POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kafilah dari tiga negara sudah tiba di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk mengikuti Musabaqah Qiraatil Kutub Internasional (MQK Internasional) 2025, Selasa (30/9/2025)

MQK Internasional ke-1 akan dihelat di Pondok Pesantren As’adiyah Pusat Sengkang Kabupaten Wajo pada 2-7 Oktober 2025

Kafilah pertama yang tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, yaitu dari Myanmar. Disusul kafilah dari negara Malaysia dan Brunei Darussalam. Observer dari negara Filipina juga sudah tiba di Makassar.

Baca Juga: Yuk Simak Program Pemutihan dan Diskon Pajak Kendaraan 50 Persen di Sulsel Hingga 31 Oktober

Delegasi Myanmar terdiri atas satu official, ISMAT, serta dua peserta, Bo Aung Kyaw dan Kyaw Nyi Nyi Thwin. Mereka disambut oleh H Hasbullah Muntu.

Kafilah Malaysia adalah Roslee Bin Ismail (Observer), Wan Saifuddin Bin Wan Abdul Ghani (Participant), Nurul Afifah Balqies Binti Roslee (Participant), dan Mohd Fauzan Bin Abdullah (Participant). Mereka diterima oleh Azis Syafiuddin, Kasubdit Pendidikan Alquran PD Pontren Kemenag Sulsel.

Sementara itu, kafilah dari empat negara juga mengonfirmasi keikutsertaan di MQK Internasional di Kabupaten Wajo. Mereka adalah kafilah Kamboja, Timor Leste, Vietnam, dan Thailand.

Baca Juga: Stadion Sudiang Dibangun Akhir Tahun Ini, Fatmawati Rusdi Sampaikan Target Rampung April 2027

Peserta MQK Dalam Dan Luar Negeri Mulai Berdatangan, Kakanwil Kemenag Sulsel ; Perlakukan Tamu Layaknya Saudara Dan Sahabat

Tak hanya dari mancanegara, peserta dari berbagai provinsi di Indonesia juga mulai berdatangan. Kontingen dari Papua, Papua Barat, Kalimantan, Jawa Tengah, hingga Maluku sudah tiba di Makassar.

MQK Internasional mengusung tema besar “Dari Pesantren untuk Dunia: Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian dengan Kitab Turats.”

Baca Juga: Rektor IAIN Parepare Prof Hannani Lantik Delapan Ketua Prodi, Ini Nama-Namanya

Kepala Kanwil Kemenag PSulsel H. Ali Yafid menyampaikan bahwa MQKI di Sulsel bukan hanya kompetisi, melainkan wadah strategis untuk mempertemukan tradisi, ilmu, dan budaya.

Menurut Ali Yafid, kehadiran delegasi dari berbagai negara di MQKI membuktikan bahwa pesantren di Indonesia telah menjadi pusat perhatian dunia.

"MQKI ini adalah momentum untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa kitab kuning bukan sekadar teks, melainkan warisan intelektual yang hidup, terus dikaji, dan relevan sepanjang zaman,” ujarnya.

Ia menjelaskan, MQKI 2025 siap menjadi panggung pertemuan para pencinta kitab kuning dari berbagai penjuru nusantara dan dunia

Kehadiran mereka bukan hanya untuk berkompetisi, melainkan juga untuk bersilaturahmi, berbagi gagasan, dan melestarikan warisan keilmuan Islam yang telah mengakar selama berabad-abad.

Baca Juga: Pengurus ISKI Sulsel Didukung Kalangan Gen Z

MQKI 2025 juga menjadi momentum bersejarah yang diharapkan dapat memperkuat wajah Islam Indonesia sebagai rahmat bagi semesta alam.

Sulsel selaku Tuan Rumah berkomitmen dan berikhtiar menyambut dan melayani seluruh tamu dan Kafilah baik dari seluruh provinsi di Indonesia maupun dari Mancanegara, dan memperlakukan mereka selayaknya saudara dan sahabat.

“Semoga dengan ikhtiar ini, Nama baik Daerah kita, tentunya Kanwil Kemenag Sulsel bisa sekaligus merepresentasikan keramahan seluruh Masyarakat Sulsel,” tambah Ali Yafid

***