POJOKSULSEL, MAKASSAR - Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Wahyu Haryadi Piarah, menilai, skema Multi Years Project (MYP) yang diterapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam pembangunan jalan merupakan pilihan yang tepat untuk proyek infrastruktur berskala besar.

Menurut Wahyu Haryadi Piarah, model kontrak tahun jamak yang diterapkan Pemprov Sulawesi Selatan memberikan kepastian pendanaan dan waktu pelaksanaan sehingga kualitas pekerjaan tidak dikorbankan demi mengejar batas akhir tahun anggaran.

"Sebagai orang yang menekuni bidang infrastruktur, saya melihat proyek 1.400 kilometer ini sebagai langkah yang tepat dan berani," kata Wahyu Haryadi Piarah dikutip dari lama Sulselprov.

Baca Juga: Unhas Perkuat Jalur Afirmasi Daerah di Sulteng, Buka Peluang Kuliah bagi Putra Daerah

Ia menjelaskan, pembagian pekerjaan ke dalam enam paket konstruksi juga dinilai efektif karena memungkinkan pembangunan berjalan secara paralel di berbagai wilayah dengan pengawasan mutu yang tetap terjaga.

"Skema ini secara teknis paling masuk akal untuk proyek sebesar ini. Kontraktor memiliki kepastian pendanaan dan waktu kerja sehingga kualitas konstruksi tidak dikorbankan hanya untuk mengejar tahun anggaran," ujarnya.

Prof. Wahyu menilai manfaat pembangunan jalan tidak hanya dirasakan dari sisi infrastruktur, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga: BPBD Makassar Bidik 23.000 Mahasiswa Tangguh Bencana, Munafri Arifuddin Titip Pesan Penting

Ia menyebut akses jalan yang lebih baik akan memangkas waktu tempuh, menurunkan biaya distribusi barang, serta membuka peluang pertumbuhan bagi wilayah yang selama ini sulit dijangkau.

"Ketika jalan tersambung dengan baik, waktu tempuh akan berkurang, biaya distribusi turun, dan wilayah-wilayah yang sebelumnya tertinggal memiliki peluang yang sama untuk berkembang," katanya.

Menurut dia, sektor pertanian, UMKM, perdagangan hingga layanan pendidikan dan kesehatan menjadi pihak yang paling merasakan manfaat ketika konektivitas antardaerah semakin baik.

Baca Juga: 90 Siswa Gowa Mulai Belajar di Sekolah Rakyat, 60 Ditempatkan di Takalar

Selain itu, terbukanya akses jalan juga diyakini dapat memicu tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, termasuk sektor jasa transportasi, perdagangan, dan pariwisata.

Meski demikian, Prof. Wahyu mengingatkan pembangunan jalan sepanjang ribuan kilometer tidak lepas dari dampak sementara, seperti kemacetan, debu, hingga rekayasa lalu lintas.

Karena itu, ia meminta masyarakat memahami kondisi tersebut sebagai bagian dari proses pembangunan infrastruktur.

"Saya mengajak masyarakat untuk bersabar karena gangguan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari proses membangun infrastruktur yang manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang," ujarnya.

Diketahui, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan saat ini tengah menjalankan Multi Years Project (MYP) pembangunan jalan senilai Rp2,5 triliun. Program yang berlangsung pada 2025–2027 itu menargetkan penanganan sekitar 1.400 kilometer jalan provinsi yang tersebar di sekitar 100 ruas di 24 kabupaten/kota.

Baca Juga: DPRD Sulbar Mulai Tahapan Pemilihan Wagub, Panitia Pemilihan Segera Dibentuk

Pekerjaan meliputi pengaspalan, pengecoran beton, pembangunan drainase, talud, box culvert hingga preservasi jalan untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. ***