POJOKSULSEL, MAKASSAR - Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) menggagas Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi 2026, sebagai forum merumuskan arah transformasi pesantren di Indonesia Timur.

Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi DPP ICATT dijadwalkan berlangsung pada 22–23 Agustus 2026 di Makassar. Kegiatan itu akan mempertemukan pemerintah, pimpinan pondok pesantren, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, lembaga keuangan, aparat negara, media, hingga alumni pesantren.

Rencana pelaksanaan Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi disampaikan Ketua Umum DPP ICATT, Mallingkai Ilyas, saat beraudiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Ali Yafid, di Kantor Wilayah Kemenag Sulsel, Selasa (14/7/2026).

Baca Juga: Panen Raya di Barru, Pupuk Indonesia Pastikan Ketersediaan Pupuk Dukung Swasembada Pangan

Menurut Mallingkai, sarasehan yang digagas bersama Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan itu tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis bagi penguatan ekosistem pesantren.

"Forum ini dirancang menjadi ruang kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk membahas transformasi pesantren, perlindungan anak, hingga pemberdayaan ekonomi pesantren," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ali Yafid menyambut baik inisiatif DPP ICATT yang dinilai sejalan dengan Asta Program Prioritas Kementerian Agama, khususnya dalam pemberdayaan pesantren.

Baca Juga: SMM UIN Alauddin Makassar Diperpanjang hingga 17 Juli, Cek Prodi yang Masih Dibuka

"Saya berterima kasih kepada teman-teman ICATT yang mengangkat isu pemberdayaan pesantren. Ini merupakan gagasan yang sangat relevan dengan kebutuhan saat ini," katanya.

Ali Yafid berharap forum tersebut juga menjadi ruang memperkuat tata kelola pesantren, termasuk mendorong seluruh pondok pesantren memiliki izin operasional agar mendapatkan pembinaan secara optimal dari pemerintah.

Selain itu, ia mendorong agar isu perlindungan anak menjadi salah satu agenda utama dalam sarasehan. Menurutnya, pesantren harus terus bertransformasi menjadi lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak.

Baca Juga: Darije Kalezic Pulang ke Makassar, Ungkap Alasan Kembali Tangani PSM

Ia juga mengungkapkan Kanwil Kemenag Sulsel telah bekerja sama dengan UNICEF dan UIN Alauddin Makassar dalam Program Pondok Pesantren Ramah Anak yang saat ini telah diterapkan di 20 pesantren sebagai proyek percontohan.

Ali Yafid berharap Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi 2026 mampu melahirkan rekomendasi yang dapat memperkuat kebijakan pemerintah sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan dan pemberdayaan pesantren di kawasan Sulawesi. ***