POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat Prof Dwikorita Karnawati menyebutkan 6 wilayah rawan bencana di Sulsel saat mudik lebaran.
Dwikorita Karnawati mengatakan, wilayah-wilayah di Sulsel yang rawan bencana saat mudik lebaran, yaitu Toraja, Luwu, Enrekang, Bone, dan wilayah timur tenggara.
Dwikorita Karnawati mewanti-wanti wilayah utara berpotensi terjadi banjir bandang dan longsor, yang juga terdapat jalur mudik lebaran.
Baca Juga: Unsulbar Terapkan Seleksi Berlapis PMB Prodi Kedokteran, Utusan Daerah Kembali Dites
"Karena wilayah Sulawesi Selatan bagian utara, seperti Toraja, Luwu, Enrekang, dan Bone, termasuk wilayah Timur Tenggara, saat ini memasuki puncak musim hujan pada bulan Maret dan April," katanya.
Prof Dwikorita mengatakan, puncak musim hujan di Sulsel masih akan terjadi pada bulan Maret dan April.
"Wilayah Tenggara rawan banjir, bahkan mungkin banjir rob," katanya.
Baca Juga: Inilah Dua Perwira Polri Promosi Jabatan ke Polda Sulbar di Bulan Maret, Ada Mantan Kapolres
Karena itu, Prof Dwikorita menegaskan pentingnya koordinasi dalam mengamankan dan mengelola risiko, misalnya dengan rekayasa lalu lintas buka tutup.
"Jika ada peringatan dini BMKG di zona rawan longsor, mungkin sementara waktu tidak ada kendaraan yang melintas, karena peringatan dini tersebut biasanya berlaku hingga 3 jam," terangnya.
Sementara itu, Sekprov Sulsel Jufri Rahman menjelaskan, bahwa kunjungan Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati untuk memberikan data terkait potensi daerah rawan bencana di Sulawesi Selatan, khususnya dalam menghadapi arus mudik lebaran.
Baca Juga: Link Mirror Pengumuman SNBP 2025 UNM Makassar: Alternatif Jika Situs Utama Sulit Diakses
"Kami menerima kunjungan Kepala BMKG Pusat dan menerima data terkait potensi daerah rawan, khususnya untuk mudik Lebaran nanti. Seperti kita ketahui, di daerah utara Provinsi Sulawesi Selatan ini kemiringan medannya cukup ekstrem sehingga potensi longsor sangat besar," ucapnya.
Karena itu, lanjutnya, dengan data yang diberikan BMKG, pemerintah dapat segera melakukan mitigasi melalui Tim Terpadu Tanggap Bencana.
Data tersebut sudah tersedia sejak 6 hari, 3 hari, bahkan real-time mulai terlihat sejak 3 jam hingga 30 menit sebelumnya. Dengan demikian, potensi bencana sudah dapat diketahui lebih awal.
Jufri menjelaskan bahwa data potensi longsor yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, agar alat berat dapat disiapkan di sekitar lokasi potensi longsor.
Kemudian, Dinas Perhubungan bersama Polres setempat dapat melakukan rekayasa lalu lintas dengan sistem buka tutup jalan untuk menghindari bencana bagi para pemudik.
Baca Juga: Chaidir Syam Datangi Bank Sulselbar Pastikan THR PNS dan PPPK Telah Dibayarkan, TPP Menyusul
"Kemudian BPBD dan Dinas Sosial juga dapat melakukan evakuasi jika terjadi longsor. Data ini sangat penting karena menyangkut keselamatan manusia," jelasnya.
Selain itu, kata Jufri Rahman, BMKG juga berupaya menjamin keselamatan pelayaran di selat antara Selayar dan Jeneponto dengan membangun radar untuk mendeteksi gelombang laut.
***




