POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rokok selama ini dikenal luas sebagai musuh utama paru-paru. Tapi tahukah Anda? Asap rokok diam-diam juga menyerang bagian mulut, khususnya gusi dan jaringan penyangga gigi. Bahkan, jika dibiarkan, bisa berujung pada kanker mulut.

Fakta mencengangkan ini diungkap langsung oleh Tim Periodonsia dari Rumah Sakit Khusus Daerah Gigi dan Mulut Sulawesi Selatan (RSKDGM Sulsel).

Menurut Tim Periodonsia RSKDGM Sulsel, perokok aktif memiliki risiko 4 kali lipat lebih besar terkena periodontitis, yakni peradangan jaringan penyangga gigi.

Baca Juga: Bidik 100 Ribu Pengunjung, Beautiful Malino 2025 Suguhkan Banyak Hal Baru. Catat Tanggalnya!

“Rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia. Yang paling berbahaya adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida," kata drg Afdalia Annisa, Sp.Perio.

"Zat-zat ini bisa menurunkan fungsi molekul di dalam mulut, merusak antioksidan pada air liur, dan memperparah infeksi. Proses penyembuhan pun jadi lambat,” beber drg Afdalia Annisa.

Menurut drg Afdalia Annisa, salah satu gangguan yang paling sering muncul adalah penyakit periodontal—kerusakan gusi dan jaringan yang menopang gigi.

Baca Juga: Sulsel Respons Skema Block Seat Pemprov Sulbar, Bahas Kolaborasi Perkuat Konektivitas Udara

Akibatnya, gusi mudah berdarah, membengkak, terbentuk banyak karang gigi, bahkan gigi bisa copot karena tak lagi ada penyangga yang kuat.

“Pasien bisa saja kehilangan giginya karena jaringan gusi hancur akibat paparan nikotin jangka panjang,” jelasnya.

Tak berhenti di situ, rokok juga memengaruhi penampilan dan rasa percaya diri. Masalah klasik seperti bau mulut dan perubahan warna gigi adalah efek langsung dari kebiasaan merokok.

Baca Juga: RSP UIN Alauddin, Rumah Sakit Pendidikan Berfasilitas Lengkap dengan 16 Poli Spesialis, Apa Saja?

Tapi yang paling mengkhawatirkan, kata drg Afdalia Annisa, adalah meningkatnya risiko kanker mulut.

“Perokok itu enam kali lebih berisiko terkena kanker mulut dibandingkan yang bukan perokok,” tegasnya.

Data Kementerian Kesehatan RI memperkuat kekhawatiran ini. Dalam survei nasional yang dirilis 11 Juni 2025, jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai angka mencengangkan: 70 juta orang. Yang lebih miris, sekitar 7,4 persen di antaranya adalah remaja berusia 10–18 tahun.

Melihat tren ini, drg Afdalia Annisa mengimbau masyarakat—terutama anak muda—agar lebih peduli terhadap kesehatan mulut.

“Saya selalu tekankan ke pasien, siapapun dia, untuk rutin periksa gigi minimal enam bulan sekali. Kalau ketahuan merokok, pasti langsung saya edukasi,” pungkasnya.

***