H. Muh Tonang, S.Ag., M.Ag., adalah nama yang akan selalu dikenang dalam sejarah keagamaan dan birokrasi Sulawesi Selatan (Sulsel). Muh Tonang adalah seorang pemimpin yang bukan hanya menjalankan tugasnya dengan profesionalisme tinggi, tetapi juga melakukannya dengan hati yang tulus. Sosok kelahiran Desa Sanrego, Kabupaten Bone, pada 14 September 1974 ini, meninggalkan jejak kehidupan yang mendalam dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Awal Kehidupan: Titian Mimpi dari Desa Sanrego
Muh Tonang tumbuh di lingkungan sederhana di Sanrego, Bone. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketekunan dan semangat belajar yang luar biasa. Didikan keluarga yang religius menanamkan nilai-nilai keislaman yang kuat dalam dirinya. Sejak usia dini, ia telah bercita-cita menjadi seseorang yang bermanfaat bagi agama dan masyarakat.
Langkah pertamanya dimulai dengan melanjutkan pendidikan di Pesantren Ma’had Hadis Biru. Di sini, ia tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab yang kelak menjadi fondasi kuat dalam perjalanan kariernya.
Baca Juga: Hanya 2 Kecamatan Tidak Terendam Banjir di Kabupaten Maros, BPBD Tetapkan Darurat Bencana
Mimpi-mimpinya semakin jelas saat ia menempuh pendidikan tinggi di IAIN Alauddin Makassar, tempat ia berhasil meraih gelar Sarjana dan Magister di bidang Tafsir Hadis. Gelar tersebut menjadi bukti dari dedikasi dan kecintaannya terhadap ilmu agama.
Karier: Perjalanan Panjang di Jalan Pengabdian
Tahun 2003 menjadi awal karier birokrasi H. Muhammad Tonang di Kementerian Agama. Ia memulai langkah kecil sebagai staf di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone.
Namun, seperti air yang selalu mencari jalannya, dedikasinya membawa beliau ke posisi-posisi yang lebih besar. Tahun 2004, ia ditugaskan di Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan sebagai staf Humas.
Baca Juga: Garuda Asta Cita Nusantara Gelar Aksi Peduli, Bantu Korban Kebakaran di Kemayoran Jakarta
Langkah demi langkah, karier beliau terus menanjak. Berbagai posisi strategis pernah diembannya, seperti:
- Kepala Seksi Kemasjidan Bidang Penamas (2009)
- Kasubag Humas dan Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kanwil Kemenag Sulsel (2010-2013)
- Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Maros (2020)
- Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Kabid Urais Bimsyar) Kanwil Kemenag Sulsel (2021)
- Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sulsel (2022)
Puncak pengabdiannya tercapai pada 26 Maret 2024, saat Beliau diangkat sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Jabatan ini adalah amanah besar yang beliau emban dengan penuh tanggung jawab, menunjukkan integritas dan kerja keras yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Dedikasi di Organisasi Keagamaan
Di luar karier birokrasi, H. Muhammad Tonang juga aktif di berbagai organisasi keagamaan. Beliau menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan periode 2013-2017 dan Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan. Kiprah ini menegaskan betapa besar perhatian beliau terhadap pembinaan generasi muda dan peningkatan harmoni keagamaan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Dharma Wanita Persatuan Maros Anjangsana pada 3 Desa, Sasar Korban Kecelakaan Kerja dan Warga Sakit
Kematian: Kepergian yang Mendalamkan Luka
Namun, takdir berkata lain. Pada 19 Desember 2024, H. Muhammad Tonang mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta, dalam usia 50 tahun. Kepergiannya yang mendadak membuat banyak pihak terkejut dan merasa kehilangan. Beliau wafat di tengah pengabdiannya, meninggalkan pekerjaan yang masih ingin beliau selesaikan untuk masyarakat Sulawesi Selatan.
Berita duka ini menyebar cepat, menyisakan duka mendalam di hati keluarga, rekan kerja, dan masyarakat luas. Sosok beliau yang selalu ramah, rendah hati, dan penuh semangat menjadi kehilangan besar bagi semua yang mengenalnya.
Warisan dan Inspirasi: Semangat yang Tak Pernah Padam
Meskipun H. Muhammad Tonang telah tiada, warisannya akan terus hidup dalam setiap langkah perubahan yang telah ia bawa. Dedikasinya dalam membangun harmoni keagamaan, membina generasi muda, dan meningkatkan layanan birokrasi adalah teladan yang akan terus diingat.
Baca Juga: Bappenas Kawal Perencanaan Anggaran Stunting Lewat Penguatan Analisi Situasi Berbasis Data
Kepergian beliau mengingatkan kita akan pentingnya menjalani hidup dengan sepenuh hati, memberikan yang terbaik dalam setiap peran yang kita jalani. Seperti yang telah ditunjukkan oleh beliau, hidup adalah tentang mengabdi, tentang memberikan makna bagi orang lain, dan tentang meninggalkan jejak yang akan terus dikenang.
Meskipun beliau telah pergi, semangatnya tetap menyala. Kita, yang masih melanjutkan perjalanan hidup ini, harus belajar dari beliau untuk tidak menyerah, untuk terus bekerja keras, dan untuk selalu memberikan manfaat bagi sekitar. Seperti yang beliau tunjukkan, hidup adalah tentang meninggalkan warisan yang abadi, bukan hanya dalam bentuk karya, tetapi juga dalam bentuk cinta, inspirasi, dan keteladanan.
H. Muhammad Tonang mungkin telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta, tetapi kisah hidupnya akan terus menjadi pelita yang menerangi jalan kita semua. Selamat jalan, bapak pengabdi umat. Terima kasih atas semua pelajaran dan semangat yang telah engkau tinggalkan. Kami berjanji untuk melanjutkan perjuanganmu, dengan penuh cinta dan harapan.
Penulis:
Muhammad Sukri
(Kepala Perpustakaan IAIN Manado)



