POJOKSULSEL, MAROS - Kekeringan mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Pemerintah Kabupaten Maros (Pemkab Maros) pun mengambil langkah cepat dengan mengerahkan armada tangki untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kekeringan, Kamis (27/8/2026).
Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan tiga kecamatan saat ini mengalami kekeringan paling serius, yakni Bontoa, Lau, dan Maros Baru. 32 ribu warga Bontoa butuh air bersih.
Baca Juga: Pemprov Sulsel Pasang Listrik Gratis untuk 130 Rumah Tangga di Gowa dan Bantaeng
“Kecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru menjadi wilayah yang mengalami kekeringan paling serius,” kata Towadeng.
Di Kecamatan Bontoa, sekitar 90 persen wilayah dari tujuh desa dan kelurahan telah terdampak. Kondisi ini membuat sekitar 32 ribu jiwa membutuhkan pasokan air bersih.
“Di kecamatan ini ada sekitar 32 ribu jiwa dan memang mereka sudah sangat membutuhkan air bersih,” ujarnya.
Baca Juga: 3 Guru Besar UIN Alauddin Bicara Krisis Lingkungan, Toleransi, dan Jejak Moderasi Islam di Bone
Selain tiga kecamatan tersebut, dampak kekeringan juga mulai dirasakan masyarakat di Turikale, Moncongloe, Mandai, dan Marusu.
BPBD Maros memperkirakan cakupan wilayah terdampak tahun ini akan lebih luas dibandingkan 2025. Jika tahun lalu terdapat delapan kecamatan terdampak, tahun ini jumlahnya diprediksi mencapai 10 kecamatan.
Wilayah tersebut meliputi Turikale, Marusu, Mandai, Moncongloe, Tanralili, Bantimurung, Simbang, Bontoa, Lau, dan Maros Baru.
Baca Juga: Maulid Nabi: Inspirasi Ekoteologi Menghadapi Tantangan Lingkungan
Towadeng menjelaskan, sejumlah wilayah di Maros memang setiap tahun mengalami kesulitan air bersih ketika hujan tidak turun selama satu bulan. Masyarakat terpaksa membeli air atau mengandalkan bantuan pemerintah.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD telah menyusun jadwal penyaluran bantuan air bersih ke wilayah yang paling terdampak.
Pekan ketiga hingga pekan keempat untuk Kecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru,” jelasnya.
Baca Juga: Kebakaran Bengkel di Moncongloe Maros Hanguskan Avanza dan Motor, Kerugian Capai Ratusan Juta
Namun, distribusi air bersih masih terkendala keterbatasan armada. Saat ini BPBD Maros hanya memiliki empat armada tangki, sementara kebutuhan ideal mencapai delapan armada.
“Karena itu kami telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Pompengan untuk meminta bantuan armada air bersih,” terang Towadeng.
Sementara itu, Bupati Maros Chaidir Syam menegaskan pemerintah daerah telah melakukan aksi tanggap darurat untuk menangani dampak kekeringan yang disebut berkaitan dengan fenomena El Nino.
Baca Juga: Ilmu Komunikasi Dominasi Wisuda Fakultas Sastra UMI, Ini Rincian 281 Lulusan FSIKP
Sebanyak 6.738 kepala keluarga terdampak. Mereka tersebar di empat kecamatan zona merah, yakni Maros Baru, Lau, Bontoa, dan Marusu, serta empat kecamatan zona kuning, yakni Turikale, Tanralili, Moncongloe, dan Mandai.
Untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, Pemkab Maros memobilisasi armada tangki secara masif.
“Setiap harinya, minimal 16 tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter akan dikerahkan secara berkesinambungan hingga kondisi pasokan air kembali membaik,” ujar Chaidir Syam.
Baca Juga: Gubernur Sulawesi Selatan Pastikan BBNKB dan PBBKB Tak Naik, Ini Tarif Terbarunya
Dengan pengerahan 16 tangki tersebut, kapasitas distribusi mencapai sedikitnya 80 ribu liter air bersih per hari.
Sekretaris Daerah Kabupaten Maros Andi Davied Syamsuddin mengatakan pendistribusian air bersih akan berlangsung hingga Oktober mendatang.
Pemkab Maros juga telah menyiapkan anggaran awal sebesar Rp600 juta melalui Dana Belanja Tidak Terduga atau BTT untuk mendukung operasional penanganan krisis air bersih.
Baca Juga: Kemenag Luncurkan Gema Selawat Kebangsaan, Nasaruddin Umar Ungkap Makna Ijazah dalam Tradisi Selawat
“Untuk operasional awal pendistribusian air bersih hari ini, dikucurkan anggaran awal Rp600 juta dengan mekanisme penyaluran empat kali sehari untuk setiap tangki,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Maros memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan secara berkesinambungan, terutama di wilayah yang mengalami dampak kekeringan paling parah.




