POJOKSULSEL, MAKASSAR - Suasana haru tak terbendung di Asrama Haji Sudiang, Makassar, saat Kloter 3 UPG tiba dari Tanah Suci. Di antara para jemaah haji yang pulang membawa kenangan suci dari Baitullah, satu sosok perempuan tampak pulang seorang diri. Ia adalah Resnawati Mustafa Tappa, jemaah haji asal Kabupaten Sinjai, Sulsel, yang harus kembali tanpa suami tercinta.

Sang suami Resnawati Mustafa Tappa yang bernama Ambo Bennu Petta Nini, wafat saat menjalankan ibadah haji di Makkah pada usia 62 tahun. Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi jemaah haji tersebut, namun juga kenangan akan perjuangan suci yang tak terlupakan.

“Beliau sangat ingin mencium Hajar Aswad. Itu impian terbesarnya saat berangkat haji,” tutur jemaah haji Resnawati Mustafa Tappa, menahan haru di Asrama Haji Sudiang Makassar.

Baca Juga: 4.353 Pendaftar Pilih UIN Alauddin Makassar, Tiga Prodi Ini Paling Diburu Jalur UMPTKIN

Menurutnya, suami sempat mengerahkan seluruh tenaganya demi bisa menyentuh batu hitam penuh sejarah itu.

Namun setelah berhasil, Ambo Bennu mulai sering mengeluh sesak napas. Ia segera dibawa ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dan sempat mendapat penanganan medis. Sayang, takdir berkata lain.

"Setelah itu, mulai sering mengeluh sesak napas. Saya bawa ke klinik, dan sempat mendapat pertolongan, tetapi nyawanya tak tertolong,” ucapnya.

Baca Juga: Innalillahi... Guru Meninggal saat Persiapan Perkemahan Pramuka di Polman

Ambo Bennu dinyatakan meninggal dunia pada 17 Mei 2025 akibat serangan jantung akut (acute myocardial infarction).

Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Syarae, Makkah, dengan prosesi sesuai standar pelayanan pemulasaraan jemaah haji Indonesia.

Petugas haji Kloter 3 turut memberikan pendampingan penuh kepada Resnawati, mulai dari masa perawatan, prosesi pemakaman hingga pemulangannya ke tanah air.

Baca Juga: Pemkot Parepare Kawal Serius Pengangkatan PPPK, Efektif Mulai Juli 2025

Meski dihantui rasa kehilangan, ia tetap bersyukur bisa menyelesaikan rukun Islam kelima dengan tuntas.

Kisah Resnawati menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual, tapi juga perjalanan keikhlasan dan keteguhan hati.

Di balik derai air mata, ada kekuatan iman yang terus menguatkan langkah para tamu Allah.

 ***