POJOKSULSEL, MAKASSAR - Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengukuhkan tiga guru besar lintas kepakaran. Pengukuhan berlangsung di Aula Al Jibra Kampus UMI, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Rabu (24/12/2025).

Tiga guru besar yang dikukuhkan berasal dari bidang keilmuan berbeda. Mereka adalah Prof. Muhammad Ikhtiar sebagai Guru Besar Ilmu Determinan Sosial dan Kualitas Kesehatan Lingkungan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI.

Selain itu, dua guru besar lainnya berasal dari Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan, masing-masing Prof. Muliadi sebagai Guru Besar Ilmu Apresiasi Sastra dan Prof. Muhammad Yunus sebagai Guru Besar Ilmu Literasi (Reading and Writing).

Baca Juga: Bupati Maros Kunjungi RSJP Paramarta Bandung, Perkuat Transformasi Digital Rumah Sakit

Ketua Dewan Profesor UMI, Prof. Mansyur Ramly, mengatakan pengukuhan tersebut menambah jumlah guru besar di UMI menjadi 114 orang. Angka ini menempatkan UMI sebagai perguruan tinggi swasta dengan jumlah guru besar terbanyak di Indonesia.

“Alhamdulillah, dengan pengukuhan tiga profesor baru ini, jumlah guru besar UMI telah mencapai 114 orang. Makassar juga termasuk kota yang sangat baik dalam menghadirkan guru besar,” ujar Mansyur Ramly.

Ia membandingkan posisi UMI dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai perguruan tinggi negeri dengan jumlah guru besar terbanyak secara nasional. Sementara itu, UMI disebutnya menjadi perguruan tinggi swasta dengan capaian serupa.

Baca Juga: 13 Objek Diduga Cagar Budaya Diusulkan TACB Kabupaten Maros, Apa Saja?

Dalam sambutannya, Mansyur Ramly mengajak para guru besar dan dosen UMI untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengimplementasikannya dalam kehidupan masyarakat.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya pengembangan ilmu yang berlandaskan epistemologi Islam. Menurutnya, sebagai perguruan tinggi Islam, UMI memiliki tanggung jawab moral untuk menautkan keilmuan dengan nilai-nilai keislaman.

“Kita mengacu pada Surah Ali Imran ayat 90–91, agar ilmu yang dikembangkan tidak dibarengi dengan kesombongan. Setinggi apa pun pengetahuan manusia, hakikatnya sangat sedikit dibandingkan ilmu Allah,” tuturnya.

Baca Juga: Pelunasan BIPIH Sulsel Capai 83,62 Persen, Ikbal Ismail Jelaskan Skema Tahap Lanjutan untuk Jemaah Haji

Mansyur Ramly juga menekankan pentingnya adab dan akhlak dalam dunia akademik. Ia mengutip pesan Imam Malik yang menegaskan bahwa adab harus didahulukan sebelum menuntut ilmu pengetahuan.

“Akhlakul karimah dan adab harus menjadi etalase kehidupan kita. Membentuk keadaban jauh lebih utama dibanding sekadar menuntut ilmu,” katanya.

Menutup sambutannya, Prof. Mansyur mengajak seluruh sivitas akademika UMI untuk bersama-sama mengembangkan ilmu pengetahuan demi menciptakan kemaslahatan di dunia, sekaligus menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membawa kebaikan dan kemajuan. ***