POJOKSULSEL, MAKASSAR - Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin, M.Ag., dipercaya menjabat Ketua Dewan Guru Besar UIN Alauddin Makassar.

Prof Muhammadiyah Amin menggantikan Prof Musafir Pababbari sebagai Ketua Dewan Guru Besar UIN Alauddin Makassar. Prof Musafir telah purna bakti pada Juli 2026.

Tugas pertama Prof Muhammadiyah Amin sebagai Ketua Dewan Guru Besar UIN Alauddin Makassar adalah mengalungkan tanda jabatan kepada tiga profesor yang dikukuhkan di Auditorium Kampus II, Jalan HM Yasin Limpo, Kabupaten Gowa, pada, Rabu (26/8/2026).

Muhammadiyah Amin merupakan guru besar Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar dalam bidang Ilmu Hadis.

Sebelum kembali dipercaya memegang posisi Ketua Dewan Guru Besar UIN Alauddin Makassar, ia memiliki rekam jejak panjang di dunia akademik dan birokrasi Kementerian Agama.

Baca Juga: Pemkab Maros Suplai 16 Tangki Air Bersih Per Hari, Tiga Kecamatan Jadi Zona Terparah Kekeringan

Ia pernah menjabat Sekretaris Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam sejak 2012. Kariernya kemudian berlanjut sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam pada 2017.

Dikutip laman resmi Bimas Islam Kemenag, Muhammadiyah Amin juga pernah dipercaya sebagai Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Pria kelahiran Kuala Enok, Riau, 14 Agustus 1963, itu mengabdi sebagai ASN sejak 1990.

Baca Juga: Pemprov Sulsel Pasang Listrik Gratis untuk 130 Rumah Tangga di Gowa dan Bantaeng

Ia menempuh pendidikan mulai dari Sekolah Dasar Pulau Kecil pada 1975, kemudian melanjutkan pendidikan hingga strata dua di Ujung Pandang.

Pendidikan doktoralnya ditempuh dalam bidang Kajian Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di bidang akademik, Muhammadiyah Amin dikenal aktif menghasilkan karya ilmiah. Ia pernah menerima Awards Karya Ilmiah Dosen PTAI 2003 dan Awards Karya Ilmiah Internasional Dosen PTAI 2007.

Baca Juga: 3 Guru Besar UIN Alauddin Bicara Krisis Lingkungan, Toleransi, dan Jejak Moderasi Islam di Bone

Sejumlah karyanya antara lain Ulumul Hadis I-IX yang diterbitkan Departemen Agama pada 1993, Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera: Tafsir Surat al-Fatihah (1999), KH. Ali Yafie, Jati Diri Tempaan Fiqih (2001), dan Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti (2003).

Ia juga menjadi salah satu penulis Approaches to the Qur’an in Contemporary Indonesia yang diterbitkan Oxford University Press, New York, pada 2005.

Selain aktivitas akademik, Muhammadiyah Amin dikenal memiliki gaya kerja yang menekankan kedisiplinan. Hal itu terlihat saat dirinya menjabat Sekretaris Ditjen Bimas Islam.

Kala itu, ia menerapkan sistem absensi khusus untuk meningkatkan disiplin pegawai. Para pejabat diwajibkan menandatangani lembar absensi di ruang kerjanya.

Kebijakan tersebut dinilai efektif meningkatkan kehadiran pegawai. Setelah disiplin dianggap mulai membudaya, sistem itu kemudian dihapus.

Baca Juga: Maulid Nabi: Inspirasi Ekoteologi Menghadapi Tantangan Lingkungan

Karakter disiplin tersebut tidak terlepas dari pengalaman hidupnya sejak muda.

Selain disiplin, Muhammadiyah Amin juga menekankan pentingnya kesederhanaan, kerja keras, dan kejujuran dalam menjalani kehidupan. ***