POJOKSULSEL, MAKASSAR - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali menegaskan pentingnya hilirisasi produk pertanian sebagai strategi utama dalam membawa Indonesia menuju kemandirian ekonomi, bahkan menjadi negara superpower di masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Mentan Amran saat memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Magister dan Doktoral Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Senin (9/6/2025).

Kuliah umum Mentan Amran di hadapan mahasiswa Unhas tentang, perkembangan dan kebijakan pembangunan pertanian, berlangsung di AAS Building, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar.

Menurut Mentan Amran, kekuatan pertanian Indonesia tak hanya bertumpu pada kapasitas produksi, tetapi juga pada kemampuan menciptakan nilai tambah melalui pengolahan, inovasi, serta pengembangan industri hilir.

Baca Juga: Selamat! Alumni Polbangtan Gowa Tembus CPNS 2024, Ini Daftar Nama dan Instansinya

“Hilirisasi adalah kunci transformasi pertanian kita. Kalau ini bisa kita lakukan dalam 10 tahun ke depan, dengan komitmen kuat, maka Indonesia bisa menjadi negara superpower,” tegasnya dikutip rilis Kementerian Pertanian.

Amran memberikan contoh konkret, seperti kelapa yang awalnya hanya dijual seharga Rp1.350 per kilogram, namun bisa bernilai hingga Rp145 ribu per liter jika diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO).

Komoditas lain seperti kakao dan mete bahkan bisa mengalami lonjakan nilai hingga 38 kali lipat. Sementara itu, kelapa sawit telah diolah menjadi biofuel B50 yang dapat menggantikan solar.

Di hadapan mahasiswa, Mentan juga menyoroti peran strategis generasi muda dalam mendukung agenda hilirisasi melalui riset dan inovasi.

Baca Juga: Jangan Abaikan! Ini 7 Aturan Penting UMPTKIN 2025 yang Wajib Diikuti

Mahasiswa S2 dan S3, kata dia, harus terlibat aktif dalam pengembangan industri pertanian berbasis teknologi.

Tak hanya itu, Mentan mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyusun strategi investasi pertanian yang berdampak langsung kepada masyarakat.

Investasi yang disiapkan mencapai Rp371 triliun, dengan potensi keuntungan hingga Rp9.000 triliun serta penciptaan delapan juta lapangan kerja.

“Kebijakan kita sekarang difokuskan langsung kepada petani dan masyarakat. Ini bukan sekadar proyek, tapi transformasi besar untuk kemajuan bangsa,” ujarnya.

Selain itu, Andi Amran Sulaiman juga menyoroti krisis pangan global yang kini melanda 58 negara

LMenurutnya, krisis pangan bukan sekadar masalah ekonomi dan kesehatan, tapi juga berpotensi memicu konflik sosial serta politik.

“Kalau kebijakan bermasalah, maka negara juga akan bermasalah. Maka dari itu, sektor pertanian harus diperkuat dari hulu ke hilir,” tegas Mentan Amran, yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas).

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementan mengambil sejumlah langkah strategis. Di antaranya, refocusing anggaran agar tepat sasaran, penyederhanaan 241 regulasi yang menghambat produksi, dan peningkatan sarana serta infrastruktur pertanian.

Baca Juga: Vasaka Hotel Makassar Berbagi Kurban, Ojol hingga Pedagang Kecil Kebagian

Upaya ini mulai membuahkan hasil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional pada Januari–Juli 2025 mencapai 21 juta ton, naik 14,49 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Bahkan laporan USDA memperkirakan total produksi beras Indonesia tahun ini bisa mencapai 34,6 juta ton, melampaui target 32 juta ton.

Penghargaan pun datang dari dunia internasional. Pada 30 Agustus 2024, Food and Agriculture Organization (FAO) menganugerahkan Agricola Medal kepada Pemerintah Indonesia atas kontribusinya dalam memperkuat ketahanan pangan global.

Tak hanya soal data dan strategi, Mentan Amran juga membagikan pesan motivasi kepada mahasiswa. “Kalau ingin jadi pemimpin, harus punya inovasi. Kalau tidak, rezekinya rata-rata air. Mau sukses, harus ditekan seperti berlian di suhu tinggi. Kalau tidak ada tekanan, cari tekanan. Cari tantangan besar,” ujarnya.

Mentan Amran menegaskan bahwa pertanian adalah keunggulan komparatif Indonesia. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya integritas dalam kepemimpinan.

***