POJOKSULSEL, MAKASSAR - Badan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi Sulawesi Selatan (Bawaslu Sulsel) menggelar diskusi strategis bertajuk "Bincang Demokrasi #1: Transformasi Demokrasi Era Digital: Peran dan Tantangan Gen Z".
Bincang Demokrasi Bawaslu Sulsel diinisiasi bersama dengan Gusdurian Makassar, bertujuan memetakan peran generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi di tengah gempuran arus informasi digital yang semakin kompleks.
Ketua Bawaslu Sulsel, Mardiana Rusli, menekankan pentingnya keterlibatan aktif generasi muda dalam kendali demokrasi.
Mardiana Rusli menyoroti bahwa intelektualisme harus menjadi fondasi utama, terutama bagi kaum perempuan.
"Generasi muda harus turun langsung memegang kendali demokrasi. Perempuan jangan hanya terlena dengan penampilan, tetapi harus mencerdaskan diri dan melatih intelektual agar mampu mentransformasi generasi mendatang melalui dialektika yang sehat," tegas Mardiana Rusli saat membuka acara, Sabtu (31/1/2026) dikutip rilis Humas Bawaslu Sulsel.
Baca Juga: Nelayan Jeneponto Muhammad Heril Ditemukan di Perairan Bulukumba, Begini Kondisinya
Tantangan Regulasi dan Literasi
Anggota Bawaslu Sulsel, Alamsyah dalam kesempatannya membedah sejarah panjang kepemiluan di Indonesia yang kini telah memasuki edisi ke-13. Ia menyoroti tantangan nyata Bawaslu dalam menangani pelanggaran di ruang siber.
Alamsyah mengungkapkan bahwa digitalisasi laporan sering kali terkendala pada aspek pembuktian yang kurang rinci.
Ia mencontohkan keberhasilan Bawaslu dalam melakukan take-down konten bermasalah di Parepare dan Luwu melalui koordinasi dengan Kominfo.
"Tantangan bersama kita adalah regulasi dan literasi. Gen Z yang lahir di era digital harus paham bahwa UU di setiap instansi terkadang memiliki irisan. Bawaslu terus berupaya adaptif, termasuk memahami fenomena Kotak/Kolom Kosong seperti di Maros untuk memastikan semua hak saksi terpenuhi," papar Alamsyah.
Darurat Kesehatan Mental dan Etika Digital Dari perspektif akademis
Dr. Muh. Fachri Said, MH, menyoroti dampak negatif banjir informasi terhadap kesehatan mental Gen Z. Ia mengamati adanya pergeseran pola konsumsi informasi dari durasi panjang ke short video yang membuat generasi muda malas memahami persoalan secara utuh.
Baca Juga: Respons Tegas Ketua Forum Kanwil: Klarifikasi Sekjen Bukti Komitmen Pembinaan Guru Madrasah Swasta
"Dunia maya harus dianggap sama dengan dunia nyata. Etika digital kita masih minim filterisasi. Hukum hadir untuk melindungi hak Anda, namun pengguna juga harus memiliki filter diri dalam menghadapi algoritma media sosial yang mendikte perilaku," jelas Fachri.
Gen Z: Gerakan Organik yang Revolusioner
Melengkapi diskusi, perwakilan komunitas Gusdurian, Faturrahman Marzuki dan Megawati, menekankan pentingnya nilai pluralisme dan gerakan organik. Megawati menepis anggapan bahwa Gen Z adalah generasi yang lemah dengan merujuk pada revolusi di Bangladesh yang digerakkan oleh anak muda melalui media sosial.
"Gen Z adalah penggerak organik. Baik buruknya sebuah sistem demokrasi sangat tergantung pada individu di dalamnya. Jika kita tertinggal dalam penguasaan media digital, tidak akan ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan ini," pungkas Megawati.
Diskusi ini diakhiri dengan harapan agar perpolitikan Indonesia ke depan menjadi lebih ramah bagi semua golongan, dengan Gen Z sebagai aktor utama yang membekali diri dengan kesiapan intelektual serta mental yang kuat. ***




