungguh-sungguh, disiplin, jujur, serta saling menjaga selama berada di sekolah maupun asrama.
Gus Ipul menjelaskan, Sekolah Rakyat merupakan bagian dari intervensi negara untuk memutus mata rantai kemiskinan yang kerap diwariskan antargenerasi.
"Intervensi negara ini untuk memutus mata rantai kemiskinan. Kemiskinan sering diwariskan," katanya.
Karena itu, pendidikan menjadi jalur utama yang diharapkan mampu memutus lingkaran tersebut.
"Kita harapkan Sekolah Rakyat bisa memotong lingkaran kemiskinan dengan jalur paling kuat, yaitu pendidikan," lanjutnya.
Gus Ipul juga menekankan pentingnya melihat siswa Sekolah Rakyat bukan sebagai objek belas kasihan. Mereka merupakan bagian dari proses penyiapan generasi yang diharapkan mampu berdiri sendiri.
"Mereka bukan objek belas kasihan. Mereka adalah subjek yang sedang kita siapkan untuk mandiri, sebagai generasi pintar, berkarakter, dan punya keterampilan," tuturnya.
Menurut Saifullah, pendampingan juga tidak boleh berhenti pada anak. Keluarga harus ikut bergerak agar perubahan yang terjadi tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah dan asrama.
Baca Juga: Ikut Rombongan Jusuf Kalla ke China, Dekan FT UMI Cerita Pengalaman Intip Teknologi Huawei dan BYD
"Intervensi tidak boleh berhenti pada anak. Keluarga harus terus bergerak sehingga perubahan tidak hanya terjadi di asrama," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul juga mengapresiasi keterlibatan BNI melalui program BNI Sahabat Sekolah Rakyat.
Dia menyebut dunia usaha dan lembaga keuangan merupakan bagian dari Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang dapat mengambil peran dalam mendukung Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).
"Kita sedang menyaksikan sesuatu yang sederhana tetapi sangat bermanfaat, PSKS bertemu dengan PPKS," katanya.
Program BNI Sahabat Sekolah Rakyat sendiri membawa empat pilar, yakni cerdas belajar, cerdas mengelola keuangan, cerdas sekolah, dan peduli lingkungan.
Baca Juga: Pelajar Sulsel Menabung Sasar 1.000 Siswa di Makassar, Gowa, Maros, Jufri Rahman Titip Pesan Penting
Bagi Gus Ipul, seluruh upaya tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: mengubah siswa dari keluarga penerima layanan kesejahteraan sosial menjadi generasi yang memiliki kemampuan untuk mandiri.
"PPKS menjadi PSKS diubah dengan cara sederhana: belajar sungguh-sungguh, disiplin, jujur, saling menjaga di sekolah dan asrama. Itulah ukuran sesungguhnya Sekolah Rakyat," pungkasnya. ***




