POJOKSULSEL, MAKASSAR - Universitas Hasanuddin (Unhas) mengukuhkan lima guru besar dari tiga fakultas melalui Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas yang digelar di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Tamalanrea, Makassar, Selasa (2/12).

Prosesi berlangsung khidmat dan diisi penyampaian pidato penerimaan dari masing-masing guru besar Unhas yang baru dikukuhkan.

Lima guru besa Unhas yang dikukuhkan adalah:

Baca Juga: Rekam Jejak Panjang Junda Maulana, Kini Terpilih Aklamasi sebagai Ketua Korpri Sulbar 2025–2030

Prof. Dr. drg. Ayub Irmadani Anwar, M.Med.Ed., FISDPH., FISPD (Guru besar bidang Promosi dan Preventif Kesehatan Gigi Masyarakat)

Prof. Dr. Abdul Karim, M.Si (Guru besar bidang Ilmu Biokimia dan Biomaterial)

Prof. Dr. Rosana Agus, M.Si (Guru besar bidang Ilmu Biologi Molekuler)

Prof. Dr. Amir Ilyas, S.H., M.H (Guru besar bidang Ilmu Hukum Pidana)

Prof. Dra. Indah Raya, M.Si., Ph.D (Guru besar bidang Kimia Anorganik)

Baca Juga: Baru 2 Hari Menjabat, Simak Penegasan Kapolsek Tamalate Soal Pengamanan Pemilihan RT dan RW

Transformasi Digital untuk Kesehatan Gigi Masyarakat

Guru besar Fakultas Kedokteran Gigi, Prof Dr drg Ayub Irmadani Anwar, menyoroti urgensi inovasi digital dalam promosi kesehatan gigi masyarakat. Dalam pidato berjudul Transformasi Promosi dan Preventif Kesehatan Gigi Masyarakat melalui Inovasi Digital, ia menyampaikan bahwa teknologi mampu menjadi katalis peningkatan literasi serta perubahan perilaku masyarakat.

Prof Ayub mendorong penguatan regulasi, konten edukasi kreatif, dan pemanfaatan data digital sebagai fondasi strategi nasional kesehatan gigi. Ia juga mengusulkan penyusunan roadmap lima tahun untuk pembentukan pusat riset promosi dan preventif kedokteran gigi di Unhas.

Kitin–Kitosan sebagai Biomaterial Masa Depan

Dari Fakultas MIPA, Prof Dr Abdul Karim menegaskan potensi kitin dan kitosan—biomaterial dari limbah maritim—sebagai bahan multifungsional untuk kesehatan, pertanian, hingga rekayasa material. Dalam orasi berjudul Kitin dan Kitosan: Biomaterial Alami Multifungsional, ia memaparkan dua dekade penelitiannya yang mendorong pemanfaatan komponen tersebut sebagai platform teknologi biomedis.

Inovasi Vaksin TB Berbasis Gen Lokal

Guru besar bidang Biologi Molekuler, Prof Dr Rosana Agus, menekankan pentingnya riset vaksin tuberkulosis generasi baru berbasis gen lokal Indonesia. Menurutnya, pendekatan ini bukan hanya meningkatkan efektivitas vaksin bagi populasi Indonesia, tetapi juga memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

Ia menjelaskan bahwa teknologi rekombinan memungkinkan pengembangan vaksin yang lebih spesifik dan imunogenik untuk remaja serta dewasa, kelompok yang paling rentan terhadap TB.

Restorative Justice untuk Kelalaian Medik

Dari Fakultas Hukum, Prof Dr Amir Ilyas mengangkat tema Hukum Pidana Kelalaian Medik: Suatu Pendekatan Keadilan Restoratif. Ia menjelaskan bahwa mekanisme restorative justice (RJ) semakin relevan dalam penyelesaian perkara kelalaian medik, mengingat posisi dokter, pasien, dan rumah sakit sama-sama terdampak secara emosional maupun sosial.

Prof Amir mencatat tren penyelesaian 6.000–7.000 perkara pidana melalui RJ dalam empat tahun terakhir dan menilai skema ini penting untuk kasus tertentu kelalaian medik, dengan tetap melibatkan majelis etik kedokteran, kepolisian, kejaksaan, dan hakim.

Baca Juga: Kisah Kesetiaan 18 Tahun Antar Ismail Selle Jadi ASN PPPK IAIN Parepare

Kompleks Logam–Ditiokarbamat untuk TB Resisten Obat

Guru besar Kimia Anorganik, Prof Dra Indah Raya, PhD, memaparkan potensi kompleks logam–ditiokarbamat (DTC) sebagai agen molekuler baru untuk menghadapi tuberkulosis resisten obat. Ia memaparkan tiga mekanisme utama yang ditemukan dalam risetnya: gangguan dinding sel dan metabolisme lipid, disfungsi mitokondria bakteri, serta kemampuan menghadapi fase dormansi.

Menurut Prof Indah, kemampuan merancang molekul kimia baru menjadi fondasi kemajuan diagnosis dan pengobatan modern.

***