POJOKSULSEL, MAKASSAR - Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) sukses mempertahankan posisi pertama Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 dengan skor 88,24 atau kategori tinggi.

Capaian tersebut menjadikan Sulsel sebagai daerah dengan pembangunan literasi terbaik di Indonesia selama dua tahun berturut-turut, setelah sebelumnya juga menempati posisi pertama pada 2023 dengan skor 86,74.

Sebelumnya, pada 2022, Sulsel masih berada di posisi ketiga nasional pembangunan literasi. Namun dalam dua tahun terakhir, provinsi ini menunjukkan lonjakan signifikan hingga mampu mempertahankan posisi puncak nasional.

Berdasarkan data IPLM 2024, posisi kedua ditempati Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan skor 86,39, disusul Kepulauan Bangka Belitung 84,59.

Selanjutnya ada Sumatera Barat 82,47, Kalimantan Selatan 81,16, Jawa Timur 78,6, Kalimantan Timur 78,34, Gorontalo 77,46, Kalimantan Barat 75,15 dan Kepulauan Riau 74,24.

Baca Juga: BULOG Bikin Gebrakan Hijau di Makassar, 4 Ribu Mangrove Ditanam Sepanjang Pesisir Untia

Diketahui, IPLM mengukur sejumlah indikator, mulai pemerataan dan ketercukupan perpustakaan, tingkat keterlibatan masyarakat, hingga angka kunjungan perpustakaan.

Plt Kepala Dispusarsip Sulsel Muhammad Jufri menegaskan, penguatan literasi dan transformasi perpustakaan menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia, terutama menghadapi perkembangan teknologi digital dan AI yang terus berkembang pesat.

Sementara itu, Pustakawan Utama Dispusarsip Sulsel Moh Hasan menekankan pentingnya arsip dan literasi sebagai fondasi peradaban bangsa.

“Ada tagline yang saya pegang, ‘Jika tidak ingin kehilangan budaya jaga arsip, jika tidak ingin bermasalah dengan hukum jaga arsip’,” kata Moh Hasan.

Menurut dia, perpustakaan saat ini tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi telah berkembang menjadi pusat pengetahuan, ruang kreatif, hingga pusat pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga: 138 CPNS Kemenag Sulbar Naik Status Jadi PNS. Tolong Simak Arahan Penting Ini!

“Transformasi diperlukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Setiap pengelola perpustakaan sudah memahami hal ini,” ujarnya.

Moh Hasan menambahkan, perpustakaan modern harus mampu beradaptasi melalui empat pilar utama, yakni layanan berbasis teknologi, ruang kreatif dan kolaboratif, penguatan kompetensi pustakawan, serta inklusi sosial dan pemberdayaan masyarakat.

“Literasi bukan hanya baca-tulis, tetapi kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan membangun karakter bangsa,” jelasnya.

Dosen Psikologi UNM sekaligus Founder Rumah Belajar Cinta Damai Parepare Asniar Khumas menyoroti tantangan generasi muda di era digital, mulai dari rendahnya budaya literasi, budaya instan, pengaruh media sosial, hingga penggunaan teknologi tanpa kontrol.

Ia menyebut masyarakat saat ini hidup di era algoritma ketika media sosial dan AI turut memengaruhi cara berpikir serta perilaku manusia.

“Tantangan terbesar hari ini bukan lagi sekadar pintar, tetapi bagaimana tetap waras, kritis, dan sadar di tengah banjir informasi,” ungkap Asniar.

Menurutnya, gerakan literasi harus menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan sekolah, mahasiswa, komunitas, media, keluarga, hingga masyarakat luas.

Baca Juga: PLUT Kabupaten Maros dan Bank Indonesia Perkuat Sinergi Pengembangan UMKM

Literasi, kata dia, tidak cukup berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga harus melahirkan karya, gagasan, dan dampak sosial nyata.

Asniar turut mengajak masyarakat membangun budaya deep reading atau membaca mendalam agar tidak hanya memperoleh informasi secara luas, tetapi juga mampu memahami secara kritis dan mendalam.

“Kemampuan membaca mendalam akan menjadi keunggulan penting di era AI,” ujarnya.

Penguatan literasi dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi disrupsi digital dan perkembangan kecerdasan buatan yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.

Melalui penguatan budaya baca dan transformasi perpustakaan, Pemprov Sulsel menargetkan pembangunan sumber daya manusia yang adaptif, berkarakter, dan berdaya saing di era digital. ***